Duh, Praktik Prostitusi Menjalar ke Cikupa?

Prostitusi
Ilustrasi/ Inet

CIKUPA – Tempat prostitusi marak di Kecamatan Cikupa. Hasil catatan pihak kecamatan setempat ada tujuh lokasi. Dari warung makan, rumah kos, dan tempat hiburan seperti karaoke. Transaksi pun bisa ditemukan di tepi jalan. Dikhawatirkan, jika ini tidak segera ditertibkan, Cikupa akan menjadi lahan subur penjaja kenikmatan haram.

Camat Cikupa Hendar Herawan membenarkan hal tesebut. Mayoritas lokasi esek-esek berada di Desa Cikupa, Kelurahan Bunder, dan Desa Cibadak. ”Kita akan cek lagi keberadaannya,” katanya, Minggu (15/11/2015).

Hendar mengungkapkan, wilayahnya kini menjadi sasaran munculnya tempat asusila. Itu lantaran kawasan ini sedang tumbuh perekonomiannya. Sehingga sektor lain juga ikut tumbuh. Selain itu adanya masalah sosial yang ikut memicu keberadaan tempat tersebut.

Dirinya juga menuding banyaknya pekerja sek komersial (PSK) yang lari ke wilayahnya lantaran di Kota Tangerang telah menerapkan Perda Anti Maksiat. Selain itu pusat prostitusi terbesar di Indonesia yakni Dolly di Surabaya yang ditutup. ”Otomatis mereka banyak mengungsi ke sini,” katanya.

Maraknya tempat asusila di Cikupa pihak kecamatan setempat akan menggandeng ormas keagaman, MUI dan aparat penegak memberikan pemahaman kepada mereka. Bila dalam dua atau tiga kali tidak dindahkan maka lokasinya akan ditutup paksa.

Sementara, Lurah Bunder Dien Muhidin mengatakan, wilayahnya termasuk adanya tempat asusila itu. Seperti di Kampung Rawa Bebek yang berada di tengah-tengah industri. Tempat asusila itu sudah ditertibkan sekira setahun lalu namun muncul kembali. ”Jadi kami sedikit kerepotan,” katanya.

Menurutnya, adanya tempat asusila tersebut harus menjadi tantangan bagi pengurus Majelis Ulama Indoensia (MUI) Kecamatan Cikupa. Selain itu ormas keagamaan lain. Setidaknya dengan ada lembaga-lembaga itu maka keberadaan mereka bisa segera dihilangkan di sini. (RB/iws/ful)