Emosi, Istri Doyan Ngerumpi sama Laki-laki

Jamil (45) nama samaran, termasuk orang yang tak bisa menahan rasa cemburu terhadap istri, sebut saja Sofi (40), yang doyan ngerumpi. Bagaimana tidak, istrinya sering kepergok ngerumpi dengan lelaki berondong tetangga kosan. Dinasihati, Sofi malah emosi dan berani membentak suami yang membuat kondisi rumah tangga mereka nyaris kandas.

     Kejadian prahara rumah tangga itu terjadi belasan tahun lalu. Saat itu usia pernikahan mereka baru seumur jagung, sekira enam bulan.     Jamil awalnya cuek dengan kebiasaan istri yang doyan ngerumpi. Rasa cemburu Jamil timbul ketika mendangar banyak kabar tak sedap tetang istrinya yang suka ngerumpi dengan laki-laki, tetangganya sendiri, selama ditinggal bekerja.

     “Gila aja, gue capek kerja, dia enak-enakan curhat sama laki-laki, berondong lagi,” kesalnya. Sabar, Bang.

     Jamil ditemui Radar Banten di Kecamatan Kramatwatu. Jamil berprofesi sebagai tukang bakso keliling. Awalnya berbincang soal pekerjaan, lama-lama terpancing untuk menceritakan pengalaman pahitnya dalam membina rumah tangga. Penasaran dengan kisah Jamil?  Kita simak yuk ceritanya.

     Jamil dan istrinya merupakan pendatang dari Tangerang. Mereka memutuskan tinggal di Serang karena ada konflik keluarga yang tak merestui hubungan keduanya. Meski begitu, Jamil tetap berkomunikasi dan bersilaturahmi setahun sekali dengan orangtuanya.

     “Orangtua gue sudah tua dan diurus kakak. Jadi, mendingan tinggal jauh dari mereka supaya enggak ngerepotin,” akunya.

     Jamil mengaku bertemu dengan Sofi dalam acara ceramah mingguan di Masjid di kampungnya. Jamil mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat sosok Sofi yang memiliki wajah cantik, postur tubuh ideal, dan berkulit putih terlihat mempesona dengan balutan kerudungnya. Sementara Jamil orangnya jangkung, kurus, dan berkumis tipis. Tak butuh waktu lama bagi Jamil untuk berpikir mengajak Sofi berkenalan. Sejak itu keduanya yang memang sama-sama mempunyai ketertarikan mulai saling kenal. “Pas ketemu kedua kalinya langsung gue lamar,” ujarnya. Widih, sudah tidak tahan ya!

     Jamil merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Semua saudaranya sudah hidup berkecukupan. Ada yang menjadi pengusaha mebel dan kerja kantoran. Lain dengan Jamil yang saat masih bujangan belum punya pekerjaan alias pengangguran. Jamil masih ketergantungan orangtua. Meski begitu, lamarannya diterima oleh Sofi dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Salah satunya kehidupan keluarga Jamil berkecukupan. Lain dengan keluarga Sofi yang hidupnya sederhana.

     “Kakak gue sering nawarin kerjaan bagus, rumah, gaji puluhan juta. Tapi, gue enggak mau, gue pengin hidup mandiri,” katanya. Mandi sendiri gitu enggak kerja-kerja?

     Sebulan pascalamaran, Jamil dan Sofi pun menikah dan tinggal di rumah keluarga Jamil. Namun, kehadiran Sofi mendapatkan perlakuan kurang baik dari kedua orangtua Jamil yang memang menginginkan anaknya menikahi wanita dari keluarga sederajat. “Padahal pas lamaran dan prosesi pernikahan orangtua baik-baik aja. Tapi, pas kawin malah kayak enggak suka gue jadi suami Sofi,” keluhnya.

     Lantaran itu, Jamil memutuskan hijrah bersama istrinya ke Serang tiga bulan kemudian. Awalnya mereka menumpang di rumah teman, sampai kemudian Jamil mencoba peruntungan dengan menjalani profesi sebagai tukang bakso keliling. Keputusannya itu sempat ditentang Sofi yang memang berandai-andai derajatnya bisa meningkat setelah berumah tangga.

     “Dia (istri-red) sempat enggak mau nurut. Setelah gue bujuk rayu, akhirnya dia mau juga,” ujarnya. Padahal kan tukang bakso halal ya.

     Meski menerima keputusan Jamil, sikap Sofi tak langsung membaik. Ia lebih banyak diam dan tak mau melayani Jamil selama di rumah. Padahal, kehidupan rumah tangga mereka saat itu sedang anget-angetnya. Seharusnya sedang merasakan indahnya bulan madu. Waktu itu, Jamil masih tinggal mengontrak. Kebetulan mereka tetanggaan dengan para pekerja pabrik yang mayoritas dihuni para pemuda. Ada yang beristri, tak sedikit juga yang berstatus bujangan.

     Untuk menghilangkan penat dan bosan selama Jamil keliling berjualan bakso, Sofi pun banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan tetangganya di kontrakan. “Awalnya dia ngerumpi sama istri-istri tetangga. Lama-lama ngerumpinya merambat ke pemuda-pemuda,” kesalnya. Tanaman kali merambat.

     Semakin hari sikap Sofi semakin tak terkendali. Ngerumpi dengan paara pemuda menjadi hobinya. Lebih parahnya lagi, Sofi sering ngerumpi hanya mengenakan daster dan lepas kerudung, seksi pokoknya. Situasi itu pun dikhawatirkan Jamil memancing hasrat para pemuda tetangganya. “Suatu hari pelanggan gue ada yang negur. Katanya istri jangan dibiasain ngobrol sama yang bukan mukhrim di rumah,” katanya.

     Mengetahui kabar miring itu, Jamil emosi dan menegur Sofi. Bukannya sadar setelah dinasihati suami, Sofi malah membentak. Keributan pun terjadi. Sofi mengamuk dan mengancam pulang ke Tangerang. Keesokan harinya Sofi pergi dari kontrakan dengan membawa koper.      Mengetahui itu, Jamil semakin marah dan membentak Sofi, serta membiarkannya pergi. Satu jam kemudian Sofi kembali, meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. “Jadi suami harus tegas, jadi istri juga nurut,” kenang Jamil. Iya sih.

    Kini, Jamil dan Sofi sudah dikaruniai dua anak. Meski hidup sederhana, Jamil mengaku bahagia. Semoga langgeng selamanya ya, Bang. (mg06/zai/ira)