Filosofi Kue Keranjang: Susunan Makin Tinggi, Makin Banyak Rezeki

0
712 views
Karyawan dodol Ny Lauw sedang mengaduk adonan kue keranjang, Minggu (19/1).

TANGERANG – Sepekan sebelum Imlek, pedagang kue keranjang di Pasar Lama meraup keuntungan fantastis. Dalam satu hari, mereka bisa mengantongi keuntungan kotor hingga Rp10 juta.

Sebut saja Hendra Mulyawan (41) yang akrab di apa Koh Wawan. Dia menjual makanan dan pernak-pernik khas imlek. “Kue keranjang itu kan rasanya manis, jadi kalau imlek itu memang harus ada. Selain kue keranjang biasanya yang beli juga membeli dodol, permen dan makanan manis lainnya. Manis itu dianggap mendatangkan rezeki dalam budaya Tionghoa,” katanya kepada Radar Banten saat ditemui di Ruko tempatnya berjualan, Minggu (19/1).

Selain karena manis, kue keranjang juga mempunyai makna tersendiri dari penyusunannya yang ditumpuk-tumpuk. Kata dia, penumpukan dilakukan dengan jumlah ganjil. Mulai dari tiga, lima, tujuh, sembilan, dan tiga belas. “Jadi semakin banyak tumpukannya semakin banyak juga rezeki yang didapatkan,” jelasnya.

Bentuknya yang bulat juga bukan tanpa arti. Hal tersebut bermakna agar keluarga yang merayakan imlek dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun baru yang akan datang. Untuk bahan membuat Kue Keranjang itu sendiri, lanjut Koh Wawan, hanya dengan tepung ketan dan gula. “Untuk pembuatannya membutuhkan waktu sekira 18 jam jika memakai kayu bakar. Bisa sih lebih cepat jika masaknya tidak dengan kayu namun rasanya akan berbeda,” ungkapnya.

Koh Wawan mulai menjual kue-kue dan pernak-pernik khas Imlek sekira sebulan lalu. “Mereka biasanya beli jauh-jauh hari, ada yang satu bulan sebelumnya. Ada juga yang beli 14 hari sebelum Imlek, pembeli terus ramai hingga H-3. Kalau saya jualan di sini sudah puluhan tahun,” ungkapnya.

Saat ini Koh Wawan sudah tidak lagi menjual kue keranjang buatannya. Dia menjual kue keranjang titipan pedagang-pedagang lainnya. “Ada buatan Nyonya Lauw, ada juga produksi yang lain. Kalau yang Nyonya Lauw harganya Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan merk lainnya dijual Rp40 ribu,” ucapnya.

Selama sekira setengah bulan terakhir, lanjut Koh Wawan, hasil penjulan kue keranjangnya mendatangkan banyak rezeki. Dalam satu hari, ia bisa mendapat omzet Rp5juta-Rp10 juta. “Rp 10 juta itu gabungan baik dari makanan dan pernak pernik Imlek. Tapi untuk kue keranjang saja penjualannya minimal dalam satu hari itu mencapai Rp5 juta. Bahkan seringnya lebih,” imbuhnya. (one/asp)