Gedung Juang Dijadikan Perpustakaan Daerah

Walikota Serang Syafrudin didampingi Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin dan Ketua Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Mas Muis Muslih menandatangi kesepakatan hasil rapat koordinasi revitalisasi Gedung Juang 45 di Aula Setda Kota Serang, Selasa (7/1).

SERANG – Gedung Juang 45 akan dijadikan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Serang. Pemkot Serang menggelontorkan anggaran sebesar Rp4,5 miliar guna merealisasikannya.

Selain sebagai perpustakaan dan arsip daerah, gedung peninggalan Kolonial Belanda di Jalan Ki Mas Jong atau seberang Alun-alun Timur Kota Serang ini bakal dijadikan pusat wisata sejarah ibukota Banten.

Walikota Serang Syafrudin mengatakan, revitalisasi Gedung Juang 45 sebagai perpustakaan dan pusat wisata sejarah tidak akan melakukan pembongkaran secara menyeluruh. Hanya saja ada bagian yang diperbaiki dengan tidak mengubah bentuk asli. “Kita akan tetap jaga nilai-nilai sejarahnya,” kata Syafrudin seusai memimpin rapat koordinasi di Aula Setda Kota Serang, Selasa (7/1).

Rapat yang menghadirkan pihak Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45, Komisi II DPRD Kota Serang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Serang itu untuk memantapkan revitalisasi gedung yang semasa pendudukan Jepang dijadikan Markas Kempetai (Tentara Jepang). Rapat memutuskan Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi Dharma Wanita yang berada satu kawasan Gedung Juang 45 dipindahkan. “Kita pindahkan TK karena tidak cocok di situ (di samping Gedung Juang 45),” kata Syafrudin.

Pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pelataran Gedung Juang 45 juga akan dipindahkan untuk penataan secara menyeluruh penggunaan tempat tersebut. “Kan nanti kita akan bangun gedung UMKM, nah di situ kita tempatkan para PKL-nya,” tambah Syafrudin.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Serang Wahyu Nurjamil menambahkan, revitalisasi Gedung Juang 45 diperkirakan menghabiskan anggaran Rp4,5 miliar. Anggaran bersumber APBD 2020 yang dialokasikan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP)

Kata Nurjamil, untuk konten dan monumen perjuangan dianggarakan Rp3 miliar. Sedangkan pembangunan kantornya sebesar Rp1 miliar dan tambahan sebesar Rp500 juta. “Kalau ditotal (revitalisasi Gedung Juang 45) mencapai Rp4,5 miliar,” ucapnya.

Anggaran yang digelontorkan untuk penambahan fasilitas dan pengisian konten-konten di Gedung Juang. Pihaknya tidak diperbolehkan mengubah bentuk fisik gedung. “Bentuk fisinya tidak bisa diubah karena ini cagar budaya, cuma kita akan mengisi bagian dalamnya dengan membuat berbagai konten dengan nuansa nilai-nilai perjuangan. Pembangunanya itu didampingi langsung Balai Cagar Budaya,” kata Nurjamil. (ken/alt/ags)