Judul buku           : Rumah Ajaib, Merangkul yang Terpinggirkan
Penulis                : Adong Eko
Penerbit              : Pustaka Rumah Aloy (PRA)
Cetakan pertama : Juni 2018
ix + 214 halaman : 14 x 21 cm

HARI kemerdekaan, “17 Agustus” tiba. Semua orang bersuka ria. Tak terkecuali saya. Juga semuanya yang bangga: menjadi anak bangsa Indonesia.

Hari itu, hadiah kecil datang untuk saya. Berupa buku. Judulnya, ‘Rumah Ajaib: Merangkul yang Terpinggirkan’. Hadiah itu, dari Husni Mubarok. Sahabat lama saya.

Tepatnya sahabat karib, semasa kuliah, di Solo atau Surakarta. Kami satu kos, satu organisasi. Beda satu angkatan. Juga beda jurusan: saya kesehatan, dia Psikologi.

Kami lulus pada tahun yang sama, dari kampus di Pabelan: Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang disingkat UMS. Ingat, UMS. Huruf tengahnya “M” bukan “N”. Meski tak jarang mahasiswa UMS, lebih suka menyebut dengan singkatan. Biar, “M”-nya tersamar, lalu lebih terdengar “N”. Kampus tetangga yang negeri itu. Kenapa begitu? tanya saja yang lebih suka nyebut singkatan itu.

Setahun lalu, sahabat karib itu, diterima mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). Ia ditugaskan di Kota Pontianak.

Di Kota Katulistiwa itu, yang jauh dari istrinya. Tapi, saya tahu, buku bisa menjadi sahabat sepinya. Jika tidak berlebihan, buku bak istri keduanya. Karena, istri pertamanya, tetap mba Mudiana Permatasari: alias Nana, yang kini menjadi dosen di Jakarta.

Lalu, kenapa Husni memberi hadiah buku “Rumah Ajaib” itu? Padahal, awalnya saya komentar status WhastAppnya yang memposting penggalan kata persahabatan: dari nukilan halaman novel The Godfather: karya Mario Puzzo.

Entahlah. Yang pasti, novel yang difilmkan (trilogi) oleh Puzzo dan Francis Ford Coppola, pada medio 1972 itu, sering kita putar berulang-ulang semasa kuliah. Lalu membicangkannya, sembari berjam-jam nongkrong di angkringan atau HIK (hidangan istimewa kampung), yang tidak jauh dari kos-an.

Tak perlu saya mengaitkan dengan novelnya si Puzzo. Buku “Rumah Ajaib” itu, karya seorang jurnalis muda, Pontianak Post (Jawa Pos Groub). Namanya, Hariyadi Eko Priatmono. Disampul buku itu, tertulis nama pena, Adong Eko.

Hadiah itu, motivasi! Dan nyatanya, buku itu memang memberi motivasi. Penulisnya jurnalis. Bukunya, juga produk hasil reportase jurnalistik. Dan, si penerima hadiah “saya”, juga jurnalis. Pandai benar sahabat saya: memberi hadiah sekaligus menjadi motivasi.

Isi buku itu pun, penuh motivasi. Bukan karena diksinya, yang seperti ujaran-ujarannya Mario Teguh, atau Merry Riana, yang lagi viral itu.

Ada pesan perjuangan pada buku itu. Juga sarat spiritual empiris si penulis, dan orang-orang yang ditulis. Ada cita-cita mulia, tentang masa depan: kemerdekaan anak bangsa terbebas dari jerat bahaya laten narkoba.

Adong Eko uraikan dalam 13 bagian sub judul. Bagian pertamanya, berjudul “Rumah Ajaib”, seperti judul buku itu sendiri.

Tapi, membaca bagian itu saja, tidak akan cukup. Itu piawainya Adong. Bagian utamanya dijadikannya pembuka, bagi si pembaca. Dengan gaya penulisan berita, Adong membuat tiap-tiap bagian sub judul itu, seperti alur cerita. Saling terkait. Saya serasa membaca berita bersambung. Bahkan, cerpen: yang harus dituntaskan sampai klimaks.

Pangkal idenya, dari keteguhan aktivis anti narkoba, Zaini M Yahya. Pendiri Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Bumi Katulistiwa, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Tempat rehabilitasi pencandu narkoba, yang lebih suka disebut “Rumah Ajaib” oleh si empunya.

Nalar jurnalistik Adong, menuntun pembaca untuk menggali setiap sub judul cerita. Persis seperti prasangka awal minor Adong pada pecandu narkoba. Juga, mungkin pelabelan kebanyakan orang: yang anggap pemakai/pencandu narkoba adalah penjahat. Pelaku kriminal. Dan, label negatif lainnya.

Itu juga yang dialami Zaini M Yahya yang diceritakan Adong. Niat baiknya memerdekan orang dari narkoba, ditolak berkali-kali. Kontrakan untuk “Rumah Ajaib” terusik. Diusir warga yang tidak menerima: ada pencandu narkoba direhabilitasi di rumah itu. Dalihnya satu, pemakai narkoba akan berpengaruh negatif pada lingkungan sekitar. Penghakiman tanpa dasar.

Adong seperti menginsyafi prasangkanya. Lewat pena dan nalar jurnalistiknya, ia gali pengetahuan dan paradigma baru. Tak selalu, pengguna narkoba itu penjahat dan pelaku kriminal. Banyak jutaan remaja, pelajar SD, SMP, SMA/sederajat, juga pekerja profesi yang terjerat sebagai korban. Semua diurainya dengan sentuhan yang menyentuh rasa kemanusiaan. Lengkap dengan data statistik kasus, korban, dan peredaran narkoba di Kota Katulistiwa.

Yang pasti, Adong yang terilhami kegigihan Zaini M Yahya dan seluruh aktivis anti narkoba: semua korban itu butuh pertolongan. Seperti misi besar “Rumah Ajaib”, menyelematkan masa depan anak bangsa dari jeratan laknat narkoba.

Misi penyelamatan itu, bukan dengan menjauhkan mereka. Atau menghukum mereka dengan jeruji besi. Namun, rehabilitasi dengan pendekatan persahabatan, seperti yang dilakukan Rumah Ajaib dengan beragam programnya.

Akhirnya saya juga tahu, kenapa sahabat saya Husni Mubarok yang memposting nukilan kata-kata dari novel Puzzo pada status WhatsApp-nya. Lalu, memberi hadiah kecil kepada saya buku, “Rumah Ajaib” di hari kemerdekaan.

“Persahabatan adalah segalanya. Persahabatan melebihi bakat. Persahabatan setara dengan keluarga. Melebihi pemerintah. Jangan pernah melupakannya. Jika sudah membangun dinding persahabatan, kau tidak perlu meminta bantuanku,” Don Vito Carleon, The Godfather.

Selamat membaca “Rumah Ajaib”. Sampaikan pesan persahabatan anak bangsa, yang ditulis Adong Eko: mereka (korban narkoba) adalah orang-orang yang membutuhkan dukungan untuk terbebas dari rasa candu. Semoga!

Penulis: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten