Gunung Halimun Salak Rusak Diduga Penyebab Banjir Bandang di Lebak

Kondisi akses jalan menuju Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Minggu (5/1), pascalongsor pada Rabu (1/1) lalu.

LEBAK – Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang berada di perbatasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, disinyalir dalam kondisi rusak menjadi penyebab banjir bandang dan tanah longsor di enam kecamatan di Kabupaten Lebak pada Rabu (1/1).

Luas lahan TNGHS berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003 seluas 11.367 hektare. Dari data yang dihimpun, pada 2009 sedikitnya 21,7 persen atau 24.550 hektare luas lahan di TNGHS dalam kondisi rusak. Bahkan, seluas 8.550 hektare di antaranya dalam kondisi rusak berat sehingga harus direhabilitasi secara intensif.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, aktivitas penambangan emas di hulu dan anak Sungai Ciberang sebagian besar berada di TNGHS. Sungai Ciberang melintasi empat kecamatan, yakni Cipanas, Lebakgedong, Curugbitung, dan Sajira. Aliran bermuara di Sungai Ciujung di bagian barat Kota Rangkasbitung Ibukota Kabupaten Lebak.

Sejak lama, hulu sungai ramai dipenuhi aktivitas pertambangan, secara geologis tanah di bagian hulu mengandung sumber daya mineral logam mulia. Sedikitnya, empat lokasi penambangan emas di kawasan TNGHS termasuk wilayah Kabupaten Lebak yakni Cisoka, Cikidang, Cidoyong (Kecamatan Lebak Gedong) dan Cikidang, Kujangsari (Kecamatan Cibeber).

Aktivitas penambangan ini menjadi salah satu mata pencaharian warga enam desa di Kecamatan Lebak Gedong. Keberadaan ‘glundung’ atau tempat pengolahan emas di pinggir sungai Kampung Muhara dari lima glundung empat di antaranya hanyut terbawa banjir bandang. Satu glundung tersisa tanpa aktivitas. Biasanya, glundung menampung hasil tambang dari tambang Cisoka. Penambang membutuhkan, waktu sekira tiga jam untuk mencapai lokasi tambang menggunakan motor.

Tak kalah memprihatinkan, kondisi bukit-bukit dulunya dipenuhi pohon-pohon besar di antaranya durian. Kini, sebagian besar beralih fungsi tanaman industri di antaranya pohon albasiah. Alih fungsi tanaman ini terjadi berkisar sejak 2000.

Pemicu banjir bandang lantaran aktivitas penambangan pun diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat berkunjung ke lokasi banjir di Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Sabtu (4/1). “Terkait penyebab banjir yang sangat masif dan baru pertama terjadi selama beberapa puluh tahun. Laporan dari Polda Banten penyebab utama selain faktor hujan di wilayah hulu, adalah sejumlah tambang yang longsor membawa bebatuan dan juga lumpur. Ini yang menyapu rumah penduduk di bantaran sungai sehingga mengakibatkan kerugian yang masif,” kata Doni yang ikut mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

Doni menjelaskan, banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak telah mengakibatkan kerusakan yang masif. Ribuan rumah rusak berat dan hanyut, delapan orang meninggal dunia dan satu orang masih hilang, bangunan sekolah dan pesantren rusak, serta infrastruktur hancur. Oleh karena itu, pendistribusian bantuan dilakukan melalui udara agar masyarakat yang terisolasi mendapatkan bantuan logistik yang cukup.

“Penyaluran daerah terisolir akan mendorong bantuan menggunakan helikopter beberapa hari dan evakuasi korban-korban yang membutuhkan perawatan kesehatan,” ungkapnya.

Sebelum banjir bandang, saksi hidup yang merupakan tokoh masyarakat Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Uded, mengatakan, awalnya terjadi longsor pada tanah dari perbukitan. Baru setelah itu air sungai meluap dan akhirnya banjir bandang. “Awalnya longsor bukit. Sejam kemudian baru air sungai naik dan banjir,” ujarnya saat berbincang dengan Radar Banten, Minggu (5/1).

Kampung Muhara sendiri berada di pertemuan Sungai Ciberang dan Sungai Ciladaeun. Ia pun tak mengelak jika telah terjadi perubahan tanaman dari durian menjadi albasiah di bukit-bukit di sekeliling kampung yaitu Gunung Bombang, Gunung Nyirit, Pasir Karoya. “Dulu mah banyak pohon durian. Sekarang, ada albasiah. Iya (wilayah desa Ciladaeun) penyangga kawasan TNGHS,” ujarnya.

Disinggung soal penambangan emas, Uded mengatakan, aktivitas penambangan emas berada di kawasan TNGHS. Namun, ia tak menjelaskan secara detail. “Iya (tambang emas) di Cisoka (Kawasan TNGHS-red). Tapi, kejadian longsornya bukan di sana,” terangnya. Ia pun enggan berkomentar banyak soal aktivitas tambang emas.

Sementara itu Kepala Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Yayat Dimyati mengatakan, Kampung Muhara menjadi lokasi lumpuh sesaat kejadian longsor dan banjir bandang. Ia pun mengaku longsor terjadi karena musim kemarau panjang kemudian hujan deras. “Ini bisa dilihat dikelilingi bukit-bukit. Mungkin saja kemarau panjang, udah gitu ada hujan deras. Makanya longsor,” katanya.

Disinggung soal aktivitas tambang emas di hulu sungai. Pria yang akrab disapa Yayat itu mengaku, berdasarkan informasi warga kampung di hulu sungai tempat tambang Cisoka tidak ada tanda-tanda bencana. “Kondisi di sana aman. Kalau di sini tidak ada (aktivitas tambang-red). Itu di ujung (hulu air sungai-red),” katanya. “Disini mah kalau pun ada yang kena (bencana-red) itu hanya dampaknya aja,” sambung Yayat.

Salah satu polisi hutan TNGHS yang bertugas di wilayah Kecamatan Sobang, Joni mengatakan, peralihan tanaman hutan industri membuat tanah mudah longsor. “Iya, sejak 2000-an di sini mulai ada peralihan hutan tanaman industri, ada pohon albasiah. Sebelumnya banyak pohon besar,” tandasnya. (Fauzan, Mastur)