Gara-gara Masakan, Suami Kepincut Pelayan Warteg

Janah (35), nama samaran, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini pernah merasakan kegelisahan yang mendalam selama dua tahun lebih karena tingkah suami, sebut saja Juki (37). Mengira selera makan suami berubah sehingga jarang makan di rumah dan sering makan di warteg dekat rumah karena dianggap bervariasi, ternyata kepincut pelayannya yang masih berstatus gadis. Oalah.

Padahal Janah mengaku dari semenjak menikah lima tahun silam selalu memasak masakan kesukaan Juki, yaitu sayur asem, ikan teri, dan sambal terasi. Namun, dua tahun belakangan Juki mulai berubah. Juki jadi jarang makan di rumah dan memilih makan diluar. Awalnya Janah mengira Juki sudah bosan dengan menu andalan Janah spesial pake telor buat suaminya, sehingga beralih mencari sesuatu yang baru di tempat lain. Juki sering makan di warteg tak jauh dari rumah, hampir setiap pagi, siang, dan sore pasti selalu sengaja pergi ke warteg. Tak disangka, ternyata ada udang di balik bakwan. “Sudah saya tegur supaya jangan keseringan makan di warteg, tapi dia ngeyel, jadi curiga ada apa coba,” kesalnya. Mungkin di warteg ada sambal goyang kali Mbak.

Ternyata dugaan Janah benar. Ada alasan lain kenapa suami memilih makan di warteg ketimbang di rumah yag dirasanya lebih higienis. Maklum, Juki berprofesi sebagai karyawan perbankan sehingga segala sesuatu harus bersih. Setalah Janah telusuri, usut punya usut ternyata suaminya kepincut gadis pelayan warteg. Padahal, demi membuat betah suami, Janah sampai membeli banyak buku resep makanan lezat. Sayangnya, gadis pelayan warteg dinilai suaminya lebih menarik ketimbang masakan istri. Menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya, Janah mulai menanyakan kebenaran gosip yang beredar di tetangga dan teman kantornya. “Eh suami malah emosi membela diri. Jadi makin mencurigakan kan,” tukasnya.

Sejak itu hubungan keduanya merenggang, sering bertengkar, dan tak lagi harmonis seperti sebelumnya. Kekesalan Janah itu diceritakan kepada Radar Banten di sebuah toko waralaba di Kota Serang. Janah bercerita, hubungannya dengan Juki dulunya indah dan penuh kenangan. Mereka dijodohkan orangtua. Beruntung keduanya saling menyukai satu sama lain pas dipertemukan.

Dulu sosok Janah menggairahkan. selain wajahnya manis semanis madu, bodinya kutilang, kurus tinggi langsing. Sekarang aja bentuk tubuh Janah agak sedikit melebar. Maklum sudah punya momongan. Janah dikenal orangnya ramah, begitu pun sikap yang ditunjukkannya ke Juki saat datang ke rumahnya bersama keluarga. Menurut Janah, Juki termasuk lelaki baik dan cukup rupawan. Hanya saja orangnya pendiam dan cuek. Namun, karena sifat itu pula yang membuat Janah penasaran sampai akhirnya jatuh hati. Proses pendekatan dimulai dengan Juki yang sering main ke rumah Janah, begitupun sebaliknya. Mereka menjalani hubungan layaknya sahabat mengalir begitu saja. “Orangnya asik, bikin nyaman,” kenang Janah.

Tiga bulan menjalin hubugan, orangtua Janah menyarankan mereka segera diresmikan menjadi pasangan suami istri. Kedua keluarga setuju, mereka akhirnya menikah dan pesta cukup meriah. Seperti pasangan yang baru menikah lainnya, mengawali rumah tangga keduanya cukup harmonis. Apalagi rumah tangga mereka sudah difasilitasi rumah dan pekerjaan Juki yang terbilang mapan. Kebahagiaan semakin sempurna, dimana setahun kemudian mereka dikaruniai anak.

“Mas Juki meskipun orangnya pendiam, di rumah romantis. Semua makanan yang saya masak pasti dimakan dan selalu memuji. Apalagi masakan yang dia request. Kalau udah makan bareng, pasti kita suap-suapan sambil canda-candaan gitu. Dulu tuh indah banget, dia juga makannya lahap,” curhatnya.

Seiring waktu tubuh Juki mulai membengkak. Namun, Janah malah merasa bahagia, menganggap perubahan itu pertanda Juki menyukai masakan istri. Suatu hari, Janah sibuk mengurus anak dan mulai jarang masak. Sejak itu, Juki mulai sering membeli makanan di warteg. Awalnya, tak ada yang aneh. Sampai anaknya tumbuh menjadi balita, Janah kembali memasak untuk suaminya.

Sayangnya masakan Janah selalu ditolak suami dengan alasan sudah makan di kantor. Janah awalnya memaklumi. Keesokan harinya ia kembali memasak untuk suami, berharap pulang kerja bisa makan bersama suami. “Tapi, dia enggak mau lagi makan bareng. Sekalinya mau paling cuma makan sesendok,” keluhnya. Lagi sariawan kali Mbak.

Sejak itu hubungan mereka merenggang dan sering terjadi keributan. Satu waktu, Juki tak pulang tiga hari dengan alasan urusan pekerjaan. Tak tahunya, Janah mendengar kabar kalau kepergian Juki ternyata pergi mengantar pelayan warteg pujaannya pulang ke kampung halaman. “Ada tetangga yang lihat suami saya antar perempuan warteg itu,” kesalnya.

Tak berpikir panjang, Janah langsung mengamuk dan mendatangi warteg mencari perempuan yang menjalin hubungan terlarang dengan suaminya itu. Sayangnya, pencarian Janah sia-sia karena ternyata pujaan hati suaminya sudah tak lagi bekerja di warteg dan tinggal di kampung. “Saya tahu orangnya. awas aja kalau nanti ketemu,” ancamnya. Jangan dendam gitu, enggak baik. Yang buaya kan suaminya.

Atas kasus itu, Janah pun sempat memutuskan pisah ranjang dengan Juki. Tak sampai setahun, Juki mampu meluluhkan hati Janah dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. “Alhamdulillah sekarang dia sudah sering makan di rumah sama anak,” ucapnya. Syukur deh. Semoga langgeng ya Mbak. Amin. (mg06/zai/ags)