Budayawan Banten Muhammad Alfarisi menunjukkan bangunan bekas gudang garam yang terbengkalai di Kelurahan Cimuncang, Kota Serang.

Hari menjelang senja. Suara kereta api terdengar sebelum menghentikan lajunya. Dalam dua gerbong kereta api itu, puluhan ton garam diangkut dari Jawa Timur untuk memasok kebutuhan warga Banten.

“Rutin, ada satu apa dua gerbong kereta pembawa garam untuk Banten,” kenang Parmin saat ditemui Radar Banten di kediamannya di Lingkungan Ciwarakas, Kelurahan Cimuncang, Kota Serang, Kamis (14/2).

    Pensiunan pegawai Perusahaan Jasa Kereta Api (sekarang PT Kereta Api Indonesia) itu adalah saksi hidup aktivitas bongkar muat pasokan garam di gudang garam milik perusahaan negara, yang berlokasi di Lingkungan Cimuncang Es, Kelurahan Cimuncang, Kota Serang.

    Samar-samar dalam ingatan pria kelahiran 78 tahun silam itu, aktivitas di gudang garam hanya berjalan hingga awal tahun 1970-an. Setelah tahun itu berlalu, Parmin tak lagi melihat aktivitas bongkar muat lagi. Pria yang merantau dari Solo itu pun tak tahu pasti penyebabnya. Parmin sendiri aktif di PJKA sejak tahun 1959 sampai akhirnya pensiun pada 1989.

Radar Banten menelusuri gudang ini. Namun, dari penelusuran ke kompleks bekas pegawai PJKA itu, tidak banyak data yang bisa digali.

    Kondisi gudang peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda itu sudah tidak terurus lagi. Bangunannya terbengkalai. Atapnya sudah tak ada, hanya menyisakan rangka reruntuhan. Temboknya yang berbahan batu bata dipenuhi lumut hijau. Semak belukar juga memenuhi sudut-sudut ruangan.

    Jalur rel pemberhentian kereta menuju gudang juga sudah tidak tampak. Tertutup tumpukan tanah. Juga tumbuhan yang tumbuh liar di area belakang gudang membuat lokasi ini tidak terawat.

    Bangunan sejarah di tengah ibukota Banten itu punya kenangan sendiri bagi Muhammad Alfarisi, anggota Dewan Kesenian Banten (DKB). Saat kecil, ia banyak menghabiskan waktu di bekas gudang garam tersebut. Apalagi, tempat tinggalnya tidak lebih dari 200 meter lokasi gudang.

    Namun, ia tidak tahu persis kapan bangunan itu didirikan. Sejarah lisan yang didapatkannya hanya menyebut bahwa eks gedung garam dibangun satu rangkaian dengan pembangunan rel ketera api yang menghubungkan Jakarta-Serang hingga Rangkasbitung.

    Di era 1965 sampai 1967, Alfarisi masih melihat aktivitas bongkar muat. Namun, setelah dirinya merantau ke Jogjakarta dan kembali ke Kota Serang pada 1990, ia hanya menyaksikan reruntuhan bangunan bersejarah itu. “Saya balik sudah reyot,” katanya.

    Kabar yang berkembang, gedung garam sudah dimiliki secara pribadi. Namun, tidak jelas siapa pemiliknya. “Katanya orang Jakarta. Dan, gosip di masyarakat, jati-jati yang dipakai untuk rangka bangunannya dibeli Ahmad Dhani. Tapi, saya tidak bisa pastikan,” ujar pria yang akrab disapa Faris.

    Lima puluh langkah dari gedung itu juga terdapat gudang bekas penyimpanan bahan makan dari berbagai daerah. Namun, gedung yang tepat di samping Stasiun Kereta Api Kota Serang itu kini hanya dipergunakan untuk gudang penyimpanan barang-barang PT Kereta Api Indonesia.

    Catatan sejarah pasti gedung eks gudang garam di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten juga tidak ditemukan. Pihak BPCB pernah menginvetarisasi bangunan tersebut pada 2004. Namun, pada 2014 dihapus karena tidak bukti yang jelas. “Kapan berdiri belum ada kajiannya dan kita hanya mencatatnya sebagai bangunan tua saja,” ujar Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Banten Julyadi.

    Julyadi membenarkan, gedung tua ini sudah dimiliki secara pribadi. Namun, penelusuran yang dilakukan pihaknya tidak menemukan siapa pemiliknya. “Informasi lisan yang kami dapat itu milik PT negara untuk gudang garam sejak zaman Belanda,” katanya.

    Selain gudang garam, di kawasan sekitar stasiun kereta api pada 1 Juli 1900, banyak bangunan tua yang khas bangunan Belanda. Di antaranya, kawasan kompleks rumah dinas PT KAI, sumur pengisian bahan bakar kereta api, dan rumah-rumah tua warga sekitar. Banguan tua adalah rangkaian sejarah di sudut ibukota Banten. (Supriyono)