Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tidak Realistis

0
920 views
Para petani memanen padi di area persawahan Kramatwatu, Kabupaten Serang, beberapa waktu lalu.

SERANG – Pemprov Banten menargetkan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) tahun 2021 mencapai 5,20 persen. Target itu dinilai sejumlah pengamat ekonomi tidak realistis.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan masih belum membaik untuk semua provinsi maupun nasional. Target pertumbuhan ekonomi di atas empat persen terlalu berlebihan. “Memang kita harus optimis, tapi prediksi saya untuk tumbuh satu persen pun akan sangat sulit dicapai,” kata Huda kepada Radar Banten, Selasa (3/11).

Ia menuturkan, target tinggi yang dipasang Pemprov Banten yang dituangkan dalam RAPBD 2021 hanyalah sebagai sebuah harapan dan itu sah-sah saja. “Kelihatannya Pemprov Banten sangat mengandalkan program pinjaman daerah ke pusat senilai Rp4,1 triliun tahun depan, untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi daerah,” tuturnya.

Pandemi Covid-19, lanjut Huda, telah membuat target pendapatan semua daerah mengalami penurunan tahun depan. Selain mengandalkan pinjaman dana dari pusat, daerah berharap pada program vaksin Covid-19 yang digadang-gadang berlaku efektif pada 2021.

“Bayangan saya, kalau vaksin akan efektif tahun depan. Itu pun hanya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi paling tinggi hanya dua persen,” bebernya.

Huda menyarankan, Pemprov Banten mulai dulu dari mengakselerasi konsumsi rumah tangga lewat bantuan sosial. Hal ini didasarkan pada kontribusi konsumsi rumah tangga yang relatif besar terhadap PDB. Bantuan berupa uang tunai akan lebih efektif. Selain itu, pemprov juga harus melakukan perbaikan SDM untuk mempersiapkan kebutuhan SDM setelah pandemi berakhir.

“Untuk bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi di daerah, pemerintahan harus berjalan lebih efektif tahun depan. Dimulai dari itu saja dulu,” pungkasnya.

Senada, pengamat ekonomi Untirta, Hady Sutjipto mengatakan, untuk menargetkan pertumbuhan ekonomi Banten tahun depan, mestinya pemprov menunggu data dari BPS terkait LPE pada triwulan III dan IV tahun 2020.

“Sebelum pandemi covid, ekonomi Banten triwulan I tahun 2020 (Januari-Maret) tumbuh 3 persen lebih, namun pada triwulan II (April-Juni) ekonomi Banten langsung minus 7,40 persen akibat pandemi,” katanya.

Ia menduga, pertumbuhan ekonomi Banten triwulan III (Juli-September) dan IV (Oktober-Desember) tetap minus, terlebih pada awal Oktober lalu terjadi aksi mogok kerja dan unjukrasa buruh menolak UU Cipta Kerja ditengah pandemi, itu tentu berdampak besar terhadap perekonomian daerah dan nasional.

“UU Ciptaker sejak dari awal sudah menimbulkan kontrovesi, bagaimana UU ini merevisi 76 UU lainnya dan Pemerintah dan DPR menyatakan Omnibus law ini penting untuk menumbuhkan investasi dan memperluas penyerapan tenaga kerja. Sementara kalangan yang menolak justru menilai UU Ciptaker ini terlalu menguntungkan investor dan mengorbankan nasib pekerja,” ujarnya.

Kalau reaksi buruh dan mahasiswa ini terus berlangsung di daerah hingga saat ini, tentu dikhawatirkan akan mengganggu siklus produksi industri yang ada.

“Dari sisi kesehatan, berkumpulnya massa demontrasi yang terkadang tidak memperhatikan protokol kesehatan dikhawatirkan pula terjadi penambahan jumlah kasus baru Covid-19. Ini juga berdampak pada anggaran penanganan covid,” jelasnya.

Agar tahun depan ekonomi Banten bisa tumbuh, Pemprov tetap harus fokus untuk melakukan pemulihan ekonomi nasional dan daerah. “Kalaulah benar UU Ciptaker ini memudahkan investasi bagi pengusaha lokal dan asing dengan regulasi yang lebih selaras dan sederhana, dan implikasinya membuka kesempatan kerja maka ini menjadi salah satu modal pemulihan ekonomi nasional di tengah resesi ekonomi yang terjadi saat ini melalui komponen investasi,  ekspor dan konsumsi,” tutur Hadi.

Namun bila sebaliknya, kebijakan ini justru akan memukul dunia usaha yang sebenarnya mulai menggeliat.

“Kita buktikan saja, jangan sampai pertumbuhan ekonomi semakin minus,” tutup Hadi.

Berdasarkan data BPS pada 5 Mei 2020, Ekonomi Banten triwulan Itumbuh 3,09 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 8,70 persen. Dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 4,19 persen.

Sementara pada 5 Agustus 2020, BPS Banten merilis Ekonomi Banten triwulan II terkontraksi 7,40 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan negatif didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan terendah dicapai Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar minus 47,00 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan negatif terdalam terjadi pada Komponen Pengeluaran Total Net Ekspor yang terkontraksi sebesar 49,12 persen. Sedangkan Ekonomi Banten triwulan III baru akan dirilis BPS pada 5 November 2020. (den/air)