Generasi Baduy Terpapar Medsos

0
299 views
Pemerhati Baduy, Uday Suhada (kiri), bersama dengan pembicara lain saat berdiskusi mengenai generasi muda Baduy di salah satu kafe di Kota Serang, Sabtu (10/10). Uday mengutarakan bahwa anak muda Baduy saat ini terpapar medsos.

9 Ribu Warga Baduy Miliki Ponsel Pintar

SERANG – Dari 14 ribu lebih warga Baduy, sebagian besar kini sudah menggunakan telepon seluler (ponsel). Bahkan hampir semua generasi muda Baduy memiliki ponsel pintar atau smartphone android.

Derasnya perkembangan teknologi informasi menembus bilik-bilik rumah warga Baduy Luar di Kabupaten Lebak. Kecanggihan ponsel yang kini tidak sekadar alat telekomunikasi telah mengancam tradisi warga Baduy. Anak mudanya mulai kecanduan media sosial (medsos). Padahal, hingga saat ini semua warga Baduy masih konsisten tidak menggunakan listrik.

Hal itu terungkap dalam diskusi tentang warga Baduy dan tantangan zaman, yang digelar komunitas pecinta dan pemerhati Baduy, di salah satu kafe yang ada di Kota Serang, Sabtu (10/10).

Diskusi yang digagas aktivis sekaligus pemerhati Baduy, Uday Suhada menghadirkan Jaro Saija selaku Kepala Desa Kanekes (Jaro Pamarentah dari lembaga adat Baduy), Lisa Karnaatmadja – keturunan ke-9 Wirasuta (Pangeran Astapati, panglima perang Sultan Ageng Tirtayasa yang berasal dari Baduy Dalam), Rohaendi, seniman Banten dan komunitas Indigenous Organic.

Dalam paparannya, Uday mengungkapkan hingga 2020 jumlah warga Baduy lebih dari 14 ribu jiwa. Mereka tersebar di 68 kampung, tiga kampung di antaranya adalah warga Baduy Dalam. Dari jumlah itu, hampir semua generasi mudanya telah memiliki ponsel pintar.

“Berbeda dengan para orangtuanya yang menggunakan ponsel biasa (hanya bisa nelepon dan SMS), anak muda Baduy justru menggunakan ponsel pintar (smartphone android) yang bisa mengakses medsos. Ini tentu menjadi ancaman besar bagi generasi Baduy,” kata Uday mengawali diskusi.

Ia melanjutkan, fenomena anak muda Baduy memiliki ponsel pintar telah menjadi ancaman serius. Bila dibiarkan akan mengancam hilangnya satu generasi warga Baduy. “Kami prihatin atas kondisi ini, Baduy saat ini banyak perubahan yang membahayakan. Mereka terancam kehilangan satu generasi. Penyebab utamanya adalah kemajuan teknologi. Android yang dimiliki dan digunakan oleh anak-anak Baduy luar telah mengubah pola pikir, sikap dan perilaku mereka. Kini sebagian besar anak muda Baduy enggan lagi membantu orangtuanya berhuma (tani),” ujar Uday.

Berdasarkan data Kominfo Kabupaten Lebak, lanjut Uday, saat ini tercatat ada 9 ribu nomor ponsel atas nama warga Baduy di Desa Kanekes. Dari jumlah itu, yang aktif ada 6 ribu nomor ponsel. “Dengan pengguna ponsel sebanyak itu, generasi muda Baduy lebih sibuk nge-charge ponsel ke desa tetangga Kanekes yang ada listriknya, dibanding membantu orangtuanya bertani,” tuturnya.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung, tapi di sisi lain ada banyak dampak negatifnya khususnya pada generasi Baduy. Uday menuturkan sejak 1994 hingga 2007, komunikasi yang dibangun warga Baduy mengandalkan telepati. “Dulu saya berkali-kali mengalami hal itu. Kini ponsel android menjadi andalan mereka,” bebernya.

Bahkan ponsel pintar  kini sudah menjadi sarana untuk berniaga secara online bagi warga Baduy. Yang mengkhawatirkan adalah tidak adanya kontrol terhadap konten yang mereka akses. Mayoritas mereka adalah pengguna medsos, bahkan menjadi Youtuber, tiktok dan sebagainya. Mereka bebas mengakses konten apa saja dan kapan saja. “Sementara orangtuanya, di samping sibuk berhuma, juga tidak paham apa itu smartphone, medsos dan apa bahayanya dari konten negatif yang merusak cara berpikir dan berperilaku anaknya,” tambah Uday.

Perubahan perilaku kaum milenial Baduy akibat terpapar medos, ditambah lagi dengan menjamurnya Youtuber yang membuat konten tentang Baduy saat berkunjung ke Kanekes, telah jauh melangkahi hukum adat Baduy. “Karena itu saya mengajak para pengguna medsos untuk lebih bijak dalam membuat konten. Hormati hukum adat dan jangan eksploitasi mereka,” tegas Uday.

Kepala Desa Kanekes Jaro Saija membenarkan apa yang dikhawatirkan Uday. Ia mengaku khawatir dan kesulitan menghadapi situasi yang mengubah perilaku anak muda Baduy. “Makanya saya mengharapkan bantuan dari pemerintah dan para pemerhati Baduy dalam menghadapi masalah ini. Kami tidak ingin generasi penerus kami hancur karena kemajuan teknologi. Sebab tugas hidup orang Baduy itu adalah bertani, melestarikan adat istiadat, bukan main medsos,” ujarnya.

Sementara Lisa Karnaatmadja sebagai keturunan Baduy mengungkapkan kecemasannya terhadap masa depan tradisi Baduy. “Kami telah membuat komunitas Indigenous Organic sebagai pecinta Baduy. Kami akan melakukan sesuatu agar generasi muda Baduy tidak hilang karena arus modernisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, bersama komunitas pecinta Baduy telah membuat film dokumenter, terkait ancaman yang dihadapi Baduy saat ini. Dengan begitu, diharapkan warga Baduy kembali menjaga adat dan tradisinya. “Alhamdulillah atas izin dari Pemangku Adat Baduy Dalam dan Jaro Pamarentah, kami telah membuat film dokumenter yang berjudul Urang Kanekes, Satu Generasi yang Hilang yang akan dipublish dalam waktu dekat ini,” pungkasnya.

Sedangkan Rohaendi mengungkapkan, dalam dua tahun  terakhir banyak akun medsos dengan embel-embel Baduy. “Saya temukan banyak akun anak muda Baduy yang membuat status, meng-upload foto dan tiktokan, yang sebenarnya ditabukan. Maka saya kontak satu persatu untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan adat Baduy. Saya sungguh prihatin,” katanya.

Ia berharap, pemerintah daerah dan instansi terkait lain harus menyikapi serius persoalan yang dihadapi warga Baduy saat ini. “Harus ada upaya untuk menjaga dan melestarikan adat Baduy. Jangan sampai terlambat dan dunia luar terlalu jauh memengaruhi mereka,” harapnya. (den/alt)