Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi

Tidak Membahayakan Penyeberangan di Selat Sunda

SERANG – Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda untuk kesekian kalinya mengalami erupsi. Namun, erupsi ini tidak membahayakan penyeberangan kapal di perairan Selat Sunda.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau menyemburkan material dengan tinggi kolom abu 1.000 meter di atas puncak kawah atau pada ketinggian 1.305 meter di atas permukaan laut pada Senin pagi (25/6) pukul 07.14 WIB.

Pengamat Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Deni Mardiono mengatakan, Gunung Anak Krakatau saat ini sedang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan sejak 18 Juni hingga kemarin. “Kalau setiap harinya belum terekam letusan, baru tadi pagi (kemarin-red) satu kali letusan,” ujar Deni melalui sambungan telepon seluler, Senin (25/6).

Menurut Deni, sampai kemarin kondisi Gunung Anak Krakatau masih di level II atau waspada. Aktivitas di perairan Selat Sunda dan area wisata laut di Banten masih aman. “Rekomendasinya radius satu kilometer dari kawah atau pusat letusan untuk aktivitas di Pantai Anyar, Carita, atau Lampung sejauh ini aman,” papar Deni. Penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni juga masih aman. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat  yang melakukan aktivitas di laut agar tetap waspada.

Kata Deni, erupsi kemarin merupakan fenomena alam yang terjadi secara alamiah. Siklus letusan gunung berbeda-beda, tetapi yang kemarin merupakan siklus satu tahun sekali karena tahun lalu tepatnya pada Februari 2017, peristiwa yang sama juga terjadi.

Erupsi itu membuat Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten mengeluarkan maklumat syahbandar. Dalam maklumat dengan Nomor UM.003/17/13/KSOP.Btn-18 itu, KSOP Banten mengingatkan kepada para nakhoda kapal yang sedang berlayar di Selat Sunda untuk meningkatkan kewaspadaan.

Melalui maklumat itu, KSOP Banten mengimbau para nakhoda untuk memonitor dan memantau berita cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di website resmi milik BMKG. Kemudian memonitor berita erupsi gunung dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau atau melalui alat yang bisa digunakan untuk menerima berita cuaca di atas kapal.

“Meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kondisi permesinan, kemudi, dan peralatan navigasi kapal berfungsi dengan baik, dan memastikan kelengkapan alat keselamatan kapal dapat dipergunakan dengan baik,” ujar Kepala KSOP Banten Yefri Meidison.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Fahmi Alweni saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler menjelaskan, peristiwa letusan itu tidak memengaruhi aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Aktivitas penyeberangan masih berlangsung seperti biasa.

Kata Fahmi, pihaknya akan tetap menjalin komunikasi dengan pihak-pihak terkait termasuk memberikan peringatan kepada pengusaha kapal untuk siap siaga menghadapi kemungkinan cuaca yang akan terjadi akibat peristiwa alam itu.

Di tempat berbeda, Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, erupsi melontarkan material berupa abu vulkanik dan pasir. Sejauh ini erupsi tidak membahayakan penerbangan pesawat terbang.

“Status VONA (Volcano Observatory Notice For Aviation) masih berwarna oranye. Erupsi juga tidak berbahaya selama berada di luar radius satu kilometer dari puncak kawah. Selain itu, erupsi juga tidak membahayakan pelayaran di Selat Sunda,” kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung tersebut masih aktif dan terus mengalami tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Pertumbuhan tinggi rata-rata empat hingga enam meter per tahun.

Energi erupsi yang dikeluarkan, kata Sutopo, juga tidak besar. Jadi, sangat kecil peluang terjadinya letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. “Bahkan, beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.

Berdasarkan pantauan BNPB, Gunung Anak Krakatau memang telah aktif sejak 18 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik disertai pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi erupsi.

Sutopo mengimbau masyarakat agar tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG, dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi. Penting bagi masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius satu kilometer dari puncak kawah. “Di luar itu aman. Justru dapat menikmati fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau dari tempat aman,” pungkas Sutopo. (Bayu M-JPG/RBG)