Enggak Tahan Punya Suami Mata Keranjang

Ningsih (34), nama samaran, mempunyai firasat buruk terhadap suaminya, sebut saja Jono (40). Ia curiga suaminya suka main perempuan. Apalagi mendengar kabar kalau suaminya dikenal mata keranjang. Yassalam.

Sebelum menikah, status keduanya memang janda ketemu dua. Namun, Ningsih bukan janda biasa, melainkan kembang desa yang diincar banyak pria. Baru memiliki satu anak balita, wajah dan bentuk tubuh Ningsih masih menggoda. Begitu pula dengan Jono. orangnya ganteng dan kaya, tak heran Jono menjadi pujaan banyak wanita meski berstatus duda. Sayangnya, Jono dikenal playboy, yang tidak diketahui Ningsih sebelum resmi menjadi suaminya.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Pabuaran, Ningsih terlihat sibuk melayani pembeli di warungnya. Saat didekati, Ningsih malah curhat tentang perilaku buruk suaminya yang sering menggoda perempuan, terutama yang masih ABG. “Banyak yang bilang kalau suami tuh mata keranjang. Aku juga baru sadar. Kalau dia tetap enggak berubah, saya mah mau cari suami lagi,” ancamnya. Memangnya gampang cari suami lagi!

Ningsih mengaku sudah gerah dengan tingkah suaminya dan merasa tak bahagia meski dari segi ekonomi tercukupi. Jono memang kaya, ayahnya punya banyak sawah, selain tampilan Jono yang keren sehingga Ningsih tergoda dan menerima ajakannya dulu untuk membina rumah tangga. “Ya memang sih ekonomi saya meningkat sampai punya usaha warung sendiri. Tapi, jujur saya merasa enggak dihargai,” keluhnya.

Diceritakan Ningsih, bisa menikah dengan Jono awalnya dikenalkan pamannya yang kekeh ingin menjodohkannya karena tersuap uang dan proyek garapan sawah. Setelah perkenalan itu, Jono setiap hari menemui Ningsih di rumahnya.

“Dia sering kasih saya hadiah, baju, jam tangan, kadang juga makanan,” kenangnya. Enggak bawa berlian kan!

Awalnya Ningsih tidak menerima begitu saja. Sampai sebulan kemudian hubungan mereka semakin dekat, komunikasi juga semakin intens. Lama-lama Ningsih merasa tak enak hati terhadap Jono dan mulai meresponsnya. Seiring waktu Ningsih mulai luluh dan menerima kehadiran Jono. Ningsih pun ditembak Jono, dorr. Tak butuh lama untuk Jono melamar Ningsih yang sudah membutuhkan belaian seorang pria karena lama berstatus janda. Ningsih menerima lamaran Jono. Seminggu kemudian mereka menikah.

Awal rumah tangga, Ningsih bersama anaknya merasa bahagia dengan kehadiran Jono yang mampu membantu perekonomiannya sehari-hari. Apalagi Jono termasuk suami yang tak perhitungan. Apa yang Ningsih mau, pasti dituruti. Bahkan, membelikan Ningsih rumah sekaligus warung yang kini dia tempati.

“Mas Jono juga termasuk suami romantis. Apalagi di atas ranjang ketimbang mantan suami. Pas malam pertama, di atas kasur sampai ditaburi bunga-bunga mawar merah gitu. Lucu sih, sempat terkesima juga waktu itu,” kenang Ningsih mesem-mesem.

Namun, sampai setahun berumah tangga tak kunjung dikaruniai keturunan. Dengan pasangan sebelumnya, Jono sudah memiliki dua anak. “Ya namanya anak rezeki dari Tuhan. Saya sih santai saja,” ujarnya.

Namun, situasi itu sepertinya menjadi masalah bagi Jono. Setelah tiga tahun berumah tangga, sikap Jono mulai berubah, tidak ada lagi sikap lembut dan perhatian dari Jono yang diberikan kepada Ningsih. Keromantisan yang ditunjukkan Jono dulu hanya topeng belaka.

“Duit sih dia masih ngasih, tapi perlakuannya mulai kasar,” kesalnya. Sabar, Mbak.

Awalnya Ningsih masih menerima sikap Jono itu. Ningsih mulai emosi ketika mengetahui suaminya sering menggoda tetangganya yang berstatus perawan dan masih muda. “Saya lihat sendiri dia sambil naik motor senyum-senyum gitu ke tetangga yang lagi jalan kaki,” sesalnya. Mungkin cuma bersikap ramah aja.

Kemarahan Ningsih semakin memuncak ketika tetangganya mengadukan kelakuan Jono pada ibunya dan marah-marah kepada Ningsih. Ia malu dan langsung menegur Jono. Bukannya menyadari, Jono malah balik memarahi Ningsih. “Masa dia bilang ‘terserah gue’, kan bikin emosi,” kesalnya.

Kondisi itu pun masih dirasakan Ningsih sampai sekarang. Saat ini Ningsih hanya bisa memendam rasa sakit melihat perilaku buruk suaminya tanpa pernah bercerita kepada siapa pun. Ia hanya bisa menangis setiap mengingat perubahan sikap suami.

“Pokoknya nanti saya urus surat kepemilikan tanah dan rumah ini dulu, baru cerai,” ancamnya.

Semoga apa yang akan dilakukan Mbak merupakan jalan terbaik. Amin. (mg06/zai/ira)