Gula dan Bawang Putih Andalkan Impor

0
792 views

SERANG – Persediaan gula pasir dan bawang putih di Kabupaten Serang masih mengandalkan impor. Itu terjadi lantaran permintaan masyarakat Kabupaten Serang yang tinggi tidak sebanding dengan ketersediaan produk gula dan bawang putih lokal.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Serang, Abdul Wahid kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (10/6). Disebutkan Wahid, persediaan gula pasir dan bawang putih di Kabupaten Serang minim. Berdasarkan informasi yang diterima Wahid, gula pasir dan bawang putih yang dijual di pasar rata-rata produk impor dari negara China dan India. “Kita akui kita masih mengandalkan impor untuk gula pasir dan bawang putih. Bahkan, gula pasir impor hampir 90 persen,” ungkapnya.

Saat ini, kata Wahid, harga gula pasir dan bawang putih di pasar tradisional terbilang tinggi. Untuk gula putih berkisar Rp17 ribu per kilogram dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah senilai Rp12.500 per kilogram. Kemudian, harga bawang putih Rp30 ribu per kilogram dari HET Rp24 ribu per kilogram. Oleh karena itu, menurut Wahid, kebijakan impor perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat. “Kalau tidak impor, harganya bakal lebih tinggi lagi. Tapi, gula pasir meskipun stoknya sekarang ada, harga di pasaran masih terbilang tinggi,” jelasnya.

Untuk menekan harga gula pasir dan bawang putih, pihaknya rutin melakukan operasi pasar (OP) bersama Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Serang. OP dilakukan di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Serang. “Ini (OP-red) sebagai upaya untuk menekan harga di pasaran,” terangnya.

Wahid menambahkan, ketersediaan bawang merah juga dalam beberapa hari terakhir sempat langka. Pemicunya, musim panen petani bawang merah terlambat. “Untuk bawang merah juga kita masih di-supply dari Jawa,” tukasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan produk lokal, menurut Wahid, seharusnya dilakukan gerakan pertanian yang mengarah kepada komoditi yang langka. Seperti bawang merah yang bisa ditanam di wilayah Kabupaten Serang. “Seperti bawang merah ada di Kramatwatu itu, harus kita dorong terus petaninya supaya bisa memenuhi kebutuhan lokal. Jadi, tidak mengandalkan dari luar daerah,” tandasnya.

Terpisah, Pedagang Sembako di Pasar Baros, Ani mengakui, harga gula pasir dan bawang putih belum normal. Namun, untuk ketersediaan barang dinilainya masih aman. “Kalau kita mengikuti harga pasaran saja, terus juga dari peng-supply barangnya,” ujarnya. (jek/zai)