Gelapkan Rp2,1 Miliar Pengusaha Dituntut Ringan

0
1.599 views
Direktur Utama PT Harmoni Sulung Perkasa Ardhani Sugiharto (baju hitam) saat menjalani persidangan kasus tambang Juni 2020 lalu

SERANG – Ardhani Sugiharto Direktur Utama PT Harmoni Sulung Perkasa mantan terpidana kasus tambang ilegal kembali dijerat. Dalam perkara penggelapan uang dan aset perusahaan, terdakwa hanya dituntut 1 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Banten, karena terbukti melakukan penggelapan dalam jabatan yang menyebabkan kerugian perusahaan senilai Rp2,1 miliar, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang.

JPU Kejati Banten Bambang Arianto mengatakan perbuatan terdakwa Ardhani Sugiharto terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam Pidana pada Pasal 374 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penggelapan dalam jabatan.

“Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun, Menetapkan lamanya masa penahanan yang telah dijalani dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Memerintahkan agar Terdakwa tetap dalam tahanan,” kata JPU Bambang kepada Majelis Hakim yang diketuai Emy T Widiastoeti disaksikan oleh terdakwa.

Selain pidana penjara, Direktur Utama PT Harmoni Sulung Perkasa juga diharuskan mengembalikan satu set stone crusher, dua unit mobil dumptruk merk hino dan dua unit genset kepada yang berhak di PT Harmoni Sulung Perkasa.

Dalam dakwaan JPU, Ardhani dituding telah melakukan penggelapan jabatan. Dimana pada tahun 2019 Ardhani secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengurus PT. Harmoni Sulung Perkasa atau tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Harmoni Sulung Perkasa, bertindak untuk dan atas nama pribadi mengadakan kerjasama dengan PT Sani Persada Mandiri untuk melakukan penambangan batu dengan menggunakan barang inventaris PT. Harmoni Sulung Perkasa berupa 1 unit Mesin Stone Crusher, 2 unit Excavator Merk Komatsu PC-200, 2 unit dumptruk Hino, 2 unit Genset. 

Sementara uang hasil kerjasama penambangan batu PT. Harmoni Sulung Perkasa tersebut sesuai dengan aturan atau Standar Operasional Prosedur (SOP) seharusnya semua pemasukan keuangan masuk rekening PT. Harmoni Sulung Perkasa namun oleh Ardhani masuk rekening pribadi terdakwa. 

Pada Januari 2020, Ardhani kembali mengeluarkan 2 unit Excavator Merk Komatsu PC-200 dan 2 unit dumptruk Hino dari Lokasi tambang PT Sani Persada Mandiri. Selanjutnya pada Mei 2020, Ardhani malah menjual 1 unit Excavator Komatsu PC-200 seharga Rp610 juta dan 1 unit Excavator Komatsu PC-200 lainnya disewakan kepada Beni dengan harga sewa sebesar Rp40 juta per bulan tanpa sepengetahuan pihak PT. Harmoni Sulung Perkasa.

Uang hasil penjualan dan hasil sewa diterima pada rekening Bank BCA atas nama Ardhani, kemudian terhadap 2 unit Dumptruk Hino dititip kepada Iping dengan sistem bagi hasil dimana pada bulan Juni sampai dengan Juli 2020 mendapat hasil sebesar Rp8 juta dimana keseluruhan uang hasil penjualan, sewa dan bagi hasil barang inventaris PT. Harmoni Sulung Perkasa masuk ke rekening pribadi Ardhani dan digunakan untuk kepentingan pribadi. Bahwa akibat perbuatannya PT. Harmoni Sulung Perkasa mengalami kerugian sebesar Rp2,118 miliar.

Untuk diketahui, Ardhani juga merupakan mantan terpidana tambang galian C di Lingkungan Sumur Bayur, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon karena terbukti melakukan penjualan hasil pertambangan tanpa izin usaha pertambangan produksi operasi (IUP OP) pada 2020 lalu. Dalam kasus itu, Ardhani hanya divonis 1 bulan dan 7 hari kurungan  dan dikenakan denda Rp20 juta subsider 2 bulan kurungan oleh Majelis Hakim PN Serang. Selain itu, Ardhani diduga menjual 1 unit Excavator Komatsu PC-200. Namun 1 unit Excavator Komatsu PC-200 tidak diserahkan ke perusahaan. (Fahmi Sa’i)