Bahrudin memperlihatkan emping belinjo yang diekspor dan makanan khas Banten yang tersedia di tokonya.

SERANG – CV Naufan Putra sudah lebih dari sepuluh tahun mengekspor emping belinjo ke Arab Saudi, Qatar, Korea Selatan, Belanda, dan Brunei Darussalam. Di negara-negara itu, emping belinjo laris manis.

“Alhamdulillah, setiap tahun ekspor emping terus bertambah,” ujar Bahrudin, pemilik CV Naufan Putra, saat akan mengkespor dua kontainer emping ke Arab Saudi dan Qatar, Rabu (31/8), di lokasi perusahaan, ruko kompleks perumahan Citra Gading, Cipocok Jaya, Kota Serang.

Bahrudin mengungkapkan, ekspor ke Arab Saudi setiap bulan dua kontainer. Satu kontainer berisi 7 ton 40 kilogram emping belinjo. Di Arab Saudi, emping dijual di swalayan-swalayan. Begitu pula di Qatar. “Emping yang diekspor sudah dikemas rapi. Kemasan 500 gram. Ke Arab Saudi pakai merek Emping Belinjo Three Stars. Sementara ke Qatar merek Emping Belinjo Food Island. Ekspor ke setiap negara, mereknya berbeda-beda meskipun produknya sama, seperti ke Belanda pakai nama Belinjo Greentool Brand,” ungkap Bahrudin.

Ia melanjutkan, ke Korea Selatan emping yang diekspor sudah matang dengan merek Ceplis Belinjo kemasan 250 gram. Mutu dan komposisi rasa harus memenuhi standar dan permintaan pembeli. “Tidak menggunakan pengawet, pewarna, dan MSG. Warna merah pada ceplis itu murni dari cabai. “Di sana dijual di kafe-kafe sebagai makanan cemilan,” ungkap Bahrudin.

Ekspor ke tiga negara tadi dilakukan sendiri menggunakan bendera CV Naufan Putra. Sementara ekspor ke Belanda dan Brunei Darussalam, sementara ini masih bekerja sama dengan perusahaan lain.

Perluasan pasar, lanjut dia, dilakukan. Negara tujuan ekspor yang sedang dijajaki yaitu Malaysia. “Masih negosiasi harga dengan buyer di sana. Mudah-mudahan jadi dan ekspor produk makanan dari Banten semakin luas,” ungkap pria yang pernah bekerja di anak perusahaan PT Krakatau Steel ini.

Ia menuturkan, pasar luar negeri sangat selektif terhadap produk. Emping yang diekspor harus berkualitas dan memenuhi standar pasar di negara tujuan. Karena itu, mutu bahan baku, proses pembuatan, dan hasilnya pun harus diperhatikan. “Semua emping yang diekspor adalah hasil produksi ratusan perajin emping binaan yang tersebar di Waringin Kurung, Mancak, Taktakan, Bojonegara, dan Cilegon. Saya sangat memperhatikan kualitas, mulai dari cara buat, bentuk dan ukuran ketipisannya,” ungkapnya.

Permintaan ekspor yang terus bertambah, lanjut dia, membuat para perajin kewalahan. Bahan baku belinjo atau melinjo yang diperoleh dari pertani di Banten masih kurang. Pasokan bahan baku tambahan diproleh dari Kalianda, Lampung. “Semua belinjo dari Banten dan Kalianda karena yang paling bagus dibuat emping. Tentu dipilih yang paling bagus. Sehari butuh dua sampai tiga ton. Hasil produksi, 60 persen untuk ekspor dan 40 persen untuk pasar lokal yang dipasok ke pasar besar di Jakarta dan Sumatera,” ungkapnya.

Ia pun bersyukur tokonya di kompleks Citra Gading menjadi daerah tujuan wisata belanja. Wisatawan, misalnya dari Jakarta, selain membeli emping, juga makanan khas Banten lainnya, seperti kue satu, semprong, kerupuk paus, labeur jahe, produksi UMKM di Banten. “Toko kami juga jadi sentra makanan khas Banten. Sejumlah instansi pemerintahan sering memesan oleh oleh khas Banten yang sudah kami packing rapi sesuai pesanan,” ungkap Bahrudin. (Aas)