Generasi Milenial Kesulitan Beli Rumah

Ilustrasi

JAKARTA – Generasi milenial diperkirakan mengalami kesulitan mendapatkan hunian. Pasalnya, rata-rata saat ini mereka berpenghasilan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan.

Angka tersebut berada di atas ketentuan mendapatkan KPR subsidi yang ketentuan penghasilan maksimal Rp 4 juta per bulan. Di sisi lain, saat ini generasi milenial itu belum menjadikan kepemilikan rumah sebagai prioritas hidupnya.

Praktisi properti Peony Tang menyebut bahwa memiliki hunian bukan menjadi prioritas bagi generasi milenial. Karena, filosofi hidup generasi milenial lebih menekankan life experience. Hal itu membuat generasi yang lahir pada era 1980-2000 ini mengutamakan sosialisasi dan petualangan.

“Diperkirakan dalam 10 tahun mendatang hunian akan jadi masalah kota. Ada jurang kesenjangan antara kemampuan dengan harga pasar properti,” ujar Peony Tang dikutip JawaPos.com, Minggu (10/11).

Sebagaimana diketahui, Indonesia tengah menghadapi bonus demografi. Populasi usia produktif diperkirakan akan bertambah 2 juta jiwa setiap tahunnya selama 10 tahun ke depan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi milenial mencakup 50 persen dari total populasi usia produktif. Meski demikian, ada permasalahan baru yang timbul yaitu hunian.

Dari survei REI, sebut Peony Tang, milenial di rentang usia 30 hingga 35 tahun saat ini rata-rata mendapatkan gaji Rp 5-6 juta per bulan. Hanya segelintir saja yang memiliki gaji Rp10 juta setiap bulan.

Rendahnya kemampuan milenial membeli hunian komersial, merupakan imbas dari penghasilan mereka. Dengan gaji Rp 5-10 juta itu, milenial tak berhak mendapat KPR subsidi. Otomatis mereka harus beralih keperumahan komersial. Hal itu membuat keinginan generasi milenial untuk membeli rumah sangat rendah. (jpc)