SERANG-Cabang olahraga (cabor) gantole Banten sukses meraih satu medali emas dan satu medali perak pada multievent Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016 lalu. Hasil tersebut akan menjadi acuan cabor gantole dalam melakukan pembinaan jangka panjang untuk menghadapi PON XX Papua 2020.

    Medali emas pada PON XIX Jawa Barat 2016 diraih dari nomor ketepatan mendarat (KTM) beregu kategori B pasangan Ening Kurnia dan Agung Permana. Sedangkan medali perak disumbang nomor KTM beregu kategori A atas pasangan Ajie Enoh dan Tb Husni Mubarok.

    Pelatih yang juga sekaligus atlet gantole Banten, Ajie Enoh mengatakan, tugas berat disandang cabor gantole pada PON XX Papua 2020. Menyandang status tradisi medali di setiap PON akan dipertaruhkan di Papua nanti.

    “Setelah bertarung di PON Jawa Barat, kami bukannya puas dan berleha-leha. Kami langsung menyusun program dan mengatur strategi untuk melakukan pembinaan jangka panjang guna menghadapi PON 2020. Berbenah di semua lini untuk meningkatkan kualitas atlet terus kami lakukan. Target kami di PON Papua tidak lagi mempertahankan tradisi medali emas, tapi meningkatkan,” kata Ajie kepada Radar Banten ketika ditemui di sekretariat KONI Banten, Cipocokjaya, Kota Serang, Kamis (7/6) siang.

    Ajie menambahkan, untuk meningkatkan prestasi dibutuhkan kerja keras dalam pembinaan jangka panjang. Selain itu juga dibutuhkan regenerasi atlet sebagai upaya mempertahankan tradisi medali di PON. “Alhamdulillah program pembinaan jangka panjang yang kami gagas didukung dengan program Pelatda Jangka Panjang KONI Banten. Program ini sangat mendukung kami dalam meningkatkan kualitas atlet. Kami tidak akan terlena dengan hasil yang telah diraih pada PON lalu. Meski seluruh atlet yang tampil di PON Jawa Barat 2016 hampir dipastikan bisa kembali mengudara pada PON 2020, tetapi kami harus tetap menyiapkan tim pelapis. Hal tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Olahraga dirgantara merupakan salah satu olahraga yang memiliki risiko tinggi. Kami butuh banyak atlet sebagai pendukung,” imbuhnya.

    Sementara itu, peraih medali emas PON XIX Jawa Barat 2016, Ening Kurnia menyatakan, Banten memiliki banyak potensi atlet dirgantara, akan tetapi perkembangan olahraga dirgantara di Banten terkendala venue latihan. “Kondisi alam tidak mendukung untuk kami (atlet-red) terbang di langit Banten. Makanya, kami harus latihan di luar daerah seperti di Lido atau Sumedang, Jawa Barat, Kondisi alam di sana (Lido dan Sumedang-red) sangat mendukung. Kalau fasilitas yang kami miliki sudah sama dengan atlet provinsi lain, hanya venue latihan yang kurang memadai,” ucapnya singkat. (dre/sr/ira)