Final Fantasy XV, Seri Ke-15 yang Tidak Biasa

0
1.287 views
Zetizen

SETELAH penantian sangat lama, bahkan sempat ganti judul, akhirnya Final Fantasy XV dirilis. Diumumkan kali pertama pada 2006, game itu awalnya berjudul Final Fantasy versus XIII dan dikonsep bersamaan dengan seri Final Fantasy XIII. Game tersebut kemudian dijadikan seri utama dan diberi nomor 15 seiring dengan konsep dasarnya yang diperbarui.

Bagi Square Enix, Final Fantasy XV merupakan pertaruhan besar. Sebagai seri utama, game itu dibiayai sangat besar. Targetnya tentu saja menjadi RPG terkemuka pada zamannya. Misi tersebut tak pernah mudah. Biasanya, RPG papan atas lain selalu membayangi, termasuk buatan Square Enix seperti Dragon Quest. Kini serial Tales dan serial Atelier yang semula masih papan tengah sudah cukup mapan dan tak boleh diremehkan. Tantangan lain adalah krisis ekonomi global yang belum cukup pulih, serta persaingan dengan ponsel dan tablet yang performa visualnya makin bagus.

Bagaimana strategi Square Enix memastikan bahwa dana besar dan pengerjaan bertahun-tahun yang telah mereka investasikan akan mendorong masyarakat membeli Final Fantasy XV? Yang pertama adalah kualitas grafis yang setingkat game PC dengan spesifikasi tertinggi. Performa visual itu digabungkan dengan eksperimen sehingga seri utama Final Fantasy masuk dalam genre action RPG.

Iya, Final Fantasy XV tak menampilkan pertempuran berbasis giliran seperti biasa. Aksi berlangsung secara real-time sebagaimana yang diterapkan dalam seri Crisis Core: Final Fantasy VII dan Final Fantasy Type-0. Para penggemar serial Zelda no Densetsu (Amerika: The Legend of Zelda) dan Kingdom Hearts pasti familier dengan permainan seperti itu.

Dalam sistem pertempuran yang dinamai Active X Battle tersebut, pemain hanya mengendalikan Noctis, sang karakter utama. Tiga rekannya –Gladiolus, Ignis, dan Prompto– bergerak otomatis meski pemain bisa memberikan instruksi dasar kepada masing-masing. Ada teknik serangan kerja sama, tapi sulit menepis rasa bahwa seri Final Fantasy kali ini tak lagi teamwork seperti seri-seri terdahulu.

Sesekali, ada karakter lain yang membantu dalam pertempuran. Pada dasarnya, Noctis dan ketiga rekannya adalah karakter yang dibawa bertualang dari awal hingga akhir permainan. Final Fantasy XV juga dibuat sangat maskulin. Nyaris tak ada karakter perempuan yang tergolong tangguh. Paling cuma Aranea, kesatria Dragoon dari pihak antagonis Niflheim. Atau Gentiana, pembantu Putri Lunafreya, jika mau digolongkan seperti itu.

Pengembangan ceritanya kalah kompleks jika dibandingkan dengan seri-seri terdahulu. Hanya tentang seorang pangeran yang mengumpulkan kekuatan untuk duduk di singgasana dan menjemput takdirnya. Antagonis utama mudah ditebak sedari awal, apalagi jika menonton film bioskop Kingsglaive: Final Fantasy XV yang dirilis beberapa bulan sebelumnya.

Para veteran RPG bakal sulit mengenang Lunafreya sebagaimana mengenang Aerith dari seri Final Fantasy VII. Bahkan, pengorbanan Oerba Yun Fang dan Vanille menjadi kristal di akhir Final Fantasy XIII masih lebih berkesan. Karakter seperti Cidney, putri Cid, akan sering diperagakan dalam cosplay. Tapi, Cidney ataupun Iris –adik Gladiolus– sulit membekas di ingatan. Cukup aneh mengingat para karakter perempuan dari serial Final Fantasy biasanya everlasting.

Dengan aneka kekurangan tersebut, apakah Final Fantasy XV bakal gagal? Belum tentu. Strategi menghadirkan film layar lebar Kingsglaive, serta serial anime gratisan Brotherhood: Final Fantasy XV menjadi iklan yang cukup bagus bagi game-nya. Sistem pertempuran yang real-time akan menarik minat para penggemar game PC karena mirip The Elder Scrolls V: Skyrim. Yang harus diperhitungkan adalah Zelda no Densetsu: Breath of the Wild milik Nintendo yang tahun depan hadir dengan konsep serupa.

Dengan grafis premium dan perkenalan kepada masyarakat luas, berarti Square Enix mengincar sebesar-besarnya pasar baru dari kalangan yang awalnya bukan penggemar Final Fantasy. Good luck. Kalaupun ternyata hasilnya tak memenuhi harapan, yang dipertaruhkan sebenarnya cuma status Final Fantasy sebagai serial andalan. Square Enix masih punya Dragon Quest, Star Ocean, dan Valkyrie Profile yang bisa jadi serial andalan tanpa butuh biaya semasif Final Fantasy.

Bagian dari Fabula Nova Crystallis

Konsep awal berjudul FF versus XIII menandakan bahwa game tersebut merupakan bagian dari Fabula Nova Crystallis. Proyek itu terdiri atas berbagai game yang dirilis untuk berbagai mesin home system dan portabel. Garis merah proyek tersebut adalah kisah semua game-nya bermuara pada suatu mitos besar yang sama, tentang kekuatan dewata yang persaingannya memengaruhi konflik di kalangan manusia.

Game utama dari proyek Fabula Nova Crystallis adalah Final Fantasy XIII. Disusul dua sekuelnya, yaitu Final Fantasy XIII-2 dan Lightning Returns: FF XIII. Ada juga seri FF Agito XIII yang kemudian berubah judul menjadi Final Fantasy Type-0. Nama ’’Agito’’ lantas disandang FF Agito yang pernah hadir untuk Android dan iOS, tapi kini layanan servernya sudah dihentikan. Setelah Final Fantasy XV, seri berikutnya dari proyek tersebut adalah Final Fantasy Type-0 Online. Hadir untuk PC, Android, dan iOS, seri itu bisa dibilang merupakan kelanjutan yang lebih canggih bagi Final Fantasy Agito.

Bagaimana dengan Final Fantasy XV? Perubahan konsep dasar dari FF versus XIII membuat unsur Fabula Nova Crystallis jadi tipis. Kekuatan keluarga Kerajaan Lucis yang diwarisi Noctis, salah satunya. Juga peran Astral, makhluk summon khas Final Fantasy yang kini perannya cukup signifikan.

Kisah yang Dipecah dalam Berbagai Media

Bila dibandingkan dengan seri-seri terdahulu, kisah Final Fantasy XV tak terlalu kompleks. Dari kisah dasarnya, yang bisa dikembangkan adalah pendalaman para karakter, serta konflik antara negara Lucis dan negara adikuasa Niflheim. Tapi, keduanya sulit diwujudkan dalam suatu game.

Karena itulah, Square Enix mengenalkan kelengkapan kisah Final Fantasy XV dalam media lain. Yang pertama adalah Brotherhood: FF XV. Lima seri anime itu dirilis bertahap sejak Maret lalu. Durasinya mencapai belasan menit setiap seri dan kelimanya bisa ditonton gratis secara streaming. Penonton diajak mengenal lebih jauh tentang Gladiolus, Ignis, dan Prompto, serta hubungan mereka dengan Pangeran Noctis.

Media berikutnya lebih spektakuler, yaitu film layar lebar yang bergrafis CG. Tak kalah canggih kalau dibandingkan dengan film Avatar karya James Cameron, film Kingsglaive: FF XV dinilai lebih banyak mengusung unsur Final Fantasy ketimbang film FF VII: Advent Children. Bahkan, ada sejumlah penggemar yang lebih menyukai film layar lebar tersebut ketimbang Final Fantasy XV versi game.

Hiburan bagi Penyuka Gaya Klasik

Apakah tahun ini Square Enix membuat para penyuka RPG gaya klasik gigit jari? Tidak juga. Pada Maret lalu, mereka merilis Star Ocean 5: Integrity and Faithlessness untuk mesin PlayStation4 dan PlayStation3. Kualitasnya tergolong papan atas soal teknologi grafis yang digunakan.

Sebulan sebelum Final Fantasy XV, mereka merilis World of Final Fantasy untuk PlayStation4 dan mesin portabel PlayStation Vita. Dua mesin tersebut menghadirkan performa visual yang tergolong canggih, tapi tetap dengan gaya kartun. Sebagian karakter tampil dengan grafis SD (superdeformed) yang imut dan teranimasi halus.

Pertempurannya berbasis giliran yang tentu familier bagi veteran Final Fantasy. Para karakter dari seri-seri Final Fantasy terdahulu dimunculkan dan ikut bertempur bersama duo protagonis. Dilengkapi dengan sistem menumpuk karakter yang memengaruhi pertempuran, serupa dengan serial RPG strategi Makaisenki Disgaea milik Nippon Ichi. Pemain kembali diajak menjelajah seluruh dunia sebagaimana lazimnya serial Final Fantasy.

Square Enix, rupanya, sadar bahwa tak semua penggemar Final Fantasy akan menyukai seri ke-15. Mereka pun mengumpulkan tim yang antusias menggarap Final Fantasy bergaya klasik dengan mesin generasi terbaru. Musik gubahan Masashi Hamauzu yang dikenal lewat serial RPG SaGa memastikan nuansa fantasi melekat erat pada World of Final Fantasy.

Tahun depan Square Enix merilis Dragon Quest XI. Hadir untuk PlayStation4, mesin portabel Nintendo 3DS, dan mesin baru Nintendo Switch, game itu kembali menampilkan petualangan offline yang masif. Berbeda dengan Dragon Quest X yang sedari awal dirancang sebagai game khusus online.

Gebrakan Seri Terbaru

Keunikan lainnya, ada beberapa setting game yang terinspirasi dari beberapa tempat di dunia nyata, di antaranya distrik Shinjuku di Tokyo serta Piazza San Marco dan St Mark’s Basilica di Venice. Mereka juga menambahkan beberapa jalan layang dan terowongan yang mirip dengan Shuto Expressway dan terowongan di distrik Ginza.

Muhammad Nabil, siswa SMKN 2 Kota Serang bilang, pernah satu kali merasakan main game Final Fantasy. “Tapi kurang seru sih, lebih seru Multiplayer. Kalau saya biasanya lebih suka main Mandota, Wasdog. Iya, saya sudah tahu kalau Final Fantasy lagi rillis seri terbaru, tapi sekadar baca sebentar sih, jadi keunggulannya kurang tahu yah ada apa saja,” ujarnya.

Firsa Fauziah, siswi MAN 2 Kota Serang ini mengaku suka main game. “Tapi nggak tahu tuh game Final Fantasy kayak bagaimana. Biasanya saya mainnya game yang seru dan grafiknya bagus. Kalau game Final Fantasy itu belum pernah coba sama sekali,” ujarnya.

Nah, buat Sobat Zetizen yang belum pernah coba game Final Fantasy, cepat coba deh. Game ini benar-benar seperti dalam dunia nyata loh. Seri terbarunya juga sudah rillis loh pada 29 November lalu. Duh nggak sabar. (dila-zetizen/cr14/zee)