Atlet gantole Banten secara intens menjalani latihan di Kawasan Lido, Bogor, Jawa Barat jelang tampil di KASAU Cup 2018 pada Maret mendatang.

SERANG-Empat atlet gantole Banten tengah bersiap mengikuti kejuaraan gantole yang bertajuk Kepala Satuan Angkatan Udara (KASAU) Cup 2018. Single event tersebut rencananya akan dilangsungkan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat pada Maret mendatang. Keempat atlet gantole Banten yang akan ambil bagian, yakni Ajie Enoh, TB Husni Mubarok, Agung Permana, dan Ening Kurnia.

Pelatih sekaligus atlet gantole Banten, Ajie Enoh mengatakan, ajang KASAU Cup merupakan agenda rutin yang jadi pemanasan jelang tampil di Kejurnas Gantole 2018 pada medio Juli mendatang. “Tim gantole Banten sudah memiliki nama besar di kancah nasional. Kita akan ambil bagian dan tampil maksimal meski tanpa mengusung target khusus. Ajang ini hanya kita jadikan sebagai tolok ukur persiapan menghadapi kejurnas,” kata Enoh kepada Radar Banten, Jumat (16/2).

Enoh menambahkan, sejauh ini persiapan telah dilakukan dengan menggelar latihan rutin di Kawasan Lido, Bogor, Jawa Barat. “Olahraga dirgantara tidak bisa libur latihan terlalu lama, harus dilakukan secara kontinyu agar performa tetap stabil. Sangat sulit menemukan performa terbaik bila tidak menggelar latihan secara rutin,” imbuhnya.

Meski tanpa target khusus, nomor ketepatan mendarat (KTM) tetap menjadi andalan tim Banten untuk mengintip peluang membawa pulang medali. “Kami datang sebagai kandidat juara, meski tanpa target. Medali emas yang diraih Ening Kurnia dan Agung Permana di nomor KTM beregu kategori B dan medali perak yang disumbang Ajie Enoh dan Tb Husni Mubarok di nomor KTM beregu kategori A pada PON XIX Jawa Barat 2016 menempatkan atlet Banten sebagai unggulan. Tapi kita tidak akan terbebani dengan status itu,” tegas Enoh.

Sementara itu, peraih medali emas PON XIX Jawa Barat 2016, Ening Kurnia menyoroti venue latihan yang belum dimiliki Banten. Padahal, menurutnya Banten memiliki banyak potensi atlet dirgantara, akan tetapi perkembangan olahraga dirgantara di Banten terkendala venue latihan. “Kondisi alam tidak mendukung untuk kami (atlet-red) terbang di langit Banten. Makanya kami harus latihan di luar daerah seperti di Lido atau Sumedang, Jawa Barat, karena kondisi alam disana sangat mendukung. Kalau fasilitas yang kami miliki sudah sama dengan atlet provinsi lain, hanya venue latihan yang kurang memadai,” ucapnya. (Andre AP)