Hadapi Bencana Gunung Anak Krakatau, Basarnas Banten Siaga

Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi memberikan keterangan pers kepada wartawan seusai mengunjungi kantor Basarnas Banten, Selasa (21/8).

CILEGON – Gunung Anak Krakatau saat ini sedang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan. Setiap hari gunung yang berada di tengah-tengah perairan Selat Sunda itu mengalami letusan disertai dentuman keras. Badan SAR Nasional (Basarnas) siap siaga 24 jam untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi menjelaskan, untuk mengantisipasi segala macam kemungkinan yang akan terjadi akibat aktivitas gunung berapi tersebut, Basarnas siap siaga kapan pun dan di mana pun. Namun, sesuai peraturan yang berlaku, Basarnas baru bisa terjun setelah ada laporan bencana.

Sebelum bencana terjadi, lanjut Syaugi, masih berada di bawah kewenangan instansi lain. Informasi-informasi dari intansi terkait itulah yang dibutuhkan oleh Basarnas dalam rangka kesiapsiagaan.

“Sebelum kejadian itu (erupsi) kita sudah siap siaga seperti bencana Gunung Agung di Bali, belum ada erupsi kantor SAR yang ada di Denpasar standby kan di dekat daerah aman. Kita perlu sinergi dengan institusi lain. Jadi, kita menunggu apabila ada sesuatu. Begitu masuk tanggap darurat, kita masuk karena aturan mainnya di situ,” ujar Syaugi saat mengunjungi kantor Basarnas Banten, Selasa (21/8).

Hal itu, lanjut Syaugi, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Dalam undang-undang itu dijelaskan, wilayah kerja Basarnas, yaitu untuk mencari, menolong, menyelematkan, dan mengevakuasi korban yang sedang tertimpa bencana.

Kesiapsiagaan dilakukan oleh Basarnas sejak saat ini karena sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) Basarnas harus sudah bertindak melakukan tugas dan kewajiban paling lambat 30 menit sejak informasi kebencanaan diterima oleh Basarnas.

Terkait sarana atau alat penyelamatan untuk di air, lanjut Syaugi, di Basarnas Banten sudah ada tiga kapal resque boat. Di Basarnas Banten belum ada kapal besar karena keterbatasan anggaran. Namun, hal itu bisa dibantu dengan sarana yang ada di Basarnas Pusat.

Selain itu, beberapa sarana penyelamatan yang dimiliki oleh Basrnas Banten diantaranya dua truk persoil, empat mobil rescue, lima motor trail, tiga set perahu karet. Sarana itu didukung oleh helikopter yang selalu siap di Pondok Cabe di Bogor.

“Kita sekarang sedang pesan dua kapal besar, tapi bukan untuk Banten karena masih bisa dikover di Jakarta. Personel 24 orang diharapkan dengan berjalan waktu peralatan itu kita tambah,” ujar Syaugi.

Diketahui, beberapa bulan terakhir Gunung Anak Krakatau mengalami letusan. Namun, sejak 17 Agustus lalu letusan terjadi setiap hari dan disertai dentuman keras. Jumlah letusan tidak sedikit, mencapai angka ratusan. (Bayu M/RBG)