Harga Gabah Kering Panen Makin Anjlok

Sejumlah petani mengangkut gabah kering panen dari area pertanian ke mobil pikap di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Selasa (28/4).

PANDEGLANG – Keberadaan Bulog Subdivre Pandeglang-Lebak dipertanyakan. Hal itu lantaran harga jual gabah kering panen (GKP) saat ini malah semakin anjlok, hingga Rp360 ribu per kwintal, dibeli oleh para tengkulak dari luar daerah. 

Sekretaris Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Pandeglang, Mohamad Nasir mengaku, banyak menerima pengaduan dari petani dan pengusaha beras dari mitra Bulog Subdivre mengenai hal anjloknya harga GKP. Soalnya, GKP milik petani sudah tidak ditampung Bulog Subdivre. Begitu pun beras yang tidak ditampung mitra Bulog. “Makanya wajar jika harga gabah di petani anjlok, kasihan petani. Kita suruh mereka (petani-red) produksi-produksi, tetapi hasilnya tidak dikelola,” keluh Nasir saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Atas anjloknya harga GKP, kata Nasir, para petani menjerit. Kondisi serupa juga dirasakan Kelompok Usaha Tani, dimana ada 600 RMU (Rice Milling Unit)  yang tidak beroperasi akibat tidak ditampungnya beras oleh Bulog. “Sekarang Bulog hanya menampung GKS (gabah kering simpan) dengan kadar air 14 persen. Harganya Rp530 per kwintal. Sementara para mitra saat ini tidak ada yang transaksi, karena harganya terlalu rendah,” kesalnya.

Menurut Nasir, keberadaan Bulog Subdivre Pandeglang-Lebak tidak hadir di Pandeglang untuk mengendalikan harga gabah petani. Di sisi lain, harga jual gabah di pasaran semakin anjlok dipermainkan para tengkulak. “Harusnya pemerintah, khususnya Bulog hadir mengendalikan harga gabah petani. Kita kan punya tujuan bagaimana petani bisa sejahtera,” ujarnya.

Sementara itu, Johari, petani asal Kecamatan Patia ini mengaku, kecewa dengan tidak hadirnya pemerintah dalam mengendalikan harga gabah petani. “Padi sawah punya Abah ini saat disurvei petugas pertanian masuk kategori kualitas benih. Ternyata, enggak dibeli sama perusahaan yang kerja sama dengan pemerintah pusat. Mau dijual ke tengkulak, harganya terlalu murah,” keluhnya.

Mantan Ketua MUI Kecamatan Patia itu pun menilai, kondisi petani saat ini serba salah. Ditekan dengan keadaan harus menjual gabah meskipun dengan harga murah. “Karena saat ini petani sudah harus siap-siap menanam kembali, sementara untuk menanam kan butuh modal. Modal menggarap sawah sebagian besar dari hasil jual gabah,” terangnya. 

Dihubungi melalui telepon seluler, Kepala Bulog Subdivre Pandeglang-Lebak, Meitha Novariani menyarankan petani menjual GKP ke mitra Bulog untuk diolah menjadi kering giling. “Nanti gabah kami beli yang kering giling sesuai ketentuan pemerintah,” jelasnya. (her/zis)