Gaji Satpam Dinkes Tangsel Disunat, Dugaan Korupsi Jasa Keamanan Rp2,8 Miliar

SERANG – Ratusan tenaga satuan pengamanan (satpam) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangerang Selatan (Tangsel) tak menerima gaji penuh pada 2013. Pemotongan gaji itu berdasarkan kebijakan Direktur PT Estetika Guna Prima (EGP) Baihaqi Djasman.

Hal itu diungkapkan Bagian Keuangan PT EGP Musfiroh dan Koordinator Satpam Totok Subagiyo di Pengadilan Tipikor Serang, Senin (21/10).

Sesuai kontrak, Satpam seharusnya menerima gaji masing-masing sebesar Rp2,3 juta. Namun, tenaga keamanan itu masing-masing menerima gaji di bawah Rp1,5 juta.

“Yang paling rendah Rp1,350 juta, tapi ada kenaikan di bulan Desember. Saya lihat kontrak lebih gede (gaji-red). Saya enggak ingat persis jumlahnya,” kata Musfiroh di hadapan Ketua Majelis Hakim Yusriansyah.

Musfiroh dan Totok hadir sebagai saksi untuk lima terdakwa perkara dugaan korupsi pengadaan proyek jasa pengamanan di Dinkes Tangsel. Yakni, anggota layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Tangsel Andhy Krisnapati, Irvan Octavian dan Ahmad Bazury, mantan sekretaris Dinkes Tangsel Ida Lidia, anggota Pokja ULP Tangsel Wawan Gunawan dan Direktur PT EGP Baihaqi Djasman.

Sesuai kontrak, jumlah tenaga keamanan yang direkrut sebanyak 116 personel. Jumlah ini menjadi 117 lantaran ditambah dengan tenaga kordinator Satpam. “Semuanya 116 ditambah Pak Totok jadi 117. Pak Totok dapat Rp1,5 juta (gaji-red),” kata Musfiroh dalam sidang yang dihadiri jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kabupaten Tangerang Suhelfi Susanti.  

Dikatakan Musfiroh, ratusan satpam tersebut tidak ada yang mengajukan keberatan atau komplain kepada PT EGP. “Semua setuju (digaji di bawah Rp2,3 juta-red),” ucap Musfiroh.

Sementara Koordinator Satpam Totok Subagiyo mengakui setiap personel Satpam menerima gaji sebesar Rp1,6 juta. “Setiap awal bulan gajian. Nilainya Rp1,6 juta sampai Rp1,7 juta,” kata Totok.

Nominal gaji itu ditentukan oleh Direktur PT EGP Baihaqi Djasman yang disetujui oleh seluruh satpam. “Yang tentukan Pak Direktur. Semacam ada kesepakatan tapi tidak tertulis. Mereka terima, ada tanda tangan terimanya,” kata Totok.

Namun, Totok mengaku lupa mengenai ada tidaknya pemberitahuan gaji kepada seluruh satpam. “Ga ada komplain soal gaji. Lupa (soal pemberitahuan gaji sesuai kontrak-red),”ucap Totok.

Di hadapan majelis hakim, Totok mengaku mempunyai tugas untuk mengontrol seluruh satpam. Diwaktu tertentu dia keliling di 25 puskesmas se-Kota Tangsel untuk mengecek absensi satpam. “Tugas saya keliling puskesmas, juga kantor dinas (Dinas Kesehatan-red) karena ada juga satpam di sana, sama bagian farmasi dan labkesda disana juga ada (satpam-red),” tutur Totok. (mg05/nda/ags)