Gerakan Sosial di Banten Melemah

SERANG – Gerakan sosial di Banten yang cenderung lambat bahkan stagnan perlu mendapat evaluasi. Ini perlu dilakukan agar ada perbaikan pada sisi berjalannya pemerintahan dan terciptanya masyarakat yang kritis terhadap pembangunan. Iklim demokrasi menjadi salah satu kondisi yang sangat diperlukan untuk menciptakan gerakan sosial masyarakat yang kritis dan sadar akan pentingnya partisipasi warga dalam menentukan arah kebijakan.

Hal ini mencuat dalam focus group discusion (FGD) Sekolah Demokrasi Serang bertema “Mencari Solusi Stagnasi Gerakan Sosial di Banten”. Sebagai pembicara, akademisi Untirta Ikhsan Ahmad mengatakan bahwa gerakan sosial yang ada di Banten perlu kembali dirumuskan.

“Gerakan sosial di Banten melemah, terutama karena beberapa faktor seperti ketidakharmonisan dengan lingkungan yang menciptakan eksploitasi dan ketidakharmonisan dengan sesama yang melahirkan mafia,” jelasnya, di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu (16/7/2014).

Selain itu, Ikhsan mengatakan bahwa rusaknya sistem sosial dan ekonomi masyarakat menjadikan kendala besar bagi gerakan sosial di Banten. “Perlu ada pengetahuan, kearifan, keberanian dan ketegasan untuk menciptakan gerakan sosial,” paparnya.

Ikhsan juga membagi gerakan sosial yang lahir belakangan di masyarakat Banten, yakni gerakan sosial bayaran, parsial status quo, dan gerakan solidaritas.

Sementara itu, Dekan FISIP Unsera Abdul Malik lebih menyoroti soal kondisi ruang publik di Banten yang semakin hilang. Dari ruang publik ini kemudian lahir wacana kritis untuk menciptakan masyarakat yang sadar dengan kondisi pemerintahan dan lingkungannya,” katanya.

Di Banten, khususnya Kota Serang, lanjutnya, ruang publik semacam ini telah berubah fungsi hanya sebatas arena ekonomi yang mengabaikan interaksi masyarakatnya. “Banyak gedung-gedung berubah fungsi, kini tidak lagi mengusung ketersediaannya ruang publik di Banten.”

Yhanu Setiawan dari Komisi Informasi Republik Indonesia malah menganggap gerekan sosial di Banten telah lenyap. “Siapa yang bisa menunjukkan kepada saya gerakan sosial seperti apa yang sudah terjadi di Banten. Faktanya gerakan sosial hanya dimaknai sebagai aksi demonstrasi yang tidak signifikan menyelesaikan persoalan dalam jangka panjang,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa gerakan sosial seharusnya diarahkan pada langkah yang lebih nyata seperti mengurangi jumlah kemiskinan, pelayanan kesehatan dan terjaminnya kesejahteraan. “Jadi gerakan sosial lebih terasa dan tidak malah menjadi kepentingan politik,” pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan FGD ini berbagai elemen seperti tokoh masyarakat, akademisi, aktivis, mahasiswa dan pemerhati budaya di Banten. (Wahyudin)