Duh, Ternyata Punya Suami Lagi (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Dalam berumah tangga, terlalu percaya pada pasangan ternyata bukan langkah tepat. Apalagi memberikan kebebasan sehingga pasangan bisa wara-wiri tanpa pengawasan. Ibarat kata Bang Napi, waspadalah… waspadalah. Sebab perselingkuhan muncul tidak hanya karena niat, namun juga karena ada kesempatan.

Seperti pada kasus rumah tangga pasangan Dubleh (30) dan Kasih (28), keduanya nama samaran. Mereka mengalami perpecahan lantaran Kasih kedapatan memiliki lelaki idaman lain. Kasus ini telah mendekam lama di Pengadilan Agama. Kasus perceraian pasangan ini memang sulit diselesaikan. “Sebut saja, kami belum kompak ingin bercerai,” ujar Dubleh.

Dubleh mengatakan, pada kasusnya ini, Kasih lah yang mengajukan gugatan cerai. Sementara Dubleh menolak untuk diceraikan Kasih. Lah, pihak yang salah ingin cerai tapi kok si korban menolak dicerai? Sepertinya ada yang terbalik ini.

Biar tidak membingungkan, Dubleh menceritakan tentang kisah rumah tangganya. Ini dimulai dari Dubleh yang sulit mendapatkan pasangan. Penampilan yang super cuek serta kualitas muka di bawah rata-rata, membuatnya jauh dari mata kaum hawa. “Saya ini enggak pintar merayu, kalau ngomong juga ya seperlunya. Kalau ketemu perempuan, saya enggak pernah dilirik. Bahkan ketika sedang mendekati seseorang cewek, selalu saja disikat teman dekat. Habisnya si cewek pun lebih suka teman saya,” katanya.

Sebagai karyawan perusahaan perkapalan, Dubleh sebenarnya tidak terlalu miskin. Ia bisa saja merawat diri ke salon dan membeli baju-baju bagus. Persoalannya, dia tidak tahu cara berpakaian yang benar. Dubleh juga malu masuk ke salon untuk merawat wajahnya. “Saya pernah ditawari perawatan muka. Lah maskeran itu kan buat perempuan, bukan laki-laki,” jelasnya.

Ternyata persoalan prinsip pun menjadi faktor tambahan, selain dari muka pas-pasan dan penampilan urakannya itu. Gara-gara hal tersebut, orangtua Dubleh menjadi resah mengingat anaknya sulit mendapatkan jodoh.

Karenanya, sang ibu berinsiatif mencarikan istri untuk Dubleh. Didapatlah Kasih, santriwati yang tengah belajar di pesantren kampung halaman. “Kasih itu orang luar, tapi pesantren di tempat kelahiran saya,” terang Dubleh.

Si ibu merayu Kasih agar ingin menjadi istri Dubleh. Iming-iming penghasilan Dubleh yang tinggi menjadi salah satu bujuk rayu si ibu. Ternyata rayuan ibu mempan, Kasih mau menerima perjodohan itu. Ia pun tidak keberatan dengan tampang Dubleh setelah dipertemukan.

Sebelum naik pelaminan, Kasih meminta waktu untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan Dubleh. Selama pendekatan berlangsung, tanpa diketahui si ibu, Kasih meminta sejumlah syarat. “Kasih ingin agar saya menghormati sejumlah privasi. Khususnya tidak memeriksa isi HP,” katanya.

Dubleh yang memang cuek tentu tidak keberatan. Karenanya Kasih memantapkan diri untuk menikah dengan Dubleh. “Syarat disetujui, Kasih akhirnya saya nikahi. Pernikahannya pun tidak terlalu besar, padahal saya mampu saja menyewa gedung,” katanya.

Setelah menikah, Kasih kemudian tinggal di rumah kontrakan Dubleh. Satu tahun kemudian, Dubleh membawa Kasih tinggal di perumahan. “Ada cicilan rumah, saya ambil. Kami kemudian tinggal di rumah itu,” katanya.

Saat tinggal di rumah kontrakan, Kasih setia menunggu di rumah. Namun setelah pindah ke rumah tinggal, ada yang berubah dari Kasih. Dia mengajukan permintaan untuk bisa bertemu orangtua dua minggu sekali. Katanya, agar orangtua tidak terlalu merasa kangen. “Saat mesantren, Kasih suka pulang sebulan sekali. Tapi selama tinggal di kontrakan, dia tidak pernah pulang. Karena itu dia ingin menengok keluarganya dua minggu sekali,” jelasnya. Bersambung…