Gubernur: Ibu-ibu Jangan Kebanyakan Selfie, Perhatikan Anak

SERANG – Banyaknya kasus kejahatan terhadap anak yang saat ini terjadi, tidak terlepas dari kurangnya perhatian orangtua terhadap anak. Selain menjadi korban aneka kejahatan, anak pun banyak mengalami hal buruk akibat lengahnya orangtua dalam mengawasi aktivitas anak.

Hal tersebut menjadi perhatian Gubernur Banten Wahidin Halim. Karena itu, mantan Walikota Tangerang itu berharap agar orangtua, khususnya ibu, agar sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada anak.

“Anak itu tergantung kepada pendidikan keluarga. Kalau emak-nya kerja, bapaknya kerja, kadang-kadang emak-nya selfie terus, anak lari-lari kemana-mana jangan harap jadi sesuatu. Gara-gara banyak selfie anaknya nyebur ke kali. Jangan banyak selfie, perhatikan anak,” papar Wahidin Halim saat launching Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di Pendopo Gubernur Banten KP3B, Curug, Kota Serang, Jumat (23/3).

Menurutnya, perhatian serta kasih sayang sangat penting bagi anak. Bukan hanya untuk menjaganya dari tindakan kejahatan dan hal-hal buruk, namun juga untuk tumbuh kembang serta masa depan anak tersebut.

Pria yang kerap disapa WH itu mengaku tumbuh dengan perhatian yang sangat besar dari kedua orangtuanya. Ibu yang sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, dan ayah seorang guru membuat WH mengaku tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

“Saya bahagia, dibesarkan oleh ibu yang tidak bekerja, ayah seorang guru. Setiap hari saya hidup bahagia, meski saya susah, kadang makan dua hari sekali. Tidur satu tempat bareng. Nimba di sumur bareng, tidak pernah putus hubungan setiap hari. Makan bareng, gak makan juga bareng. Komunikasi terbangun,” papar WH.

Komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting untuk membangun suasana rumah yang baik untuk perkembangan anak. Derasnya teknologi saat ini membuat komunikasi itu tidak berjalan dengan baik.

Anak-anak dan orangtuanya masing-masing sibuk dengan gawainya, bahkan menurutnya, saat di sekolah, anak-anak tidak berteman dengan teman satu sekolahnya namun dengan orang lain yang jauh.

“Coba, bangun hubungan komunikasi. Paling penting hubungan keluarga. Penuhi kasih sayangnya. Kenapa tidak kita yang didik, kenapa tidak kita berikan kasih sayang. Emak-nya kerja, diserahkan ke asisten rumah tangga. Kita tidak tahu dikasih apa anak kita. Kita tidak tahu susu yang kita beli benar-benar diberikan kepada anak kita atau tidak,” tutur WH.

Contoh dampak buruk dari kurangnya perhatian orangtua menurut WH adalah kasus pedofilia yang menimpa puluhan anak di Tangerang beberapa waktu lalu. Kasus tersebut pun diharapkan WH tidak kembali terulang.

Dalam kesempatan itu, WH pun mengingatkan kepada orangtua untuk tidak terlalu berlebihan terhadap anak. “Dicubit aja oleh guru, emak-nya lapor ke polisi. Jangan berlebihan. Kalau salah yah salah,” katanya.

PATBM ini sendiri menurut WH merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada anak yang ada di Banten. Namun menurutnya, program-program pemerintah tetap memerlukan dukungan masyarakat.

“Saya sudah bilang ke bu Nina (Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana) untuk terus membuat program perlindungan anak, tapi harus yang konkret,” ujarnya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)