Ekonomi Bisa Tumbuh Hingga 5,5 Persen

0
2523

JAKARTA – Di tengah situasi pandemi Covid-19 pemerintah optimistis perekonomian Indonesia tetap akan tumbuh pada tahun 2021. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyampaikan, Kementerian Keuangan memprediksi ekonomi akan tumbuh berkisar 4,5 persen hingga 5,5 persen year on year (yoy) dengan titik tengah sebesar 5 persen yoy.

Proyeksi itu masih sama dengan prediksi sebelumnya, meski Badan Pusat Statistis (BPS) telah merilis pertumbuhan ekonomi 2020 minus 2,07 persen yoy. Pencapaian ini, lebih rendah prediksi pemerintah yakni minus 1,7 persen sampai minus 2,2 persen secara tahunan, secara rata-rata yakni 1,95 persen yoy.

“Pertumbuhan ekonomi akan meningkat di rentang 4,5 persen-5,5 persen pada 2021. Ini sejalan dengan prediksi beberapa institusi internasional terhadap pertumbuhann ekonomi di tahun ini,” kata Suahasil dalam acara bertajuk Indonesia Economic Outlook 2021, Senin (8/2), sebagaimana dilansir Kontan.

Agar pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa pulih, menurut dia, otoritas fiskal telah menganggarkan dana sebesar Rp 619,83 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 yang dialokasikan dalam lima program.

Pertama, penanganan kesehatan termasuk vaksinasi Rp 124,96 triliun. Kedua, perlindungan sosial Rp 148,66 triliun. Ketiga, program prioritas kepada Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemda Rp 141,36 triliun. Keempat, dukungan Usaha Mikro Kecil Menengah UMKM), korporasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rp 157,57 triliun. Kelima insentif usaha dalam bentuk perpajakan Rp 47,27 triliun.

“Untuk memastikan pemulihan ekonomi bisa terjadi di Indonesia. Kita berharap, ekonomi akan berlanjut membaik di 2021,” ujar Suahasil.

Meski begitu, Suahasil menyampaikan ada empat faktor yang akan mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2021. Pertama, penularan virus corona masih eskalatif baik secara global dan lokal. Kedua, program vaksinasi mulai berjalan. Suahasil bilang vaksinasi menjadi faktor positif menekan penularan dan pengembalian confidence masyarakat untuk kembali melakukan aktivitas ekonomi. Ketiga, APBN 2021 ekspansif dan difokuskan untuk melanjutkan penanganan pandemi dan memperkuat pemulihan ekonomi melalui realokasi dan belanja produktif serta penguatan program PEN. Keempat, implementasi reformasi struktural melalui aturan turunan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan pembentukan Indonesia Investment Authority (INA). Hal ini dapat mendorong ease of doing business, penciptaan lapangan kerja, dan memperkuat investasi pada periode pemulihan ekonomi. 

Pada bagian lain, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan, perekonomian Indonesia berada di titik lebih baik dibandingkan negara lain, seperti Fillipina, Singapura, Jerman, Italia, Perancis, hingga Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sepanjang 2020 hanya terkontraksi 2,07 persen (yoy). Adapun realisasi kuartal IV sebesar minus 2,19 persen atau lebih baik dibandingkan kuartal III 3,49 persen.

“Asia Tenggara seperti Fillipina dan Singapura kemudian di dunia ada Italia, Perancis, Jerman, AS, juga negatif. Tetapi kita di titik yang pasti jauh lebih baik,” kata Erick Thohir dalam acara Konvensi Nasional Media Massa di Jakarta, Senin (8/2), yang dilansir JPNN.

Erick Thohir menuturkan ekonomi Indonesia akan benar-benar terakselerasi secara baik pada 2022. Namun, dia mengakui, tahun ini merupakan momentum transisi.

“Basis pembicaraan saya bisa juga dilihat hari ini, di mana di akhir 2020 secara kuartal IV masih banyak negara pertumbuhannya negatif,” kata Erick Thohir. Dia menegaskan, dalam rangka mengakselerasi perekonomian yang lebih baik tahun depan, pemerintah fokus untuk mengatasi krisis utamanya, yakni pandemi Covid-19. (bie)