Fasilitas Karantina Perlu Dibenahi

Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan (kiri) mengobrol dengan tenaga medis yang dikarantina di Pendopo Lama Gubernur, Kota Serang, tadi malam.

SERANG – Sebagai rumah sakit pusat rujukan Covid-19 di Provinsi Banten, tenaga medis RSUD Banten disediakan tempat karantina di Pendopo Lama Gubernur dan Badiklat Banten. Berdasarkan data Dinkes Banten, ada 594 tenaga medis dan paramedis di RSUD Banten yang bertugas melayani pasien corona. Namun, satu pekan beroperasi sebagai rumah sakit pusat rujukan, hanya sebagian kecil yang bersedia dikarantina.

Untuk memastikan kelayakan Pendopo Lama Gubernur menjadi lokasi karantina tenaga medis, Komisi V DPRD Banten melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Rabu (1/4) malam. Pantauan Radar Banten di lapangan, Sekretaris Komisi V Fitron Nur Ikhsan mengunjungi Pendopo Lama Gubernur sekira pukul 19.00 WIB. Fitron langsung menemui sejumlah tenaga medis yang sedang dikarantina di gedung yang sebetulnya menjadi rumah dinas Gubernur Banten, yang berlokasi tepat di belakang Museum Negeri Banten.

Di dalam ruangan, tampak sejumlah petugas medis sedang duduk di meja makan untuk melakukan makan malam. Sementara yang lain sedang beristirahat di ruangan yang telah disiapkan Dinkes Banten.

Usai menyapa petugas medis yang berada di ruang meja makan, Fitron pun langsung meninjau fasilitas kamar tenaga medis. Dari delapan kamar yang tersedia, Fitron meninjau lima ruang kamar, satu ruang kamar khusus dokter, dan empat kamar khusus perawat atau tenaga medis. Untuk kamar khusus dokter, kondisinya relatif sesuai fasilitas hotel, meskipun satu ruangan diisi enam dokter. Sementara kamar khusus perawat kondisinya tidak seperti kamar khusus dokter, lantaran diisi delapan orang.

Bahkan untuk kamar tenaga medis yang statusnya tenaga honorer, kondisinya cukup memprihatinkan, satu ruangan kamar diisi hingga 25 tenaga medis. Tempat tidur yang ada pun berdekatan, sehingga mereka tidurnya masih berkerumun.

Sejumlah tenaga medis pun langsung menyampaikan kondisi kesehatannya kepada Fitron. “Alhamdulillah kami dalam keadaan sehat, hanya saja kami di sini masih kekurangan sejumlah kebutuhan, seperti handuk, vitamin dan peralatan makan minum dan peralatan mandi,” kata salah seorang tenaga medis menyampaikan aspirasinya.

Senada, tenaga medis lain juga meminta Komisi V DPRD Banten untuk membantu menambah fasilitas tempat tidur. “Kami di sini tidurnya berdekatan, karena ruangannya kurang luas,” ujar tenaga medis lainnya.

Usai menerima curhatan tenaga medis, Fitron mengaku pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi tenaga medis yang dikarantina di Pendopo Gubernur. “Data yang kami terima ada 80-90 tenaga medis yang dikarantina di pendopo lama. Semoga semuanya tetap sabar dan ikhlas melaksanakan tugasnya,” ungkapnya.

Sebelum meninggalkan pendopo lama, Fitron menuturkan secara umum lokasi karantina sudah cukup manusiawi. “Hanya saja mereka ini garda penyelamat dalam rentan waktu yang cukup panjang, prediksinya tiga bulan ke depan. Tentu mereka harus dijamin segala hal yang terkait kenyamanan, terkait dengan makan dan minum,” kata Fitron kepada wartawan.

Ia melanjutkan, beberapa catatan hasil temuan di lapangan akan langsung disampaikan ke Dinkes dan RSUD Banten. “Tadi banyak yang curhat ke kami, terkait jaminan kesehatan tenaga medis. Mereka telah mempertaruhkan waktu, keluarga dan nyawa. Mereka sangat rentan terjangkit corona,” papar Fitron.

Fitron berjanji akan meminta Kepala Dinkes Banten untuk memperbaiki fasilitas tempat tidur di Pendopo Lama. “Jarak tempat tidur saya rasa harus diperbaiki. Kasihan tempat tidurnya mepet-mepet sekali,” tambah Fitron.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, karantina tenaga medis dan paramedis di RSUD Banten di Pendopo Lama sudah representatif. Bila daya tampungnya memenuhi kapasitas sudah disiapkan di Badiklat Banten. “Kasur-kasur di Pendopo Lama semuanya baru, mereka semua diberi makan tiga kali sehari. kemudian mereka juga diantar jemput dari dan ke RSUD Banten. Kami juga menjamin vitamin mulai dari vitamin C, b komplek, E. Fasilitasnya cukup lengkap kok,” kata Ati.

Untuk menjamin keselamatan, lanjut Ati, tenaga medis juga dilakukan rapid test berkala, untuk mengtahui terpapar covid setelah mereka melakukan penanganan pasien. “Kami juga siapkan insentif. Dokter spesialis Rp75 juta, dokter umum Rp50 juta, perawat Rp17,5 hingga Rp22 juta, tenaga penunjang medis dan nonmedis Rp15 juta, untuk tenaga pendukung operasional seperti satpam, OB sebesar Rp5 juta,” tegasnya.

Hingga kemarin, lanjut Ati, ada 50 tenaga medis yang dikarantina secara bergiliran. “Kenapa bergiliran, karena mereka shift yang kita bagi empat. pertama pagi, siang, malam dan shift empat libur setelah mereka jam malam. Dalam sehari bergiliran lebih dari 50 orang,” tuturnya.

Berdasarkan hasil rapid test sementara, lanjut Ati, belum ada satu pun tenaga medis RSUD Banten yang terjangkit Covid-19. “Mereka bekerja mengenakan APD lengkap, kami juga lakukan screening. Hingga hari ini, belum ada satu pun pasien covid yang meninggal di RSUD Banten,” tegasnya. (den/alt/ags)