Gen Juru Penyelamat (Mitos) Juara

0
81
Ekspresi Toni Kroos usai membobol gawang Swedia sekaligus memastkan kemenangan Jerman. Foto: AFP

Oleh: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten/Pegiat Komunitas BantenFuture

Free kick (tendangan bebas) Tooni Kroos, menukik di sudut pojok gawang Swedia: Robin Olsen tidak bisa menghalau. Gol dramatis. Jerman menang (2-1), di penguhujung laga (90+5).
Pertandingan lanjutan fase grup F, di Stadion Olimpiyskiy Fisht, Sochi, Minggu 24 Juni 2018, memang jadi pertaruhan hidup mati Jerman. Kalah dari Swedia, berarti Jerman angkat koper.
Bukan pemilik gen juara kalau tak bisa keluar dari tekanan itu. Buktinya, kondisi kritis tak membuat Jerman kehilangan konsentrasi. Permainan anak asuh Joachim Low tetap atraktif. Kombinasi seimbang: permainan kolektivitas Jerman pecundangi Swedia.
Jerman tidak cuma menujukan diri sebagai tim bermental Juara. Juga, mampu mengontrol emosi permainan. Padahal, Der Panzer dalam super tertekan: tertinggal satu gol di paruh waktu. Kemenangan jadi keharusan mutlak.
Kematangan Kroos, sebagai jenderal di lapangan patut diacungi jempol. Meski sempat membuat kesalahan–terjadinya gol Swedia–, performanya memberi keseimbangan lapangan tengah.
Kroos, berhasil memadupadankan akurasi umpan dengan permainan cepat, Khimik di sisi kanan, dan Weaner di sisi kiri. Juga sentuhan Reus, yang menyamakan skor di awal babak kedua.
Saat memburu gol kemenangan, Jerman kehilangan bek tangguhnya-Jeremy Boateng. Tekel kerasnya berujung kartu kuning kedua (kartu merah). Boateng keluar lapangan pertandingan. Situasi makin genting.
Tapi, Low juga bermental juara. Pelatih smart. Syarat pengalaman. Ia tak mengendurkan serangan anak asuhnya. Malahan menarik pemain bertahan: memasukan Julian Brandt. Gelandang serang muda (22 tahun), yang merumput di Bayer Leverkusen. Hasilnya positif: baru tiga menit masuk hampir mencetak gol. Beruntung, mistar masih menyelamatkan Robin Olsen untuk memungut bola.
Laga semakin seru. Masa injuritime datang. Ketegangan menyelimuti supporter Jerman. Juga pemain-pemain Jerman yang parkir di bangku cadangan. Semua harap-harap cemas. Nasib Jerman ditentukan lima menit lagi.
Dan, sorak sorai kemenangan pun tiba. Skema free kick satu dua (Kroos dan Reus) menjadi penutup laga yang dramatis. Kroos membalas kesalahannya: gol (juru) penyelamat Jerman pulang kandang.
Free kick, yang mengingatkan penulis pada aksi Cristiano Ronaldo–saat imbang (3-3) melawan Spanyol–. Ronaldo membuat gol free kick spektakuler ke gawang Devid De Gea–. Gol yang juga menjadi juru selamat dari kekalahan–.
Gol Kroos, bukan sekadar gol penyelamat. Juga, kemenangan. Gol itu nyata. Pembuktian mental pemilik gen juara: bermain kolektif, solid sebagai satu kesatuan tim. Tak aneh, Jerman punya sematan spesialis turnamen.
Mental itu, nyatanya tak hanya dimiliki Jerman secara tim. Pemain-pemain kuncinya hampir punya mental itu. M Nuer, Boateng, Hummel, Muller, Ozil, Kroos, dan Gomez, adalah nama-nama yang ikut mempersehbakan juara empat tahun lalu. Gen pemain yang lahir dari metode: pelatihan dan pembinaan sistematis akademi club-club di Jerman.
Mental pemain Jerman ini, menegasi mitos (sepakbola) di Piala Dunia: juara dari Eropa yang kalah dipertandingan awal, akan kalah di perdandingan kedua. Lalu gugur di fase grup. Mitos sepakbola yang menimpa Perancis (juara 1998), Italia (juara 2006), dan Spanyol (juara 2010). Mereka menyandang juara bertahan, tapi tak ada satu pun yang lolos fase grup empat tahun setelahnya.
Tapi, mitos bagi (warga) Jerman, sudah lama dikubur dari alam pikirnya. Terkubur dengan masa lahirnya Aufklarung. Era pencerahan, yang dipelopori filsuf-filsuf Jerman. Sejak abad ke-18. Era yang oleh Imanuel Kant, disebut sebagai bebasnya manusia dari rasa ketidakmatangan: ketidakmampuan menggunakan penalaran.
Era itu, era penting Jerman mulai sadar pentingnya pemikiran ilmiah. Begitu pun dalam perkembangan sepakbolanya. Jerman tidak ingin ulangi masa kelam: keok di fase grup Piala Eropa Belgia-Belanda 2000. Pulang tanpa kebanggaan.
Faktanya: Deutscher Fusball Bund (DFB) atau federasi sepakbola Jerman, lakukan pencerahan. Mereka siapkan rancang bangun tim solid: mewajibkan setiap club sepakbola membuka akademi. Era tumbuh kembangnya pemain-pemain bintang. Bermental juara.
Era baru (pencerahan) sepakbola pun dimulai. Sarana inti pelatihan dipersiapkan. Juga sarana penunjang: medis, releksasi, psikolog, asrama hingga family host. Semuanya lengkap. Visinya satu: membentuk tim lewat pembinaan akar rumput bibit-bibit talenta muda.
Jadi, bukan mitos, jika Jerman bisa merajai sepakbola dunia. Spesialis turnamen dengan koleksi tropi: empat Piala Dunia, tiga Piala Eropa, dan satu Piala Kofiderasi.
Lalu, untuk Tim Nasional Indonesia? Sepertinya, kita baru bisa mengaharap: sepakbola tidak lagi bargantung pada APBD/APBN. Para stekholdernya, juga jangan lagi sibuk mempolitisasi sepakbola. Lalu, memulai pembinaan bibit muda secara matang. Dan semoga, kelak Indonesia tampil di Piala Dunia dan menjadi juaranya. Mari berdoa.