Film Nyai Ahmad Dahlan, Kisah Perjuangan Perempuan Muhammadiyah

TANGERANG – Rumah produksi IRAS menggarap film berjudul ‘Nyai Ahmad Dahlan’. Film yang telah tayang sejak 24 Agustus lalu itu, cukup menarik perhatian para pencinta film nasional.

Film yang mengangkat sejarah perjuangan perempuan Muhammadiyah ini, bercerita tentang perjuangan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, sang pendiri organisasi perempuan Aisyiyah yang menjadi sayap organisasi Muhammadiyah.

Devi Kurnia, yang mengaku sudah menonton film perjuangan perempuan Muhammadiyah ini mengaku kagum dengan alur cerita yang dibuat oleh sutradara Olla Atta Adonara dan produser Dyah Kalsitorini ini. Pasalnya, bukan semata mengangkat sosok Nyai Ahmad Dahlan, namun memberikan pengetahuan kisah-kisah inspiratif tentang pejuang perempuan tanah air yang kerap dilupakan dari sejarah.

”Saya kebetulan dulu kuliah dan lulusan Muhammadiyah. Jadi mengetahui persis mengenai sejarah kisah Nyai Ahmad Dahlan. Makanya ketika diangkat ke layar lebar antusias sekali untuk menonton,” kata perempuan yang dulu pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini, kemarin.

Film ini bercerita tentang kisah dari seorang wanita bernama Siti Walidah (Tika Bravani), atau yang lebih dikenal dengan ‘Nyai Ahmad Dahlan. Sejak kecil Siti Walidah memiliki impian menjadi seorang yang pintar. Siti Walidah lahir pada tahun 1872 di sebuah Kampung Kauman.

Pada zaman tersebut, perempuan memiliki pergaulan yang sangat terbatas dan tidak belajar di sekolah formal. Setelah dewasa, Siti Walidah menikah dengan seorang pria bernama KH Ahmad Dahlan (David Chalik) dan menjadi istrinya yang dikenal Nyai Ahmad Dahlan. Kyai Ahmad Dahlan merupakan seorang sosok lelaki yang memiliki pikiran maju dan mendukung istrinya untuk bersama membangun bangsa Indonesia.

Kiai Ahmad Dahlan bersama dengan Nyai Ahmad Dahlan juga dengan segala kecerdasannya ikut membangun dan membesarkan Muhammadiyah. Karena pergaulan dari Nyai Ahmad Dahlan bersama dengan para tokoh-tokoh, baik dari tokoh dari Muhammadiyah dan juga tokoh pemimpin bangsa lainnya dan kebanyakan dari teman seperjuangan suaminya, wawasan dan pandangan dari Nyai Ahmad Dahlan menjadi sangat luas. Tokoh-tokoh pemimpin bangsa tersebut tidak lain adalah Bung Karno, Bung Tomo, Jenderal Sudirman, KH Mas Mansyur dan lain-lainnya.

Setelah mendirikan dan membesarkan Muhammadiyah, Nyai Ahmad Dahlan turut merintis sebuah kelompok pengajian demi pengajian untuk memberikan ilmu keagamaan bagi semua wanita hingga terbentuknya organisasi yang dikenal dengan ‘Aisyiyah’.

Pada zaman tersebut, tidak mudah untuk membesarkan organisasi wanita, Nyai Ahmad Dahlan bersama dengan para pengurus Aisyiyah harus berjuang memajukan perempuan yang bermanfaat bagi keluarga, bangsa dan negara. Menurut Nyai Ahmad Dahlan, bahwa wanita juga sepadan perannya dengan lelaki namun tidak boleh sampai melupakan fitrahnya sebagai seorang wanita. Pada saat Jepang masuk ke Indonesia, dia menentang para penjajah Jepang dengan melarang para warga menyembah dewa matahari. Bersama dengan para warga, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan dapur umum bagi para pejuang untuk melawan para penjajah.

Kehidupan bersama dengan KH Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan juga saling mendukung dalam hal membangun bangsa tergambar begitu indah. Dengan cinta menjadi landasan dalam menjalani hidup dan perjuangan untuk bangsa Indonesia.

Film yang mengambil lokasi syuting di Jogjakarta pada bulan April 2017 lalu, turut dibintangi oleh Tika Bravani (Nyai Ahmad Dahlan), David Chalik (KH Ahmad Dahlan), Cok Simbara (Ayah Nyai Ahmad Dahlan), dan sederet artis tanah air lainnya seperti Della Puspita dan Egi Fedly. Penasaran dengan kelanjutan cerita film ini, saksikan di bioskop kesayangan Anda. (ADE MAULANA/RBG)