SERANG – Di era milenial ini gadget menjadi salah satu media utama para orang tua untuk membantu mengedukasi atau menenangkan anak-anaknya saat sedang menangis. Namun sayangnya banyak orang tua yang keliru pada penggunaan gadget tersebut, sehingga akhirnya menyebabkan anak kecanduan gadget.

Hal itu disampaikan Elly Risman, psikolog, pada seminar parenting bertema “Mengenali dan Mengatasi Kecanduan Anak pada Internet, Pornografi, dan Game Online” yang diselenggarakan Dompet Duafa di RS Sari Asih Kota Serang, Sabtu (15/12).

“Yang menjadi penyebab anak-anak kecanduan gadget, di antaranya karena mereka merasa bosan, kesepian, marah, takut, stress, dan capek. Maka dari itu, pola komunikasi dan intensitas pemberian waktu orang tua kepada anak yang baiklah yang sebenarnya lebih cepat membangun kedekatan emosional keduanya serta membantu mempercepat proses tumbuh kembang anak,” ungkap Elly dikutip dari siaran pers Dompet Dhuafa.

Bagi Elly, gadget seperti Narkolema (narkoba lewat mata) bagi anak. Apabila banyak film atau games yang mengandung unsur pornografi ditonton oleh anak-anak setiap hari maka anak-anak tersebut akan mengalami gangguan fungsi otak yang sama seperti mengonsumsi narkoba.

“Pada tahun 2018 ini WHO telah meresmikan bahwa orang yang kecanduan game sama dengan orang yang mengalami gangguan mental,” ungkapannya.

Melihat banyaknya kekeliruan para orang tua tersebut dalam memberikan pola asuh kepada anak-anaknya yang merupakan anugerah terbesar dari Allah Swt, Elly menegaskan untuk para orang tua agar memahami surat An-Nisa ayat 9, Luqman ayat 12-22, dan Al-Azhab ayat 35 sebagai dasar pengasuhan anak.

Soal pengasuhan anak, Elly lebih utama menekankan perihal pemulihan dan pengolahan inner child yang ada di dalam diri para orang tua. Inner child yang dimaksud adalah bagian yang ada di dalam diri para orang tua dan merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya.

“Jangan biarkan anak anda diasuh oleh anak kecil yang ada di dalam jiwa Anda. Adapun maksud dari pernyataan tersebut adalah agar para orang tua mampu memulihkan atau mengolah emosional dirinya di masa kecil terlebih dahulu, sehingga mereka tidak akan menjadikan emosionalnya tersebut sebagai bahan untuk mendidik anak-anaknya saat ini baik secara sadar maupun tidak sadar (spontan),” ungkapnya.

Menyadari akan banyaknya kekeliruan para orang tua dalam memberikan pola asuh anak, salah satu peserta asal Sawah Luhur, Kota Serang, Ulfah, merasa sangat terbantu dengan diadakannya seminar parenting.

“Akhirnya saat ini saya jadi lebih mengetahui kekeliruan apa yang selama ini telah saya lakukan kepada anak-anak saya. Dan saya akan berusaha memperbaikinya agar tidak berdampak buruk ke depannya bagi anak-anak saya. Saya juga berharap, semoga Rumah Konseling ke depannya akan mengadakan seminar-seminar seperti ini kembali”, ungkapnya.

Tirta Rahayu, pembina Rumah Konseling program Dompet Dhuafa Banten, menjelaskan, tema Mengenali dan Mengatasi Kecanduan Anak pada Internet, Pornografi, dan Game Online sengaja diusung atas dasar kekhawatiran akan banyaknya bahaya yang mengintai anak-anak di era milenial ini, khususnya pada penyalahgunaan fungsi gadget dengan menonton film atau games yang mengandung unsur pornografi. Hal ini juga dilandaskan pada surah At-Tahrim ayat 6 yang intinya adalah untuk menjaga keluarga dari api neraka. (aas)