Ilustrasi: JPNN

Terlalu memikirkan keseharian sang anak yang mulai tumbuh balita, Nela (46), bukan nama sebenarnya, tak bisa tenang semalaman. Apalah daya, meski mata terlelap di sisi suami, sebut saja Joki (50), mulutnya bersuara alias mengigau menyebut-nyebut nama sang anak dan guru mengaji.

Apa mau dikata, sang suami yang kala itu terganggu dengan igauan Nela, terbangun dan langsung marah-marah. Sikap dan karakter Joki yang memiliki temperamen tinggi, membuat situasi semakin tak terkendali. Nela yang saat itu tak sadar akan apa yang terjadi, ikut terbawa emosi. Keributan pun terjadi. Oalah.

“Kejadian mengigau itu benar-benar bikin saya stres berat, Kang. Soalnya, waktu itu suami cuma dengarnya nama ustaznya saja yang saya sebut. Kan repot, dia nyangka saya suka sama si ustaz itu,” curhat Nela. Weleh-weleh.

Nela bercerita, beratnya membangun rumah tangga memang begitu terasa, tapi sebagai lelaki sejati, Joki seharusnya tak bersikap keras pada anak istri. Soalnya, saat itu, ketika Nela berusia sekira 28 tahun, entah karena stres atau beban mencari nafkah, ia sering dimarahi Joki yang waktu itu berusia 32 tahun. Parahnya, sang buah hati pun ikut menjadi korban kemarahan bapaknya. Aih-aih. Ngeri amat nih Kang Joki.

“Beuh, Kang, dulu itu saya dan anak kayak enggak ada benarnya di mata dia. Setiap hari pasti ada saja salahnya,” curhat Nela kepada Radar Banten.

Memiliki istri cantik jelita, nyatanya tak membuat Joki mensyukuri apa yang ada. Baik ada masalah atau pun tidak, anak istri selalu menjadi korban pelampiasan amarahnya. Seolah menganggap rumah seperti neraka, Nela mengaku, ia sering menangis sendiri meratapi wajah anaknya.

Joki sebenarnya termasuk lelaki cuek dan pendiam. Terlahir dari keluarga tak punya, ayah pengangguran dan ibu pedagang gorengan, sejak muda Joki menjalani hidup penuh tantangan. Tak bisa melanjutkan pendidikan karena masalah biaya, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan.

Dengan kerja keras dan terus berusaha, membuat Joki muda memiliki penghasilan untuk membantu orangtua. Hingga beranjak dewasa, dipertemukanlah ia dengan Nela, wanita tetangga sebelah. Atas saran pamannya, jadilah mereka jadian. Tak ingin terburu-buru melangkah ke pelaminan, Joki dan Nela waktu itu sempat menikmati masa pacaran.

Nela bukan wanita biasa. Katanya, sewaktu muda, ia memiliki wajah nan cantik lengkap dengan kulit putih mulus. Bahkan, dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, ia mengaku, sempat jadi primadona desa. Dengan kondisi ekonomi mumpuni, kesempurnaan pun tampak terasa pada dirinya.

Singkat cerita, pesta pernikahan pun digelar dengan konsep sederhana. Banyaknya tamu undangan yang merupakan teman kedua mempelai, membuat hari bersejarah bagi Nela dan Joki itu terasa meriah. Mengikat janji sehidup semati, mereka resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, mereka tinggal di rumah keluarga Nela. Hebatnya, meski hidup masih kekurangan, seolah ingin segera menambah kebahagiaan kedua keluarga, baru beberapa bulan pasca pernikahan, Nela sudah dikabarkan mengandung, hingga akhirnya lahirlah sang buah hati tercinta.

Empat tahun lebih berumah tangga, banyak suka duka yang datang menerpa. Dengan anak yang mulai tumbuh balita, Joki dan Nela berjuang bersama mendidik serta memberi kehidupan indah bagi malaikat kecilnya. Dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa tinggal di rumah sederhana hasil jerih payah Joki.

Sampai suatu hari, peristiwa menjengkelkan itu terjadi. Tak seperti biasanya, Joki pulang saat azan duhur berkumandang. Ketika ditanya, ia malah melengos tidur seolah tak menghargai sang istri. Apa mau dikata, kesal dengan sikap suaminya, Nela menggerutu sembari membereskan piring yang baru dicuci.

Naiklah emosi Joki, sambil membanting pintu kamar, ia berteriak membentak istri. Katanya, ia marah-marah karena merasa terganggu dengan ocehan Nela. Ketika ditelusuri, ternyata Joki baru saja dipecat dari pabrik salah satu gudang onderdil motor di Kabupaten Serang.

Parahnya, saat itu kebetulan sang anak baru pulang sekolah dengan kaki berlumpur serta kaus sedikit kotor. Ketika ditanya, ternyata ia mengikuti teman-temannya yang memilih jalan sawah. Nela sih hanya memarahi biasa dan langsung membersihkan. Tapi apesnya, Joki melihat hal itu, habislah sang anak dimarahi penuh emosi.

“Duh, pokoknya hari itu tuh memang super bikin pusing. Seharian ada saja masalah,” curhat Nela.

Sampai menjelang asar, Nela yang sudah merencanakan anaknya dimasukkan ke tempat mengaji, izin pamit pada suami. Berdandan cantik lengkap dengan pakaian muslim, ia dan sang buah hati pergi. Lokasi pengajian yang tak terlalu jauh dari rumah membuat Nela sengaja meninggalkan anaknya.

Barulah setelah isya, ia kembali menjemput. , bagai mendapat kabar buruk, Nela langsung merasa sedih ketika sang anak menangis histeris. Berdasarkan keterangan sang ustaz, sang anak di-bully oleh seorang anak yang terkenal nakal.

Nela pun lekas membawa anaknya pulang. Sesampainya di rumah, ia tak mendapati suaminya. Joki pergi entah ke mana. Sampai tengah malam, Joki baru pulang dan lekas tidur di samping sang istri. Sampai di sepertiga malam, seolah tak bisa melupakan apa yang terjadi pada putrinya, sambil terlelap, Nela mengingau.

“Nak, jangan nakal ngajinya. Harus nurut apa kata Pak Ustaz. Supaya disayang sama Pak Ustaz,” kata Nela bercerita.

Apesnya, Joki yang terbangun saat itu hanya mendengar kata, ‘disayang Pak Ustaz’. Jadilah emosinya membara. Tanpa basa-basi, ia langsung membangunkan Nela sambil mengamuk memarahi. Lagi-lagi, keributan pun terjadi. Malam itu seolah menjadi malam puncak perseteruan rumah tangga Nela dan Joki.

Nela mengemasi barang-barang dan pulang ke rumah orangtua. Seminggu kemudia Joki datang meminta maaf. Meski saat itu Nela sempat mengelak, tapi setelah diadakan musyawarah keluarga, mereka pun bisa kembali saling memaafkan.

Ya ampun, ada-ada saja cerita rumah tangga Teh Nela dan Kang Joki. Semoga tetap langgeng selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)