Duka Warga Lebakgedong, Imah Beak Kabawa Cai

0
650 views
Warga mengangkut motor di Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak.

Banjir bandang di Kabupaten Lebak, Rabu (1/1) menyisakan duka. Umin, salah satunya. Harta bendanya hilang sekejap. Rumahnya terbawa arus yang datang tiba-tiba pada hari pertama Tahun Baru 2020.

Sorot mata Umin tampak kosong. Melamun di tepi Sungai Ciberang, yang melintasi Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak.

Duka memang menyelimuti pria paruh baya itu. Ia terasa belum percaya. Harta benda yang dikumpulkan susah payah hilang sekejab. “Imah beak kabawa cai (rumah hilang kebawa arus air),” lirih Umin saat awak Radar Banten mendekatinya, di tepi Sungai Ciberang, Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Minggu (5/1).

Tanpa suara, Umin lantas menunjuk lokasi bekas rumahnya. Telunjuk tangan yang sudah mengeriput itu mengarah persis ke hadapannya. Tempatnya berdiri, yang tak jauh dari jembatan Kampung Muhara, yang juga terbawa arus air. Aliran air dan bebatuan yang berserakan membekas duka dalam benak Umin. Mata pun berkaca-kaca saat menceritakan kisahnya. “Tinggal pasrah lihat rumah kena banjir. Enggak bisa ngapa-ngapain lagi,” ucap Umin lirih.

Peristiwa mencekam di awal tahun bermula saat hujan mengguyur Kampung Muhara dan sekitarnya, pada Rabu (1/1) dini hari, sekira pukul 03.00 WIB. Berjam-jam tak reda, pukul 09.00 WIB debit air mulai naik.

Belum kunjung hujan surut, longsor menyusul dari tebing yang mengelilingi kampung. Pohon-pohon tumbang, juga tiang-tiang penyangga listrik di tepian jalan. Akses jalan pun tertutup lumpur dan reruntuhan longsor.

Belum selesai kepanikan warga, dua jembatan di kampung Muhara ikut ambles. Besi-besi penyangga jembatan tak kuat menahan deras arus air. Jembatan yang berjarak sepuluh langkah dari muara pertemuan Sungai Ciberang dan Ciladaeun hanyut terbawa kuatnya arus air. Desa Muhara terbelah dua. Terisolasi dari desa yang lain. Satu sisi akses jalan tertimbun longsor. Sisi yang lain, jembatan penghubung akses jalan terputus. Gelap, lantaran listrik pun padam.

Kini aliran sungai telah menyurut, meski air masih keruh. Sekeruh sisa lumpur dan bebatuan gunung yang tampak berserakan. Juga rumah-rumah yang reyot sepanjang tepi aliran sungai.

Umin bukan satu-satunya warga yang kehilangan harta benda dan rumahnya. Ada puluhan warga lain yang rumahnya luluh lantak. Hancur, bahkan hanyut tanpa bekas diterjang air bah. “Total rumah yang hanyut ada 18 rumah,” kata Kepala Desa Ciladaeun Yayat Dimyati di posko utama Kampung Muhara.

Dirinya belum memastikan berapa total kerugian akibat banjir dan longsor. Pendataan awal ada sekira 68 rumah yang rusak parah dan sedang. Itu belum termasuk harta benda warga selain rumah yang hanyut terbawa banjir dan tertimbun longsor.

Secara administrasi Desa Ciladaeun terbagi menjadi empat rukun warga (RW) dan 18 rukun tetangga. Jumlah penduduknya sekira 3.682 jiwa yang terbagi dalam 1.143 kepala keluarga (KK). “Sebagian masih ada di sini, sebagian lagi mengungsi ke rumah saudara,” kata Yayat.

Dari penuturannya, warga sudah terbiasa dengan banjir. Hanya saja, banjir kali ini di luar dugaan. Belum lagi berbarengan dengan longsor. “Semua (warga) terisolasi ke sini putus (jalan tertutup reruntuhan longsor) ke sana putus (jembatan ambles). Tapi sekarang mulai dibuka meski mobil belum bisa masuk,” ujarnya.

Terputusnya akses jalan membuat desa terisolasi. Namun, perlahan reruntuhan longsor sedang dibuka menggunakan alat berat. Meski kendaraan roda empat dan roda dua belum bisa melewati kampung, bantuan logistik mulai lancar. “Bantuan sudah datang juga dari provinsi. Doakan mental dan psikologi warga pulih lagi,” kata Yayat. (Ken Supriyono)