Hari Ini, Terdakwa RAL Hadapi Tuntutan

Sidang Lanjutan Pembunuhan Eno Parihah

Sidang Eno
Wartawan menunggu di luar ruang sidang kasus pembunuhan Eno Parihah di PN Tangerang. (Foto: Hendra Saputra)

TANGERANG – Sidang lanjutan kasus pemerkosaan disertai pembunuhan Eno Parihah (18), karyawati PT Polyta Global Mandiri, dengan terdakwa Rahmat Alim atau RAL (15) kembali digelar di PN Tangerang, Kamis (9/6).

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim RA Suharni itu mengagendakan mendengarkan keterangan saksi yang meringankan dari kubu terdakwa. Kuasa hukum RAL, Alfan Sari mengatakan, saksi yang dihadirkan sebanyak empat orang.

Mereka di antaranya Aping Ijang selaku Kepala SMP El Marjukiyah, tempat RAL bersekolah, Ahmad Hafiz guru bahasa Inggris dan dua teman sekelas RAL, yakni Opi dan Husnul Khatimah.

“Hari ini (kemarin-red), kami hadirkan empat saksi yang meringankan terdakwa,” ujar Alfan Sari usai sidang sesi pertama diskors oleh majelis hakim, kemarin.

Menurut Alfan, keempat saksi ini dihadirkan untuk mementahkan keterangan saksi, Yahya, dari jaksa penuntut umum (JPU) pada sidang Rabu (8/6) lalu, yang menyatakan pernah melihat RAL membawa sepeda motor dengan membonceng korban.

Dalam sidang tertutup itu, keempat saksi meragukan kebenaran bahwa RAL terlibat dalam pembunuhan Eno. Usai persidangan Opi, teman sekelas RAL, menuturkan bahwa terdakwa tidak bisa membawa sepeda motor.

“Kalau berangkat ke sekolah, Alim (RAL-red) itu setiap hari diantar jemput sama bapaknya. Kalau saya, seminggu dua kali mengantar Alim karena lebih banyak bapaknya,” ungkap Opi.

Menurut Opi, terdakwa merupakan siswa yang berprestasi di sekolah. Buktinya, kata Opi, pada kelulusan sekolah tahun ini RAL masuk lima besar lulusan terbaik.

“Dia pernah bilang sama saya mau nerusin sekolah ke pondok pesantren,” tambah Opi. Sementara, Husnul Khatimah yang juga teman sekelas RAL, mengaku bahwa terdakwa merupakan sosok yang pendiam. Perlakuan RAL terhadap teman perempuannya di sekolah sopan.

“Dia baik, sama perempuan cuek, biasa saja, enggak kayak cowok yang lain. Dia orangnya sopan sama perempuan. Makanya, sampai saat ini saya enggak yakin kalau Alim melakukan itu (pembunuhan-red),” ujar Husnul.

Nahjudin, ayah RAL, mengaku bahwa buah hatinya yang masih duduk di bangku SMP itu merasa tertekan. Lantaran itu, semua tuduhan kepada anaknya, terkesan dipaksa untuk mengakui perbuatannya.

Kata dia, ketika diperiksa petugas polisi karena dia memiliki ponsel Eno, nyaris sekujur tubuh RAL babak belur. “Saya yakin benar, anak saya itu anak baik. Pas malam kejadian itu saya ingat, dia tidur bersama saya, di samping saya,“ ungkap Nahjudin.

Kuasa hukum RAL lainnya, Slamat Tambunan, meminta kepada majelis hakim dan JPU untuk menghadirkan Dimas yang disebut-sebut saksi mahkota Rahmad Arifin, merupakan orang yang turut berada di lokasi saat malam kejadian.

“Sekarang itu sebaiknya petugas penyidik mencari, siapa itu Dimas. Dari mana klien kami mendapat ponsel itu, kan dari Dimas beli Rp10 ribu,” ujarnya. Selama proses penyidikan oleh kepolisian, kata Slamat, Dimas tidak pernah tersentuh. Padahal, ia yakin bahwa Dimas punya kaitan dengan korban.

“Sampai sekarang kita tidak tahu apakah Dimas sudah pernah diperiksa atau belum. Makanya, Dimas perlu dihadirkan dalam persidangan agar proses pengadilan berjalan secara fair,” katanya lagi.

Terpisah, Kasi Pidum Andri Wiranofa memastikan bahwa semua keterangan yang diberikan empat orang saksi merupakan argumentasi dalam persidangan.

Keterangan saksi-saksi, kata Andri, tidak akan bisa mengalahkan dengan fakta-fakta persidangan. Terlebih, JPU sudah memiliki dua alat bukti yang diyakini bisa menjerat terdakwa.

Kedua alat bukti itu, yakni berupa air liur di tubuh korban yang dari hasil Puslabfor Mabes Polri indentik dengan air liur RAL. Selanjutnya, terdapat sidik jari terdakwa yang menempel pada dinding kamar dan tubuh korban.

“Kita masih punya satu bukti pamungkas. Nanti akan kami sampaikan di persidangan besok (hari ini-red) karena dengan satu alat bukti ini (bukti-red) terdakwa tidak akan bisa mengelak lagi,” ujar Andri.

Meski begitu, Andri enggan membeberkan alat bukti. Menurutnya, alat bukti tersebut akan ditampilkan dalam sidang lanjutan dengan agenda penyampaian tuntutan yang akan digelar hari ini, Jumat (10/6).

“Silakan saja mereka beralibi, tapi harus didukung oleh alat bukti. Jaksa sudah cukup yakin, semua alat bukti sudah digelontorkan dalam persidangan. Tinggal satu alat bukti pamungkas yang akan ditunjukkan pada sidang tuntutan besok (hari ini-red),” katanya.

Akan tetapi, Andri belum bisa menyebut pasal apa saja yang akan dituduhkan kepada terdakwa dalam tuntutan yang akan disampaikan. “Dari sidang Selasa (7/6), Rabu (8/6), Kamis (9/6), kita rangkum jadi satu, pasal apa yang dituduhkan nanti kita diskusikan sama jaksanya. Pokoknya, si anak (RAL-red) akan disangkakan, dituduhkan sesuai dengan perbuatannya,” tandasnya.

Pantauan wartawan, sidang terdakwa RAL kemarin berjalan lancar. Tidak ada aksi massa saat berlangsungnya sidang. Bahkan, sidang ketiga tersebut berlangsung lebih cepat dari jadwal sidang sebelumnya. Sidang kemarin dimulai sejak pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. (Hendra Saputra/Radar Banten)