Tampak muram dan tak bersemangat, begitulah kesan pertama melihat Ijah (48) nama samaran. Di teras rumah sederhana, Ijah baru saja menyuapi anaknya yang paling kecil. Tinggal berdua bersama sang ibu, Ijah mengalami pahitnya hidup akibat suami senang berjudi, sebut saja namanya Cueng (51).

Masa silam itu sudah berlalu, tetapi kenangan pahit menyesakkan hati, tampaknya masih terekam jelas di kepala Ijah dan sang ibu tercinta. Setelah diajak bicara perlahan, Ijah pun menceritakan kisah rumah tangga bersama Cueng yang saat ini, entah bagaimana statusnya.

“Kalau ingat tentang dia, rasanya makan juga jadi enggak enak, mau ngapa-ngapain juga enggak bersemangat,” tutur Ijah kepada Radar Banten.

Semua berawal ketika Ijah tak bisa menolak keinginan sang ayah untuk segera menikah. Soalnya, hampir semua teman seusia di kampung, sudah menemukan pasangan masing-masing. Dengan usia yang semakin tua, keluarga pun menyetujui niat baik sang ayah.

Namun, di sisi lain, Ijah yang terlahir dari keluarga sederhana, bingung lantaran belum memiliki kekasih. Perseteruan pun terjadi. Karena Ijah belum juga membawa calon suami ke hadapan orangtua dan keluarga, mau tidak mau, sang ayah yang akan membawa calon untuk putrinya.

Parahnya, sang calon lelaki pilhan sang ayah ialah lelaki teman kecilnya. Ijah tahu betul bagaimana sikap dan karakternya. Dan jelas, ia tidak menyukainya. Bertahan di tengah tekanan, tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa sambil meminta bantuan pada teman-teman.

Sempat dikenalkan dengan beberapa lelaki, Ijah menolak lantaran belum menemukan kecocokan. Maklumlah, Ijah dianugerahi wajah nan manis. Tidak terlalu cantik, tapi enak dipandang mata. Dengan alis tebal berpadu dalam bentuk wajah yang bulat, Ijah memiliki paras alami ala-ala gadis kampung.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu, termasuk wanita yang pilih-pilih dalam menentukan suami. Sampai suatu hari, ketika ia sedang membeli nasi di salah satu warung makan di kampungnya, seorang lelaki dengan tubuh berkeringat namun tetap rapi mengajak mengobrol. Lelaki itu tak lain adalah Cueng.

Mulai dari membahas hal remeh-temeh sampai berbicara kegiatan masing-masing, sang lelaki pun mengajak berkenalan. Kalau sudah begitu, tentu mereka bertukar nomor telepon dan menjalin komunikasi lanjutan. Bagai anak kecil yang mendapat mainan baru, Ijah pulang dengan wajah berseri.

Mendapati tingkah sang anak yang seperti remaja dimabuk cinta, tentu ayah dan seluruh keluarga ikut senang. Sampai suatu ketika, untuk kesekian kalinya, sang ayah meminta Ijah membawa lelaki calon suami. Namun, Ijah mengaku, saat itu ia sebenarnya agak sedikit ragu. Soalnya, ia baru mengenal Cueng dan belum tahu jelas baik dan buruknya.

Tapi, apa mau dikata, mungkin karena niat hati ingin membahagiakan orangtua, Ijah pun mengundang Cueng ke rumah. Berpenampilan serta berperilaku sopan, Cueng sukses menarik hati ayah serta keluarga Ijah. Hebatnya, mungkin karena sudah tak sabar, Cueng langsung diterpa pertanyaan yang membuatnya ternganga. Wah, ditanya apa, Teh?

“Dulu bapak kayak enggak sabar gitu, Kang. Kang Cueng ditanya kapan mau nikahin anak saya, gitu,” kata Ijah seperti dikatakan ayahnya.

Singkat cerita, Cueng pun menjawab pertanyaan ayah Ijah dengan datang membawa keluarga. Melangsungkan lamaran dan menentukan tanggal pernikahan, Cueng dan Ijah terikat tali pernikahan. Hingga hari bahagia itu datang, mereka pun mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, baik Cueng maupun Ijah sama-sama saling mengerti satu sama lain. Hingga tak terasa, setahun sudah berlalu mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Anak pertama pun hadir melengkapi kebahagiaan mereka, Cueng dan Ijah semakin mesra.

Lima tahun kemudian, mereka dikaruniai anak kedua. Cueng yang bekerja sebagai distributor makanan ringan ke warung-warung di salah satu usaha milik pengusaha di Kota Serang, bekerja penuh semangat demi menafkahi anak istri. Sampai suatu hari, datanglah beberapa tamu laki-laki yang mengaku teman lama Cueng.

Sejak saat itulah, bagai tak lagi mengenal sosok suami, Ijah merasa, ada banyak perubahan pada diri Cueng. Mulai dari sikapnya pada anak, sampai kelakuannya sehari-hari, Ijah baru mengetahui kelakuan sebenarnya sang suami. Wah, memang Kang Cueng kenapa, Teh?

“Dia sering pulang malam, mulai berani ngebentak saya dan anak, yang bikin saya sedih, dia berhenti kerja,” curhat Ijah.

Sampai suatu ketika, lewat bisik-bisik tetangga, Ijah mendengar kabar buruk tentang suaminya. Cueng sering terlihat bulak-balik ke tempat perjudian. Ketika ditanya, Cueng malah mengamuk dan membentak. Apa mau dikata, Ijah pun menangis tak berdaya.

Setahun lebih Ijah menahan kesabaran, berharap sang suami akan mengubah kelakuan. Hingga suatu hari, lantaran ada proyek pelebaran jalan, rumah Ijah harus digusur. Ia mendapat jatah ganti rugi uang sesuai ukuran rumah. Uang yang rencananya akan digunakan untuk membeli rumah baru, akhirnya tak bisa bertahan lama. Lah, kenapa Teh?

“Waktu itu banyak orang datang ke rumah, saya kira cuma mau bertamu, ternyata mereka menagih utang Kang Cueng yang kalah berjudi,” curhat Ijah.

Apalah daya, meski awalnya sempat tak meladeni, namun setelah terjadi tragedi ancaman sampai diacungkan golok, Ijah tak kuasa. Ia pun membayar utang suaminya dengan uang rumah. Sampai akhirnya, ia dan orangtua hanya bisa membeli rumah ukuran kecil yang saat ini ditempati.

Parahnya, bagai tak punya hati, Cueng kabur membawa kendaraan pribadi milik adik Ijah. Sampai saat ini, ia tak tahu di mana keberadaan suaminya. Astaga.

Sabar ya Teh Ijah. Semoga selalu sehat dan dimudahkan rezekinya. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)