Beberapa anggota komunitas Bahasa Jawa Serang berfoto di sekretariat, Taktakan, kota Serang, Jumat (1/3).

Bahasa ibu, bukan sekadar simbol komunikasi. Pegiat komunitas bahasa Jawa Banten menyebutnya sebagai identitas diri. Mereka pun tak rela, jika bahasa ibunya usang dimakan waktu.

Bahasa Jawa Banten memang masih bisa dijumpai di beberapa daerah di Provinsi Banten. Di antaranya, Kota Serang, Kota Cilegon, sebagian Kabupaten Serang, dan perbatasan Kabupaten Tangerang. Namun, itu hanya untuk wilayah-wilayah perkampungan. Di sudut-sudut perkotaan, kini mulai jarang ditemukan. Bahasa Jawa Banten yang di wilayah Serang lebih dikenal ‘Jaseng’ itu mulai tak familiar di tempat-tempat kongko anak-anak mudanya.

Keresahan itu dirasakan beberapa kawula muda, yang tergabung pada Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS) di Kota Serang. Sembilan tahun lalu, tepatnya November 2009, mereka menghimpun diri. Tujuannya, melestarikan bahasa ibu mereka jadi percakapan sehari-hari.

Mereka memanfaatkan media sosial (medsos) Facebook sebagai sarana kampanye. Gayung bersambut, saat itu Facebook sedang menjangkiti anak-anak muda. Tak hanya di wilayah Serang dan sekitarnya, banyak perantau di luar Banten dan luar negeri meresponsnya dengan baik.

Kini, komunitas tersebut sudah memiliki 22 ribu member. Sedangkan, anggota aktif yang rutin menggelar kopi darat (kopdar) berjumlah 100 orang lebih. “Kita miris bahasa Serang yang pasaran atau bebasan mulai pada malu ngucapinnya. Makanya, dari awal tujuan kita melestarikan bahasa Jawa Serang,” aku perwakilan BJS Lulu Jamaluddin saat ditemui Radar Banten di basecamp BJS di Taktakan, Kota Serang, Jumat (1/3).

Lulu bersama rekan-rekannya yang mayoritas jurnalis, sengaja membentuk BJS lantaran melihat banyak anak muda yang mulai meninggalkannya. Gerakan yang dilakukan BJS tidak muluk-muluk. Anggotanya dalam Facebook boleh memposting informasi apa pun. Syaratnya satu, wajib menggunakan bahasa Jawa Banten. Jika tidak maka admin akan memblokirnya.

Seiring waktu, BJS tidak hanya bergerak di Facebook. Berbagai acara digelar. Salah satunya festival tahunan yang menyuguhkan budaya, kesenian, sampai kuliner yang berkaitan dengan Jawa Banten. “Sekarang bukan hanya bahasa, tapi juga kesenian dan kebudayaan kita lestarikan,” kata Lulu.

BJS tidak sendirian dalam menjaga kelestarian bahasa. Di Ibukota Banten, ada juga Komunitas Jorangan Jawa Serang (JJS). Komunitas ini mengampanyekannya lewat media film berbahasa Jawa Serang. Lewat Channel Youtube ‘Aliff Batasa’, berbagai film-film parodi diproduksinya. Selain sebagai saluran menjaga bahasa Jawa Banten, channel yang memiliki scibcribe 18 ribu ini, cukup menggundang gelak tawa penonton.

Tidak ketinggalan ada Rambo Banten. Lewat Instagram dan YouTube, Rambo Banten mengampanyekan bahasa Jawa Banten dengan dubbing video. Dubbing dengan durasi satu menit itu menceritakan candaan khas-khas orang kampung. “Karakter ceritanya tukang becak, petani yang saya dengerin di kampung-kampung. Makanya bahasanya ya Jaseng pasaran,” kata Rambo Banten saat ditemui di salah satu kafe di Kota Serang, kemarin.

Pria keturunan Manado-Kota Serang ini awalnya coba-coba dan hanya membagikan kepada teman sejawatnya. Setelah menerima masukan, videonya diviralkan per 13 September 2017. Video ke-empatnya yang menampilkan cerita Rambo pun viral. Lantas, ia ketagihan untuk memproduksi video-viddeo lebih lanjut.

Terlebih, pria berusia 29 tahun merasa iri dengan temannya dari berbagai daerah lain yang tidak pernah malu bercakap-cakap dengan bahasa daerahnya. Sementara di Serang, seperti ada rasa gengsi dan malu menggunakan bahasa ibunya. “Padahal bahasa itu menunjukan identitas kita. Coba kalau teman-teman kita di Solo, Jogja, mereka kalau nongkrong pakai bahasa sendiri. Kita sudah ketinggalan jauh,” ungkapnya.

Peracik obat pada salah satu klinik di Kota Serang ini lantas mempraktikkan caranya men-dubbing suara. Ada tiga suara yang dipamerkannya. Mulai suara laki-laki dewasa, suara perempuan dewasa, dan suara anak kecil. Cerita percakapan orangtua dan anaknya yang hendak berangkat sekolah itu berpesan, agar anak-anak muda Kota Serang jangan sampai malu berdialog dengan bahasa Jawa Banten.

Selain pegiat media sosial, bahasa Jawa Serang juga banyak dikampanyekan sastrawan di Kota Serang dan Cilegon. Salah satunya, Muhammad Rois Rinaldi. Pria yang aktif sebagai Ketua Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa) memilih membuat karya puisi dan cerpen menggunakan bahasa Jawa Banten.

Sastrawan yang tinggal di Cilegon ini, punya beberapa karya dalam bahasa Jawa Banten. Di antaranya, kumpulan puisi berjudul Beluk dan kumpulan cerpen berjudul Sederenge Dibakte Mabur Sewu Kelawe.

Di puisi tersebut, Rois ingin menyampaikan pesan kesadaran pentingnya menjaga identitas kebantenan. “Banyak sekali pertanyan, Bang Rois siapa sastarawan yang sudah buat dengan bahasa ibu? Daripada saya dihujani pertanyaan-pertanyaan itu, akhirnya saya buat puisi dan buku berbahasa Jawa Banten,” ungkapnya.

Bahkan saat mendapat undangan pembacaan puisi di Singapura, Rois mengajukan syarat kepada pihak panitia. Ia akan memenuhi panggilan itu dengan syarat puisi yang dibacanya berbahasa Jawa Banten. “Saya bilang, puisi itu bahasa universal, orang akan bisa memahami isinya dengan intonasi dan penghayatan pembacanya,” kata Rois yang lalu membacakan puisinya yang berjudul ‘Temurun’.

Bagi Rois, bahasa Jawa Banten bukan hanya bahasa daerahnya. Akan tetapi, bahasa ibu adalah identitas diri kebudayaan masyarakat Banten. “Tanpa bahasa ibu, kita akan sulit mengindentifikasi diri kita sendiri. Dan sesat pikir, jika kita menyebut bahasa daerah itu kuno,” cetus sastrawan yang karyanya banyak beredar di Malaysia dan Singapura ini. (Ken Supriyono/)