Gara-gara Fitnah Punya Istri Muda, Joko dan Jenab Nyaris Bercerai

Ilustrasi (pixabay).

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerjang. Hal itu sesuai dengan apa yang dialami rumah tangga Jenab (40) dan Joko (41), keduanya nama samaran. Sukses menjadi petani kaya, mereka menjadi pasangan serasi yang digandrungi banyak orang. Namun, cobaan datang merusak keharmonisan hubungan mereka. Joko difitnah punya istri muda. Astaga, tega amat.

Entah siapa yang memulai duluan, kabar itu menyebar cepat bagaikan kilat. Lewat perbincangan dari mulut ke mulut, kesetiaan hubungan rumah tangga yang sudah bertahun-tahun itu diuji. Akibatnya, Jenab sempat mengurung diri di kamar dan tak mau berbicara berhari-hari. Membuat Joko tak bisa mengontrol emosi. Keributan pun terjadi. Rumah tangga mereka berada di ujung tombak perceraian. Alamak.

“Dia tuh lebih percaya omongan orang daripada saya. Ya sudah setiap hari kita ribut terus, pusing,” curhat Joko kepada Radar Banten.

Padahal, Joko termasuk lelaki yang terkenal baik, murah senyum, dan jarang terlihat bermasalah dengan orang. Terlebih, setiap tahun ia rutin berzakat baik kepada anak yatim maupun kaum duafa. Pokoknya, kalau Joko sudah mengeluarkan uang untuk beribadah, ia tidak pernah perhitungan.

Banyak juga teman-teman yang memohon bantuan, selalu ia tolong tanpa pamrih. Tapi, ya namanya juga orang sirik, tidak melihat siapa yang baik, kalau dasarnya sudah benci, mau dia orang paling baik di dunia sekalipun pasti akan dimusuhi. Wajahlah ya, namanya juga manusia.

Sejak muda, Joko dibesarkan dengan pendidikan agama yang baik. Sang ayah selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan padanya. Apalagi, selepas sekolah SMP, ia tidak melanjutkan ke jenjang SMA, melainkan masuk pesantren dan tinggal jauh dari orangtua. Waktu itu sih katanya pesantren di Jawa. Pantas saja, jika dilihat dari penampilannya, Joko memang lebih pantas menjadi seorang ustaz ketimbang pengusaha. Hehe.

Setelah lima tahun hidup di pesantren, Joko pulang ke kampung halaman. Sempat menjadi pengajar pendidikan agama di sekolah, tapi ternyata minatnya tidak di bidang pendidikan. Hingga akhirnya, Joko memutuskan menjadi pengusaha. Namun, perjalanan hidupnya dalam meraih kesuksesan bukanlah perkara mudah, Joko melewati banyak rintangan yang menghadang.

“Sebelum jadi petani, saya sempat jualan tasbih, minyak wangi, banyaklah pokoknya. Tapi, ya namanya juga usaha, semuanya gagal di tengah jalan,” jelas Joko.

Singkat cerita, Joko dijodohkan dengan gadis anak rekan sang ayah. Layaknya anak yang mematuhi perintah orangtua, ia menurut saja. Diperkenanlah dengan Jenab. Tak disangka, ternyata mereka sama-sama suka. Atas persetujuan bersama, ditentukanlah tanggal pernikahan. Joko dan Jenab pun menjadi pasangan suami-istri.

Di awal pernikahan, baik Joko maupun Jenab saling menjaga perasaan. Layaknya pasangan baru pada umumnya, mereka malu-malu tapi mau. Lantaran tak punya cukup uang, Joko memutuskan tinggal di rumah mertua. Jadilah ia semakin tak berdaya. Gugupnya luar biasa. Sampai-sampai mau makan pun susah karena sering malu kepada keluarga sang istri tercinta. Duh, gugup amat sih, Kang.

“Ya biasalah, awal-awal mah suka grogi gitu, kang. Kan belum kenal banget sama keluarganya, hehe,” kata Joko cengengesan.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan keduanya semakin mesra. Hingga suatu hari, mungkin karena prihatin dengan kehidupan Joko yang penuh kesederhanaan, salah satu orang terkaya di kampungnya memberi pekerjaan pada Joko untuk menggarap sawah yang hanya beberapa petak.

Berjalan setahun, dua tahun, Joko baru bisa memberi penghasilan kecil terhadap bosnya. Sampai lima tahun kemudian, perjuangannya mulai membuahkan hasil, uang yang diperoleh dari panen sawah garapannya semakin meningkat. Dengan sikap penyabar dan perlakuan yang jujur, Joko pun diberi kepercayaan menggarap sawah yang lebih luas.

Berkat dorongan semangat sang istri pulalah, Joko menjadi sosok suami yang tekun dalam bekerja. Penghasilan setiap kali panen jadi berkali-kali lipat. Merasa sudah mempunyai cukup uang, ia pun membeli sebidang tanah untuk membangun rumah. Membuat Jenab bahagia.

Namun apalah daya, hidup sebagai orang kaya tak selamanya aman sentosa. Di suatu siang yang terik, ia mendapati padi-padi yang baru ditanamnya tidak mendapat pengairan yang cukup. Diambillah cangkul dan mulai memacul bagian tanah untuk aliran air. Padinya pun kini tak kekeringan.

Namun tak berselang lama, ketika langkahnya bergegas menuju rumah, terdengar teriakan seseorang mengamuk di dekat padinya. Karena penasaran, didekatilah oleh Joko. Tak disangka, sang petani itu mengamuk memarahi Joko dan menyalahkannya karena sembarangan membuka saluran air sehingga membuat padinya kekeringan.

“Kalau mau kaya jangan main curang dong, seenaknya saja buka saluran air, enggak tahu apa padi saya sebelah sana kekeringan,” kata Joko mengikuti omongan sang petani.

Meski sudah meminta maaf, Joko terus dimarahi. Beruntung ada beberapa petani lainnya yang datang melerai. Sejak kejadian itulah berita perselingkuhan Joko dengan seorang wanita mulai menyebar pesat. Pokoknya, kalau ada warga yang berkumpul, pasti membicarakan perselingkuhan Joko. Aih-aih.

Tak pernah diduga, keretakan rumah tangga juga berdampak pada keberlangsungan perekonomian keluarga. Sawah Joko jadi sering terserang hama, membuat hasil panen turun drastis, malah menimbulkan kerugian. Barang habis. Setelah diselidiki, kabarnya, bukan cuma fitnah, ternyata ada yang mengirim santet agar kehidupan Joko hancur berantakan. Astagfirullah.

“Ya beginilah hidup, kadang ada saja orang yang tidak suka dengan kita,” jelasnya.

Dengan semua tekanan yang datang silih berganti, Joko mencoba bertahan menghadapi cobaan. Beruntung, pendidikan agama yang ditempuhnya sewaktu muda membuat Joko tidak begitu awam menangani masalah persantetan. Dibantu dengan rekan sewaktu di pesantren dulu, Joko melawan sekuat tenaga. Wuih, jadi perang santet dong Kang?

“Ya, enggak juga. Saya mah cuma baca beberapa surat pilihan sambil ngewirid,” katanya. Memang dulu rasanya bagaimana, Kang?

“Wuh, pokoknya mah hati sama pikiran tuh bawaannya panas saja. Terus ke sawah juga jadi malas,” curhatnya.

Dua bulan mengalami masa-masa kritis dalam rumah tangga, perlahan Joko mulai bisa menguasai keadaan. Dengan tetap menjalankan salat sunah dan puasa, kehidupannya menjadi kembali seperti biasa. Orang-orang pun seolah menjadi lupa pada fitnah tentang perselingkuhannya.

Joko mengakui, semenjak peristiwa itu, penghasilan panennya tidak sebesar seperti awal-awal ia berjaya. Namun, Joko dan Jenab tetap mensyukurinya. Mereka menjalani hari dengan penuh kebahagiaan.

Ciyee, selamat ya Kang. Memang sebenarnya hidup itu mudah, asal tetap rajin ibadah, pasti semua masalah bisa teratasi dengan mudah. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)