Gagalkan Ancaman Teror Jelang Tahun Baru, Terima Kasih Polri dan Densus 88

0
539 views
Suasana setelah penangkapan terduga teroris di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jabar, Minggu (25/12). FOTO: YUSLIPAR / PASUNDAN EKSPRES /JPG

JAKARTA – Polri khususnya Densus 88 Antiteror menerima banyak pujian atas kinerjanya mencegah berbagai ancaman teror jelang perayaan Natal. Namun, lembaga yang dipimpin Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu tidak mengendurkan pengamanan karena masih ada ancaman lain saat perayaan Tahun Baru.

Kepala Humas Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Jeiry Sumampow menuturkan, proses perayaan Natal berlangsung lancar. Hal tersebut ada peran dari pengamanan yang dilakukan Polri. “Beberapa hari sebelum Natal pengamanan petugas telah dilakukan,” terangnya.

Beberapa minggu sebelum Natal, Polri menggagalkan percobaan aksi yang menargetkan hari raya Natal dan Tahun Baru. Di antaranya, bom panci Bekasi, kelompok Adam cs dan kelompok Abu Faiz yang dilumpuhkan di Jatiluhur. “Pada Polri khususnya Densus 88 Antiteror, kami mengucapkan terima kasih,” ujarnya.

Apalagi, saat malam Natal itu Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Plt Gubernur Jakarta Sumarsono berkeliling ke sejumlah gereja di Jakarta. Kebijakan tersebut memberikan rasa aman pada umat yang merayakan Natal. “Kunjungan itu sangat dalam maknanya, lembaga pemerintahan berupaya maksimal memberikan rasa aman,” jelasnya.

Selanjutnya, diharapkan kepolisian juga tidak lengah untuk bisa mengamankan momentum perayaan Tahun Baru yang akan tiba dalam beberapa hari ke depan. “Saat ini sudah on the track pengamanannya. Semoga aman seterusnya, Tahun Baru juga,” paparnya dihubungi Jawa Pos, kemarin.

Pengamanan di gereja dilakukan dengan ekstraketat, dari petugas bersenjata lengkap hingga metal detector. Sebenarnya, masyarakat Jakarta yang merayakan Natal di Jakarta sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Namun, apresiasi yang jauh lebih besar akan muncul bila pola pengamanan yang dilakukan representatif untuk kegiatan Natal. “Untuk yang belum terbiasa, saat beribadah melihat senjata yang merupakan simbol-simbol kekerasan tentu kurang pas,” ujarnya.

Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat Ridha Salamah mengatakan, kesuksesan pengamanan Natal 2016 tidak semata ada di tangan kepolisian saja. Namun juga,  kesuksesan koordinasi antara lembaga-lembaga terkait. Termasuk juga koordinasi antara tokoh-tokoh agama. “Intinya telah tercipta kerukunan. Tidak boleh ada yang dengan cepat menuding intoleran ke pihak lain,” jelasnya.

Sementara itu, pendalaman terhadap kelompok teror pimpinan Abu Faiz yang dilumpuhkan di Jatiluhur, Purwakarta, terus dilakukan. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Mabes Polri Brigjen Rikwanto menuturkan, awalnya kelompok Abu Faiz mengontrak di Bandung. “Tapi, saat itu mereka banyak ditanya warga. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah,” ujarnya.

Oleh karena itu, penggeledahan dilakukan Densus 88, kemarin. Penggeledahan itu dilakukan untuk mencari barang bukti lainnya. “Yang penting, sebenarnya alasan mengapa kelompok teror ini memutuskan pindah, sebabnya karena masyarakat banyak yang bertanya soal identitas mereka. Ini perlu untuk terus dilakukan,” ungkapnya.

Selanjutnya, Rikwanto mengatakan bahwa barang bukti yang ditemukan di bekas kontrakan di Bandung adalah timbangan dan sejumlah paku. Petugas memprediksi bahwa kelompok tersebut menunggu pengiriman bahan peledak. “Bisa jadi memang untuk bom,” terang jenderal berbintang satu tersebut.

Dia mengatakan, untuk Rizal dan Irvan saat ini masih dilakukan pemeriksaan di Mako Brimob Kelapa Dua. Pemeriksaan mengarah pada apakah masih ada keterlibatan pihak lain, sekaligus memastikan terkait penggunaan timbangan dan paku tersebut. “Masih diperiksa terus,” paparnya.

Dari pemeriksaan awal, kelompok Abu Faiz ini memang terhubung dengan Jamaah Anshar Daulah (JAD). Namun, penyidik masih mendalami kemungkinan terhubung dengan Bahrun Naim. “Pendalaman terus dilakukan,” tuturnya.

Untuk target aksi kelompok teror tersebut, diketahui rencananya mereka beraksi saat Tahun Baru. Ada sejumlah pos polisi yang menjadi target mereka. “Namun, mereka berhasil dicegah sebelum beraksi. Mereka hanya sempat melakukan survei-survei,” ungkapnya.

Diketahui bahwa dari empat terduga teroris, dua di antaranya Abu Faiz dan Abu Sofi tewas  karena melakukan perlawanan. Rikwanto menuturkan, sebenarnya petugas berupaya menangkap mereka dalam kondisi selamat. Namun, saat coba ditangkap dengan tembakan peringatan lima kali, ternyata masih melawan. “Terpaksa petugas membela diri,” jelasnya.(JPG/Radar Banten)