Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

Jarum jam menunjukan pukul 23.00. Salah satu stand makan cepat saji di Kota P, ramai dipadati pengunjung. Mereka datang berpasang-pasangan. Namun, pasangannya bukan berlawanan jenis, namun sejenis.

Mereka memesan makanan dan minuman sambil sesekali bercengkarama dengan pasangannya. Ada yang saling menyuapkan makanan atau ice cream .Ada juga yang saling berpegangan tangan antara satu dengan yang lainnya.

Rata-rata mereka masih berusia muda. Pakaiannya rapi dan mengenakan busana yang mengikuti tren perkembangan zaman. Mereka sangat memperhatikan penampilan. Mulai dari bentuk badan hingga bau badan. Aroma wangi tercium dari tubuh para pria penyuka sesama jenis ini.

Mereka tak terlihat canggung meskipun bermesraan di depan umum tersebut. Pasalnya, malam akan segera berganti pagi dan masyarakat tak banyak beraktivitas di jam tersebut. Sehingga mereka tak perlu dipusingkan dengan tatapan aneh masyarakat dengan perbedaan orientasi seks yang mereka lakukan.

Tak hanya menunjukan eksistensi di ranah publik, para lelaki atau perempuan sesama jenis ini juga mempromosikan diri di media social, dengan mencantumkan nomor telepon, plus kriteria pasangan sesama jenis yang bisa mereka kencani serta service yang akan mereka layani.

Sayang, situs penyuka sesama jenis ini hingga saat ini tidak diblokir. Sehingga, begitu mudah para penyuka sesama jenis ini mencari calon baru. Baik yang ingin coba-coba ataupun yang sudah merasa nyaman dengan penyuka sesama jenis tersebut.

I, salah seorang gay di Kota P mengaku sejak kecil ia sudah merasakan dirinya wanita. Sehingga, ia kerap melakukan kebiasaan seperti wanita pada umumnya. Tak hanya itu, dia juga menyukai berambut panjang dibandingkan dengan berambut pendek seperti pada laki-laki pada umumnya.

Baginya, kendati fisiknya laki-laki, namun naluri wanitanya jauh lebih peka. “Saya sempat dimarahi orangtua, namun bagi saya hal itu bukanlah masalah,” ucapnya.

I mengaku juga memiliki pacar seorang aparat. Meski sesama jenis, namun aktivitas yang kerap dilakukannya, sama seperti pasangan kekasih lainnya. “Kami merasa nyaman dengan hubungan yang kami jalani. Meskipun banyak orang yang tak terima dengan keberadaan kami,” tukasnya.

Perkenalan I dengan pacar yang oknum aparat tersebut secara tak sengaja. Saat itu, ia sedang makan di salah satu kafe. Kemudian, pada saat yang bersamaan juga datang oknum aparatnya tersebut. Saat mata saling memandang, kala itulah mereka saling jatuh cinta.

“Biasanya, kami penyuka sesama jenis tahu lewat pandangan mata. Seperti pria dan wanita yang saling jatuh cinta, maka pada pria sesama jenis juga seperti itu yakni menatap pasangannya dengan dalam dan saling mencuri pandang,” tukasnya.

I menyadari perilaku seks menyimpangnya. Bahkan keluarganya, kerap menasehatinya, namun nasihat tersebut hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. “Kalau sudah cinta, mau gimana lagi,” ucapnya.

Lain lagi cerita Gay lainnya, D. Meski terlahir dengan fisik laki-laki, namun sejak kecil, ia kerap didandani seperti wanita. Karena kedua orangtuanya sangat menginginkan anak perempuan. Untuk mainan, ia sering dibelikan mainan yang biasa digunakan perempuan. Sejak saat itulah dia mulai merasa nyaman menjadi perempuan. Sejak remaja, D mengaku sudah tertarik pada sesama jenis. Bahkan ketika ada perempuan cantik dan seksi lewat di depannya, tak ada rasa apapun yang dirasakannya.

“Saya tak merasakan apapun. Beda saat melihat laki-laki yang ganteng dan atletis.  Jantung saya deg-degan dibuatnya dan saya bisa uring-uringan dibuatnya bila tak berjumpa,” tukasnya.

Lain lagi pengakuan K, penyuka sesama wanita ini mengaku awalnya ia menjalani hubungan lazimnya seperti orang kebanyakan. Ia tinggal dalam lingkungan keluarga yang sangat fanatik terhadap agama.

Orangtuanya memberikan aturan yang sangat ketat dalam pergaulannya. K pernah menjalin hubungan dengan pria, namun hubungan itu kandas di tengah jalan akibat perselingkuhan. K kemudian jatuh cinta pada pria lain, namun sayang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. K menyimpan semua rasa kecewanya tersebut di dalam hatinya sampai ia bertemu dengan A, saat mengikuti magang di Kota B.

Pada saat itulah, K bertemu dengan A. Senior-seniornya di tempat praktek kerja lapangan (PKL) sudah menginggatkan agar K menjauhi A. Karena A memiliki perilaku menyimpang yakni penyuka sesama jenis. Namun, hal tersebut tak membuat K menghindar.

Bagi K, A adalah orang yang enak untuk diajak ngobrol dan berkeluh kesah. K mulai merasakan kenyamanan dengan A. Karena A lebih memahaminya dan selalu memberikan dukungan terhadapnya. Selain itu, aturan yang ketat dalam keluarganya yang tak membolehkan laki-laki dan perempuan untuk terlalu bebas bergaul membuatnya semakin dekat dengan A.

“Saya sering menginap di tempat kostnya. Sejak saat itulah kami dekat, bahkan kerap melakukan hubungan,” ucapnya.

(ayu/ 0/cr5/cr3/sam/jpnn)