Baru juga merasakan hidup mapan, Joko (36) nama samaran, sudah lupa daratan. Berjuang dengan sang istri, sebut saja Munah (30), membangun usaha perkebunan singkong dan umbi-umbian lainnya milik keluarga sampai mampu menunjang ekonomi rumah tangga, Joko tak mampu menahan godaan kehidupan. Punya banyak uang, membuatnya malah sering kalayapan. Sontak hal itu membuat Munah geram.

Paras cantik Munah saat ditemui wartawan di wilayah Ciomas masih terlihat. Meski sudah paruh baya, gaya berpenampilan Munah tak kalah dengan artis dangdut Cita Citata. Kulitnya juga mulus, cocok dengan paduan pakaian yang dikenakannya, yakni rok hitam selutut dan kemeja putih dengan rambut yang tergerai indah, Munah penuh semangat menceritakan kisah cintanya bersama Joko dulu. Penasaran? Kita simak yuk ceritanya.

Munah adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak tertua, Munah cukup punya peran besar dalam keluarga. Tak jarang Munah menjadi penentu hasil musyawarah keluarga dalam menentukan keputusan apa pun di rumah, selain ayahnya. Termasuk cara membagi-bagi tanah warisan.

Munah tumbuh sebagai anak didik yang baik dan mandiri. Meski kehidupannya tak kekurangan, Munah tak malu membantu usaha orangtuanya berjualan makanan ringan. Di kalangan teman-teman sekolah dan teman mainnya, Munah dikenal sebagai perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Orangnya juga terbuka dan tidak perhitungan. Wajah Munah sederhana, tapi karismatik. Lekuk tubuhnya juga indah sehingga mampu menghipnotis kaum Adam yang mengenalnya.

Lain Munah lain pula Joko yang memiliki wajah tampan nan rupawan dan bertubuh tinggi kekar. Namun, kehidupan ekonomi Joko tak seberuntung Munah. Joko terlahir dari kalangan keluarga tidak mampu. Ayahnya hanya buruh tani. Berbeda 180 derajat dengan karakter Munah, Joko pada masa mudanya termasuk pemalas, tak mau bekerja, gengsinya juga tingggi. Joko lebih memilih menikmati kekurangan asal tidak berprofesi sama seperti ayahnya yang hanya seorang buruh tani.

Untungya, Joko di mata orang lain dikenal sosok lelaki yang sopan, humoris, dan low profile. Orangnya juga asyik, kalau diajak ngobrol nyambung. Sikap itu pula yang kerap membuat para wanita yang sudah merasakan dekat dengan Joko akan terpana dibuatnya. Singkat cerita, Joko bertemu dengan Munah di kampungnya. Maklum mereka satu kampung. Karena sering berpapasan, akhirnya keduanya berkenalan. Sejak itu mereka jadi sering jalan berdua. Merasa ada kecocokan, hubungan mereka pun berlanjut hingga menjalin asmara. Munah menerima kekurangan Joko yang ekonominya terbatas. Makanya, selama pacaran hanya Munah yang sering mengeluarkan isi dompet saat makan bareng, jalan-jalan bareng, tapi enggak sampai tidur bareng ya. Pokoknya, banyak pengorbanan Munah untuk Joko. Beruntung banget pokoknya Joko.

“Dianya (Joko-red) juga enggak macem-macem orangnya. Makanya, dulu saya oke-oke saja mengeluarkan duit buat dia. Namanya juga sayang,” ucap Munah. Cieee cieee.

Setahun lebih menjalin kasih, hubungan keduanya berlanjut ke pelaminan. Beruntung keluarga Munah menerima lamaran Joko yang kehidupannya jauh lebih sederhana. Maklum, keluarga Munah tidak matrealistis, yang penting Munah mendapat imam yang bertanggung jawab, meskipun saat itu Joko statusnya masih pengangguran. Mungkin pemikiran keluarga Munah dulu, rezeki bakal mengikuti kalau sudah menikah, daripada jadi zina. Pernikahan mereka pun berlangsung meriah. Para tamu undangan memberi doa kebahagiaan bagi Munah dan Joko.

Pada awal awal pernikahan, Joko sosok suami yang penuh perhatian dan selalu memberikan kenyamanan bagi istri tercinta hingga mereka hidup bahagia sampai lahirnya anak pertama satu tahun kemudian. Tak perlu lama untuk Munah dan Joko mempunyai momongan. Sejak dikaruniai si buah hati, kehidupan keluarga Munah dan Joko semakin harmonis.

Diceritakan Munah, kehidupan rumah tangga bersama Joko terbangun berkat jasa ayahnya. Sejak ayahnya meninggal karena serangan jantung, lahan kebun yang mencapai berhektare-hektare biasa digarap keluarga diwariskan kepada sang suami. Mau tak mau, Joko harus bertindak demi menyelamatkan kehidupan rumah tangga. Awalnya, berbagai jenis pekerjaan sudah Joko coba, mulai dari menjadi pelayan toko sembako sampai menjadi penjual sandal keliling. Seiring waktu, pihak keluarga Munah berniat menjual tanah persis di belakang rumah untuk menopang kehidupan rumah tangganya. Namun, Joko melarangnya dan berencana melanjutkan usaha kebun pisang milik keluarga Munah. Belajar dari sang paman, Joko mulai menekuni bertani.

Berkat keuletan Joko, lahan pertanian yang digarapnya membuahkan hasil. Semakin hari sejak kebun digarap Joko, ekonomi keluarga Munah terus mengalami perubahan ke arah lebih baik. Namun, ada pepatah, semakin tinggi pohon semakin besar angin menerpa. Sikap sang suami Munah pun demikian. Semakin hari semakin meningkat usaha kebun yang digarap Joko. Sayangnya, semakin maju usaha semakin membuat Joko lupa diri. Bahtera rumah tangga yang dibangun mereka nyaris kandas hanya gara-gara tergoda oleh janda. Janda lebih menggoda kayaknya nih pikir Mas Joko. Ibarat kata, rumput tetangga lebih hijau, nah mungkin saja punya Munah sudah jadi ilalang kali.

“Dulu itu Kang Joko bukan siapa-siapa, karena dia mau belajar, tekun, ulet, jadinya bisa mengembangkan pertanian. Hasilnya, alhamdulillah, bisa dirasakanlah,!” ujar Munah.

Namun, bukannya Joko membahagiakan istri karena usahanya, malah tak kuat menahan godaan. Sudah punya harta dan takhta, ujung-ujungnya tergoda wanita, janda pula. Sejak itu, biduk rumah tangga mereka pun mulai diselimuti prahara. “Jadi kaya bukannya tambah mesra, malah bikin saya menderita. Mas Joko, Mas Joko,” keluhnya.

“Tahu bakal begini, mending dulu tanah dijual saja,” sinisnya.

Sejak ada isu Joko tergoda janda, suaminya jadi jarang pulang ke rumah. Mengetahui ada yang tidak beres dengan perangai suami, tak jarang pula emosi Munah tak terkendali. Setiap Joko pulang telat ke rumah, Munah langsung melemparinya dengan pisang dan singkong yang ada di rumah hasil panen. Wadaw. “Biar tahu rasa dia, baru juga usaha maju sedikit, sudah selingkuh saja,!” gerutu Munah.

Apalagi, Munah pernah mendengar Joko yang sedang puber sama tuh janda sempat mengirimkan pisang satu mobil pikap untuk pernikahan adik sang janda demi mendapat perhatian lebih. Astaga. Munah mengetahui tingkah buruk suami dari mata-mata yang sengaja diminta Munah untuk membuntuti pasca perubahan sikap suami. Tak tahan dengan tingkah laku suami, Munah akhirnya meninggalkan Joko dengan penuh penyesalan. Tiga minggu Munah tidak menemui Joko. Atas nasihat ibu dan saudaranya, Munah mau memaafkan sang suami hingga keduanya memutuskan untuk rujuk kembali. Sabar ya Mbak Munah, semoga Mas Joko sadar dan tidak mengulangi kesalahannya lagi. Amin. (mg06/zai/ira)