Gurandil, Bertaruh Nyawa untuk Sumber Penghasilan

0
654 views

PENAMBANG emas liar atau yang biasa disebut gurandil telah lama beroperasi mencari penghasilan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Masyarakat sekitar sudah melakukan kegiatan ilegal itu selama puluhan tahun.

Salah satu kawasan dimana masyarakatnya mayoritas menjadi gurandil ada di Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong. Hampir 90 persen masyarakat di sini menjadi penambang emas di Blok Cisoka di Kawasan TNGHS. Kegiatan tersebut sudah dilakukan masyarakat sejak 1990-an dan hingga sekarang telah ada 20 lubang lebih di blok tersebut.

Salah seorang penambang yang namanya enggan disebutkan mengatakan, dirinya sudah lebih dari 15 tahun menambang emas di TNGHS. Kegiatan tersebut tidak dilakukan setiap hari. Terkadang, jika sedang musim tanam padi atau ada kegiatan keluarga, dia tidak melubang. Namun, ketika musim tanam atau panen selesai, dia dan warga lain kembali menambang emas di TNGHS.

“Kalau di Lebaksitu dan Lebakgedong pada umumnya, kebanyakan ikut nambang emas di TNGHS. Biasanya, kegiatan tersebut dilakukan berkelompok. Jadi enggak sendiri-sendiri,” katanya kepada Radar Banten di Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Sabtu (11/1).

Dijelaskannya, lubang tambang di Blok Cisoka memiliki kedalaman puluhan meter. Bahkan, ada yang sampai 100 meter. Di sana, ada 20 lubang lebih dan tiap hari ramai dengan aktivitas penambangan emas. Masing-masing lubang tambang memiliki lebih dari lima cabang, tergantung keberadaan dari urat emasnya.

“Di lokasi tambang enggak terjadi longsor sama sekali. Dari Kampung Lebaktenjo dan Lebaksampay jaraknya kurang lebih dua kilometer melintasi jalan setapak dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki,” jelasnya.

Masing-masing lubang dimiliki 10 hingga 20 orang. Mereka awalnya yang menggali lubang tersebut dan menemukan kandungan emas di dalamnya. Proses penggalian lubang dilakukan secara manual. Tidak ada alat berat atau teknologi canggih yang digunakan untuk membuat lubang. Semuanya dilakukan dengan tenaga manusia, menggunakan linggis, alat pahat, cangkul, dan peralatan lain. “Di masing-masing lubang terdapat 80-90 pekerja yang tiap hari menambang emas di Blok Cisoka. Mereka cukup membawa peralatan menambang dan perbekalan untuk makan serta minum,” ungkapnya.

Puluhan pekerja yang menggantungkan hidupnya di lubang tambang mencari urat emas di dalam perut bumi. Dengan bertaruh nyawa, mereka masuk ke dalam lubang untuk mencari bongkahan batu yang mengandung emas. Batu-batu hasil pahatan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Selanjutnya, hasil pahatan dibawa ke atas dan di sana telah menunggu pemilik lubang. “Jika mendapatkan 100 karung batu yang mengandung emas, 60 karung akan diserahkan kepada pemilik lubang. Sementara itu, 40 karungnya dibawa para pekerja untuk diolah menggunakan mesin gelundungan,” jelasnya.

Ditanya terkait berapa hasil menambang dalam setiap harinya, dia menyatakan, hasil menambang tidak menentu. Terkadang jika sedang untung hasilnya per orang bisa mencapai ratusan ribu. Tapi jika sedang apes maka hasilnya hanya puluhan ribu saja atau tidak ada yang bisa di bawa ke rumah. Artinya hanya cukup buat makan dan merokok saja di lokasi tambang. “Tapi rata-rata hasilnya ada. Biasanya, hasil tambang kita subsidi buat beli pupuk agar lahan pertanian menjadi subur,” katanya.

Dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Kepala Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong Tb Imron membenarkan, di wilayahnya terdapat areal pertambangan emas yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Aktivitas tambang di Blok Cisoka d TNGHS sudah beroperasi sejak lama, yakni pada tahun 1990-an. Selama ini, tidak pernah terjadi bencana banjir dan longsor yang mengakibatkan kerusakan yang masif di daerah huilir Sungai Ciberang. Untuk itu, dia heran ketika bencana besar yang menerjang wilayah Lebak utara dikaitkan dengan aktivitas penambangan emas di TNGHS. “Sejak tahun 1990-an, aktivitas penambangan emas tanpa izin sudah berlangsung di kawasan TNGHS,” ungkapnya.

Kegiatan tambang emas di Cisoka sebenarnya telah membantu masyarakat Lebaksitu dan Lebakgedong pada umumnya. Para penambang emas tersebut tidak hanya berasal dari desanya. Tapi juga dari Kecamatan Lebakgedong dan Cipanas. Mereka mengadu nasib di dalam lubang dengan kedalaman puluhan meter. “Jadi, para penambang kerjanya enggak sendiri-sendiri. Mereka berkelompok dan hasilnya dibagi setelah diolah dan dijual kepada pengepul,” jelasnya.

Pada awal 2000-an, Imron mengakui, terjadi perambahan hutan di kawasan TNGHS. Saat itu, masyarakat atau para penambang banyak yang menebang hutan untuk mendukung kegiatan pertambangan emas. Namun, masyarakat Lebaksitu ketika itu bersama TNGHS langsung melakukan penghijauan. Sekarang, kondisi hutan di sekitar areal tambang diklaim sudah hijau kembali dan tidak terjadi kerusakan hutan sama sekali. Bahkan, lokasi pertambangan tidak ada longsor seperti di beberapa lokasi di Lebakgedong. “Masyarakat saya yang menambang di Blok Cisoka hampir 90 persen dari 2.375 kepala keluarga (KK),” ujarnya.

Menurutnya, bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang beberapa kecamatan di Lebak mengundang perhatian besar dari pemerintah dan publik. Presiden Joko Widodo dan beberapa menteri turun langsung ke lapangan untuk melihat dampak banjir bandang dan longsor. Bahkan, tim gabungan dari Markas Besar (Mabes) Polri, Polda Banten, dan Polres Lebak telah ke lokasi tambang untuk melihat langsung kondisi tambang emas di Blok Cisoka. “Tim sudah melihat langsung kondisi tambang di sana dan tidak terjadi longsor di lokasi tambang,” jelasnya.

Namun demikin, Imron akan mematuhi apa pun keputusan dari pemerintah terkait tambang emas di TNGHS. Walaupun dia yakin akan ada keresahan di masyarakat yang biasa mencari kehidupan di sana. Mereka akan kehilangan mata pencaharian yang telah belasan atau bahkan puluhan tahun digeluti. “Saya dan masyarakat hanya pasrah saja dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Narta mengungkap, masyarakat di wilayahnya sebagian besar merupakan penambang emas. Mereka memanfaatkan lubang eks PT Antam untuk mencari bongkahan emas. Lubang eks PT Antam yang telah dibeton dibobok masyarakat agar bisa masuk ke dalam lubang. Mereka biasanya masuk dengan cara berkelompok. Namun, hasil dari melubang dibawa sendiri-sendiri ke rumah untuk diolah.

“Jadi, masyarakat di sini hampir 100 persen berprofesi sebagai petani. Ketika di sawah atau kebun sudah tidak sibuk, mereka menambang emas di Blok Cirotan dan Cikidang. Lubang-lubang tambang eks PT Antam menjadi lokasi untuk mencari emas dengan menggunakan pahat dan palu,” jelasnya.

Untuk itu, di rumah-rumah warga di Citorek Kidul dan Cibeber pada umumnya terdapat mesin gelundungan untuk mengolah emas. “Di sini seperti home industry. Tapi sekarang, mereka tidak lagi berani menambang karena ada larangan dari penegak hukum,” tegasnya. (tur/air/ags)