Enye-enye untuk Program Pemberdayaan Masyarakat Sindangjaya

0
209 views
Enye-enye, penganan tradisional berbahan dasar singkong mirip opak.

TANGERANG – Enye-enye, penganan tradisional berbahan dasar singkong mirip opak. Industri rumahan di Desa/Kecamatan Sindangjaya, Kabupaten Tangerang ini disiapkan untuk program pemberdayaan masyarakat. Pemerintah Desa Sindangjaya berharap, produksi enye-enye terus berkembang dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Menurut Kepala Desa Sindangjaya Asmayudin, potensi desa itu menjadi sasaran program pemerintahannya lantaran telah ada sentra pembuatan enye-enye. Adalah Asmarin (70), pelaku usaha sekaligus pendiri sentra pembuatan enye-enye sejak 1970-an. Saat ini, dikelola oleh anak Asmarin, Dedi (38)

Asmayudin juga melihat peluang pemasaran penjualan enye-enye yang masih terbuka lebar. Ia mengakui, enye-enye cukup digemari banyak orang. Rasanya gurih dan renyah.

Untuk menjadikannya salah satu potensi unggulan Desa Sindangjaya, Asmayudin mengaku, pihaknya akan membantu pemasaran enye-enye. Pemerintah Desa Sindangjaya akan memfasilitasi perajin mendapatkan sertifikat halal dari MUI serta izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Kepala Desa Sindangjaya Asmayudin

”Ya kendalanya di situ, pemasaran. Enye-enye ini belum bisa dikirim ke luar daerah karena belum ada izin BPOM. Nah, kami selaku aparatur Desa Sindangjaya ingin agar enye-enye ini menjadi potensi Desa Sindangjaya dan bisa dikirim ke berbagai daerah di Kabupaten Tangerang, bahkan bisa sampai ke luar daerah,” ujar Asmayudin kepada Radar Banten

Sementara, Dedi mengaku sebagai generasi ketiga perajin enye-enye. Menurutnya, enye-enye beda dengan opak. Cuma warna dan bentuk fisiknya yang mirip. Sebab, opak berbahan dasar tepung beras.

       ”Cara membuatnya juga berbeda antara enye-enye dengan opak. Prosesnya juga beda. Kalau enye-enye, dikukus dulu lalu dijemur, baru setelahnya digoreng. Bumbu yang kita pakai dalam adonan enye-enye, antara lain, cabai, bawang putih, merica, ketumbar, daun pandan, garam, dan micin,” urai Dedi.

       Dari 100 kilogram singkong, Dedi dan keluarganya bisa memproduksi 50 bungkus enye-enye, jika cuaca mendukung. Satu bungkus enye-enye, ia jual Rp15 ribu.

Dedi baru bisa memasarkannya di warung-warung di Kecamatan Sindangjaya dan Pasarkemis. Omzet tiap hari Rp800 ribu. ”Itu kalau sedang bagus cuacanya. Tentunya tidak setiap hari (cuaca mendukung-red). Kalau lagi mandek, paling produksinya 30 bungkus dan omzet minimal Rp600 ribu per hari,” ungkap Dedi di sela pembuatan enye-enye.

Desa Sindangjaya berdiri setelah Desa Sindangpanon dimekarkan. Luas wilayah Desa Sindangjaya 531 hektare. Jumlah penduduknya 9.567 jiwa dengan 2.012 kepala keluarga.

Desa ini berbatasan dengan Desa Sukatani, Kecamatan Rajeg, di sebelah Utara. Di sebelah Selatan, berbatasan dengan Desa Wanakerta, Kecamatan Sindangjaya. Kemudian, berbatasan dengan Desa Daon, Kecamatan Rajeg, di sebelah Barat dan Desa Sindang, Kecamatan Sindangjaya, di sebelah Timur. (pem/rb/sub)