Harga 145 Komoditas Naik

0
782 views

Daya Beli Masyarakat Pulih

SERANG – Setelah dua bulan Banten mengalami deflasi, pada Oktober lalu Tanah Jawara ini mengalami inflasi sebesar 0,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,23. Inflasi itu terjadi karena ada kenaikan harga di 145 komoditas. Namun, terjadinya inflasi juga dapat diartikan bahwa daya beli masyarakat Banten kembali pulih untuk berbelanja.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Adhi Wiriana. “Ada kenaikan harga. Bisa juga berarti daya beli masyarakat mulai pulih untuk belanja,” ujar Adhi, Senin (2/11).

Ia memperkirakan, kenaikan harga terjadi karena banyaknya masyarakat yang berbelanja sehingga persediaan barang menipis. Pada Oktober kemarin, sebanyak 231 komoditas mengalami perubahan harga, yakni 145 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 86 komoditas mengalami penurunan harga.

Adhi mengungkapkan, salah satu yang mengalami kenaikan adalah tarif check up kesehatan yang naik 9,55 persen. Kenaikan tarif check up bukan karena banyaknya permintaan masyarakat. “Mungkin karena pandemi. Obat-obat atau fasilitas kesehatan termasuk tenaga kesehatan menjadi terbatas, jadi tarifnya naik,” tuturnya.

Selain tarif check up kesehatan, ia mengatakan, ada juga harga komoditas lain yang mengalami kenaikan. Yakni cabe merah naik 28,55 persen dengan andil terhadap inflasi 0,07; bawang merah naik 12,83 persen dengan andil 0,05; kentang naik 14,03 persen dengan andil 0,02; minyak goreng naik 2,34 persen; bawang putih naik 4,87 persen; dan kopi bubuk naik 1,65 persen. Meskipun begitu, lanjutnya, ada juga komoditas yang turun harganya seperti telur ayam ras 6,35 persen, udang basah 3,15 persen, dan ikan kembung 2,11 persen.

Berdasarkan data BPS, inflasi tertinggi terjadi di Kota Cilegon sebesar 0,24 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 106,42. Diikuti oleh Kota Tangerang sebesar 0,10 persen dengan IHK sebesar 104,72 dan Kota Serang sebesar 0,03 persen dengan IHK sebesar 106,98.

Kata dia, dengan menghadapi musim hujan ini maka pemerintah perlu mewaspadai potensi bencana yang juga akan menyengsarakan rakyat. “Maka harus dijaga pasokan komoditas pangan agar tidak terjadi kerawanan pangan,” tuturnya. (nna/air)