Gagal ke Anyar, Makan di Trotoar pun Jadi

0
1719
Wisatawan asal Tangerang terpaksa menggelar tikar di trotoar JLS, Kecamatan Kramatwatu untuk makan bekal perjalanan karena gagal ke kawasan Pantai Anyar, Minggu (16/5).

Cerita Wisatawan Hendak Libur Lebaran

Kebijakan Pemprov Banten terkait penutupan sementara tempat wisata sejak 15 hingga 30 Mei 2021, membuat banyak wisatawan terpaksa putar balik dan gagal ke kawasan Pantai Anyar. Namun, daripada pulang tanpa kesan, makan di trotoar Jalan Lingkar Selatan (JLS) pun tak kalah nikmat.

LAPORAN: Daru Pamungkas

Uding (43) berserta rombongan keluarganya baru selesai santap siang perbekalan makan yang rencananya akan dimakan di pinggiran pantai Anyar, Minggu (16/5). Ia sudah membayangkan, bagaimana asyiknya makan bersama keluarga dengan pemandangan laut, ditemani deburan ombak dan sejuknya angin Selat Sunda.

Khayalan itu sudah terbayang di benak Uding dan keluarga sejak masih di rumah. Warga Serpong, Tangerang Selatan, ini berangkat pukul 09.00 WIB dengan dua kendaraan roda empat.

Perjalanan dengan menempuh jalur ToL Tangerang-Cilegon pun tampak lancar, tak ada tanda-tanda akan ada penyekatan. Uding mengaku belum mengetahui soal adanya penutupan destinasi wisata oleh Gubernur Banten. “Pokoknya mah di perjalanan tuh bawaannya happy aja kita,” ungkapnya.

Satu jam perjalanan, mereka sudah tiba di Pintu Tol Cilegon Timur. Namun, baru saja keluar tol, kemacetan sudah menyambut di depan mata. “Saya sih mikirnya santai aja, namanya juga masih nuansa Lebaran, macet mah biasa,” katanya.

Uding beserta istri sengaja memilih destinasi Pantai Anyar karena lokasinya terjangkau, serta cocok untuk bermain anak-anak dan cucu-cucu mereka yang masih balita. “Sebelum Lebaran juga sudah pada request, katanya pengen liburan ke pantai,” ujarnya.

Setelah melewati perempatan PCI, Uding mulai resah. Ini lantaran belasan aparat kepolisian dan TNI tampak berdiri di tengah jalan. Nampak pula satu kendaraan polisi diparkir melintang, lengkap dengan papan pembatas, hampir semua mobil berputar balik.

Uding sempat kebingungan, ia kemudian memarkir kendaraannya ke pinggir trotoar di JLS. Saat membuka ponsel, barulah ia tahu jika hari ini merupakan hari pertama penutupan destinasi wisata. “Apes bener, jauh-jauh, eh malah disuruh puter balik,” keluhnya.

Istri dan anaknya pun mulai mengeluh, mereka menggerutu kesal karena keinginannya bermain ke pantai tak terpenuhi. Suasana di dalam mobil pun mulai tak kondusif. Apalagi, cucunya juga sudah mulai mengeluh lapar. “Udah aja, daripada pusing, gelar tiker dan bongkar bekal makanan, kita makan di trotoar gini enggap apa-apa, anggap aja kayak di pantai,” katanya.

Kendati demikian, Uding mengaku tak kecewa dan merasa senang karena masih bisa mengajak jalan-jalan anak dan cucunya. Ia juga sangat memaklumi dan mendukung keputusan Gubernur Banten soal penutupan akses sementara destinasi wisata. “Enggak apa-apalah, namanya juga kan demi kebaikan semua, supaya covidnya enggak tambah banyak,” tuturnya.

Sementara itu, wisatawan lainnya asal Kacamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Endah Rusminah, mengaku kecewa lantaran tak bisa masuk ke Kawasan Pantai Anyar. Ia bersama rombongan keluarganya yang istirahat di trotoar JLS terlihat bingung, apa yang harus dilakukan. “Enggak tahu dah mau ke mana, orang tujuan utamanya ke Anyar,” katanya. (*)