Golok Banten Miliki Banyak Keistimewaan

0
2198

Seminar Sejarah Banten

SERANG – UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten mengingatkan kembali sebuah sejarah berharga yang nyaris terlupakan oleh masyarakat, yakni sejarah Golok Banten melalui seminar Sejarah Banten sesi internasional yang digelar melalui zoom meeting, Rabu (24/3/2021). Seminar yang bertajuk ‘Golok Banten, Sejarah dan Jenisnya’ ini diisi oleh tiga narasumber bepengalaman, yakni Guru Besar Seni Golok Indonesia Ki Kumbang, Penulis buku The Golok Italy Linda Turcy, dan Presiden Netherlands Pencak Silat Federation Belanda Olivier Blancquert.

Dalam pemaparannya, Guru Besar Seni Golok Indonesia Ki Kumbang mengungkapkan bahwa golok adalah salah satu pusaka Banten warisan bangsa Indonesia yang memiliki berbagai jenis, seperti jenis bilah dan jenis handle. Dari sekian macam jenis, semuanya memiliki arti dan filosofi yang terkandung kuat di dalamnya.

“Beberapa jenis dari golok pusaka juga ada yang berhiaskan emas dan batu mulia yang menandakan strata sang pemiliknya,” ujarnya. Sebagian dari golok pusaka juga ada yang dikramatkan, baik karena memiliki unsur spiritual yang terkandung di dalamnya ataupun karena jenis material langka yang disatukan pada bilahnya.

Kualitas dan kekuatan Golok Banten menurutnya sulit dikalahkan oleh golok yang lain karena berbahan meteorit. Sebuah senjata pusaka dengan bahan meteorit, kata Ki Kumbang, diprediksikan mampu bertahan ribuan tahun sekalipun terkubur dalam tanah atau terendam dalam air.

Ia mengurai nama-nama belasan jenis golok, di antaranya golok Salam Nunggal, Ujung Turun, Paut Sintung, Pameuncitan, Paut Nyere, Malapah Gedang, Rajang, Candung, Gaplok, Parahu Nangkub, Hambalan, Galonggong, dan Sintung Bening. “Ditemukan banyak retakan alami tidak beraturan pada artefak maupun pusaka meteorit yang harfiahnya sangat keras sekali. Hal ini menunjukkan rentang waktu yang sangat lama sekali, karena untuk terbentuknya retakan-retakan tersebut dibutuhkan waktu ribuan tahun,” terangnya.

Ki Kumbang berharap, masyarakat terutama kalangan anak muda akan lebih mengenal tentang aneka ragam jenis pusaka golok. Karena dengan mengenalnya, maka akan bertambah pengetahuan tentang budaya dan seni golok di masa lalu sampai sekarang ini.

“Yang penting diketahui bahwa golok adalah senjata para raja tanah Pasundan, bukan senjata tani atau berkebun dan juga bukan senjata dari rumpun melayu,” ujar Ki Kumbang. Namun, merupakan senjata masyarakat Sunda pada zaman dahulu. Harapannya, kedepan tak ada lagi masyarakat yang memandang golok sebagai senjata tajam biasa.

Sementara itu, Penulis The Golok Italy Linda Turcy mengaku termotivasi menulis tentang golok karena melihat bahwa golok memiliki banyak keistimewaan, sehingga dirinya pun jatuh cinta.

“Saya menulis golok karena ada ketertarikan personal dan subyektif, karena ternyata benda ini merupakan senjata dan juga sekaligus identitas yang cukup menarik,’ ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Presiden Netherlands Pencak Silat Federation Belanda Olivier Blancquert. Sebagai praktisi pencak silat, dirinya akan terus mempromosikan golok di forum-forum internasional. Ia menganggap golok sebuah benda yang istimewa. (*)