Enam Penderita Gangguan Jiwa di Menes Dipasung

Asih Muksinah (kanan) penderita gangguan jiwa dengan kaki terikat bermain dengan ibunya, Aam (kiri) di teras rumahnya, Kampung Cigandeng RT 01 RW 01, Desa Cigandeng, Kecamatan Menes, Rabu (7/3).

MENES – Sebanyak enam warga Desa Cigandeng, Kecamatan Menes, masing-masing Asih Muksinah (16), Rudi (17), Jimi (25), Maman (23), Epen (19), dan Entus (20) hidup dalam keprihatinan. Keenam orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) ini terpaksa diikat dengan rantai (dipasung) oleh pihak keluarga, karena kerap mengganggu keselamatan warga sekitar. Tindakan tersebut juga sengaja dilakukan akibat tidak adanya sarana atau tempat pengobatan khusus bagi para penderita ODGJ.

Ditemui di kediaman Asih Muksinah, Kampung Cigandeng RT 01 RW 01, Kepala Desa (Kades) Cigandeng Sukma membenarkan di wilayahnya terdapat enam orang yang terkena masalah kejiwaan. Menurutnya, Rudi, Maman, Epen, dan Entus mengalami ganguan kejiwaan sejak setahun terakhir. Sedangkan, Asih Muksinah dan Jimi mengalami kelainan jiwa sejak kecil setelah mengalami sakit kejang-kejang di usia dua bulan.

Sukma menceritakan, Maman penderita ODGJ yang paling dikhawatirkan oleh keluarganya dan sejumlah warga sekitar lantaran kalau tidak dirantai sering menyelakakan orang lain. “Seperti kerap mukulin anak-anak dan saudaranya. Bahkan pernah merusak satu rumah warga di Kampung Pasirpicung, Desa Cigandeng,” paparnya.

Sukma mengklaim, pihaknya sudah berupaya maksimal bekerja sama dengan petugas kesehatan di Puskesmas Menes untuk mengobati keenam ODGJ. “Namun, keenam orang ini hanya bisa diberikan obat dan diperiksa seminggu sekali oleh petugas dari puskesmas,” katanya.

Sukma berharap, ke depan di Kabupaten Pandeglang umumnya di Provinsi Banten ada rumah sakit gangguan jiwa (RSGJ), agar para ODGJ bisa optimal mendapatkan perawatan. “Paling tidak para ODGJ tidak menggangu warga lain dan meresahkan lingkungan,” harapnya.

Muhdi Arrahman, orangtua Asih Muksinah mengaku harus bekerja ekstra untuk merawat putri ketiga dari empat bersaudara yang mengalami masalah kejiwaan itu.

Bahkan, kata Muhdi, dirinya terpaksa melakukan pengikatan pada kaki sebelah kiri pada tiang meja yang ada di ruang tengah rumah. “Soalnya kalau enggak diikat biasanya pergi ke jauh. Enggak balik lagi kalau enggak dicari,” katanya.

Menurut Muhdi, Asih anak yang memiliki kebutuhan khusus ini tidak bisa bicara dan sulit dipahami keinginannya. “Kalau pengen makan paling nangis. Bahkan itu pun baru seminggu bisa makan menyuap sendiri. Sebelumnya disuapin saja,” ungkap Muhdi yang juga ketua RT di daerah itu.

Muhdi meyakini, putrinya bisa sembuh seperti anak-anak sebayanya jika diberi perawatan secara medis di rumah sakit khusus kejiwaan. “Soalnya keadaannya tidak seperti orang gila yang lain,” katanya.

Bapak kuli serabutan ini berharap, anaknya bisa sembuh seperti anak sebayanya yang bisa bermain, sekolah, dan bekerja. “Walau keadaan seperti demikian, dan sempat kami kurung di kandang kesehariannya, tetap kami sayang kepada Asih,” katanya.

Muhdi mengucapkan terima kasih kepada petugas kesehatan dari Puskesmas Menes yang masih menangani perawatan secara instensif. “Soalnya ada saja perawat dari puskesmas seminggu sekali mengontrol Asih dan memberikan obat,” katanya.

Ditemui di Puskesmas Menes, seorang perawat yang enggan disebutkan namanya memastikan, para penderita ODGJ di Desa Cigandeng dilakukan perawatan. “Sedang kita tangani Pak. Bahkan kalau untuk Asih sudah pernah kita rujukan ke RSUD Berkah dan RSUD Banten beberapa waktu lalu,” katanya. (Herman/RBG)