Harta Berlimpah dari Limbah

Limbah tidak lagi jadi barang sampah. Sebaliknya, limbah menghasilkan harta berlimpah. Banyak orang yang sukses dengan menggeluti bisnis sampah.

—-

KEBERADAAN sejumlah pabrik di Banten membawa berkah tersendiri bagi para pemain limbah. Ribuan pabrik itu tersebar di Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Cilegon.

Di Kota Serang, selaku ibukota Provinsi Banten, bisnis limbah ini juga menjamur. Di Kelurahan ‎Kemanisan, Kecamatan Curug, Kota Serang, sebagian besar warga masih menggantungkan hidupnya dari berbisnis sampah.

Mayoritas pebisnis limbah lokal hanya menjadi pengepul limbah. Hanya sedikit yang menggeluti bisnis limbah sebagai pengolah dari sampah pabrik yang didaur ulang. Limbah plastik, kertas, dan kardus masi‎h menjadi komoditas limbah yang paling banyak diincar. Selain limbahnya melimpah, kedua jenis limbah ini paling mudah didapat dan diolah.

Sampah plastik menjadi buruan utama para pebisnis limbah, meskipun nilai jualnya tidak seberapa dibandingkan limbah jenis lainnya. Namun, plastik yang menjadi bahan pembungkus yang paling banyak digunakan masyarakat seakan tidak pernah ada matinya mendatangkan berkah bagi pengusaha limbah.

Meski semangat go green terus berkumandang dan banyak yang mencoba menghindarinya, penggunaan plastik hingga kini belum menurun. Itulah sebabnya bisnis penggilingan plastik tetap menggelinding, baik di Tangerang maupun di luar Banten seperti Depok. Sampah plastik yang dikumpulkan pengepul, nantinya digiling menjadi cacahan plastik. Kemudian, hasilnya dijual ke pabrik plastik. Di pabrik, cacahan itu diolah kembali menjadi plastik baru.

Tak semua sampah plastik bisa didaur ulang dengan aman. Jenis plastik yang tidak bisa didaur ulang antara lain jenis polyvinyl chloride (PVC), polystyrene (PS), styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene sturene (ABS), polycarbonate (PC), dan nilon.

Pengepul sampah biasanya hanya menerima tiga jenis sampah plastik, yaitu jenis polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan low density polyethylene (LDPE). PP biasa dijumpai pada kemasan cup plastik. Sementara, PET dan LDPE berasal dari botol plastik dan botol infus. Untuk sampah kertas atau kardus, bisa diolah menjadi kerajinan tangan. Sudah banyak perajin yang pandai menyulap sampah kertas yang tidak berguna menjadi karya yang bernilai ekonomi cukup tinggi.

Berbeda dengan pengusaha sampah di kawasan Serang Timur ‎yang mengandalkan limbah dari pabrik, di Kecamatan Curug, Kota Serang, tepatnya di sepanjang Jalan Raya Serang-Pandeglang, pebisnis limbah di sana mengandalkan sampah rumah tangga. Tidak heran jika terdapat belasan gudang rongsokan limbah yang berada di pinggir jalan. Memang tidak ada plang atau tulisan yang menyebutkan bahwa di sana gudang rongsokan, tapi itu bisa dilihat secara langsung dimana gunungan sampah menumpuk di sebuah gudang.

Di Kelurahan Kemanisan, ‎Kecamatan Curug, sedikitnya ada lima gudang rongsokan skala besar. Sementara, puluhan lainnya hanya berupa lapak-lapak kecil.

Salah satu pengepul limbah terbesar di Kemanisan adalah Kusnaedi (26). Pemuda yang sempat mencicipi bangku kuliah selama satu tahun di STIE Banten ini sudah lima tahun menjadi pengepul sampah yang cukup terkenal di Kelurahan Kemanisan.

Ditemui di gudang rongsokan miliknya, Kusnaedi sibuk dengan 20 orang anak buah yang bekerja padanya. Kepada Radar Banten, Kusnaedi mengaku memiliki pekerja tetap sebanyak 20 orang dan pekerja lapangan 80 orang. Semuanya warga Kelurahan Kemanisan yang sama-sama mengais rezeki dari sampah.

“Saya baru lima tahun jadi pebisnis sampah karena paman saya memilih untuk membuka gudang rongsokan baru di kampung sebelah. Tapi, saya sudah menggeluti usaha sampah ini sejak kelas satu SD ikut paman yang sudah puluhan tahun jadi pengepul sampah sebelum Banten jadi provinsi,”‎ katanya.

Kusnaedi menuturkan, sejak dipercaya pamannya menjadi bos gudang rongsokan pada 2012, ia hanya modal nekad. Sementara, menjadi pengepul membutuhkan modal awal yang sangat besar. “Saya mulai pinjam modal ke bank sebesar Rp40 juta untuk membeli sampah dari warga dan para pemulung. Modal itu untuk sewa tempat dan membeli kendaraan operasional,” ungkapnya.

Dengan modal pas-pasan, selama tiga tahun Kusnaedi perlahan mulai meraih sukses. Terbukti bisa mempekerjakan 20 orang warga dan setiap bulan harus memberikan gaji Rp1,5 hingga Rp2,5 juta kepada setiap anak buahnya yang dibayarkan setiap satu minggu sekali. Untuk pekerja yang tidak tetap, mereka hanya dipinjami modal untuk mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya. Modal yang dipinjam anak buahnya itu di bawah Rp1 juta dan dikembalikan rutin setiap hari tanpa bunga, yang penting setiap mau bayar harus membawa sampah ke gudang rongsokan miliknya.

Selain 100 orang anak buahnya tersebut, Kusnaedi memperlebar usaha melalui kemitraan dengan sepuluh orang pemilik lapak sampah yang tersebar di empat kabupaten kota. Setiap lapak biasa dipinjami modal olehnya Rp5 juta hingga Rp10 juta per minggu. “Saya kan pengepul, sementara yang mencari, mengumpulkan, dan membeli sampah adalah lapak-lapak itu. Mereka ada di Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang dan Kota Serang,” jelasnya.

Berkat kegigihan, Kusnaedi mulai dipercaya oleh warga sekitar sehingga tidak sedikit warga Kelurahan Kemanisan menjual sampahnya ke gudang rongsok miliknya. “Kami di sini semua saudara. Meskipun gudang rongsok di sini banyak, kami tidak saling menjatuhkan. Kami tetap kompak terutama soal harga sehingga siapa pun yang ingin menjual sampahnya tidak perlu bingung sebab semua pengepul memberikan harga yang sama sesuai harga pabrik,” tuturnya.

Terkait omzet, Kusnaedi mengaku bersyukur karena omzetnya setiap bulan sampai Rp50 juta hingga Rp60 juta. Keuntungan per minggu tidak pernah kurang dari Rp10 juta. Per hari ia bisa mengumpulkan lima hingga sepuluh ton sampah plastik, kertas, dan logam. Setelah dipilah baru dijual ke pabrik. Saat ini gudang sampah miliknya memiliki enam kendaraan operasional, satu truk fuso dan lima mobil losbak.

Sampah yang sudah kumpul di gudang, kemudian dijual ke sejumlah pabrik di kawasan Kragilan, Cikande, dan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Menurut Kusnaedi, rongsokan jenis besi dijual ke Cikande dan alumunium dikirim ke pabrik di Tangerang. Sementara sampah plastik, kertas, dan kardus di jual di Pabrik yang ada di Kragilan.

Di tempat pengepul, harga sampah bergantung jenisnya. Untuk sampah logam seperti alumunium, tembaga, besi harganya lumayan tinggi. Tembaga satu kilonya bisa dihargai Rp53 ribu. Untuk logam lainnya, di bawah harga tembaga. Sementara sampah plastik, kertas, dan kardus rata-rata dihargai Rp2.000 per kilogram. “Harganya tidak tetap, bergantung nilai tukar rupiah terhadap dolar,” katanya.

Para pengepul seperti Kusnaedi tidak mendaur ulang limbah tersebut. Dia hanya menampung rongsokan dari pemulung atau pengepul kecil lainnya. Alasannya, mesin pengolah limbah harganya cukup tinggi.‎ Untuk mesin giling plastik saja, harga satu unitnya sekitar Rp35 juta. Harga tersebut belum termasuk mesin penggerak, biaya BBM, perawatan, dan suku cadangnya.

Pun halnya di Kota Cilegon, kebanyakan pengusaha limbah lokal hanya menjadi pengepul. Yadi, salah seorang pemilik lapak rongsokan di Kecamatan Cilegon, mengaku hanya mengumpulkan limbah dari para pemilik lapak atau pengepul kecil. Setelah limbah dipilah jenisnya, baru dijual kembali ke pabrik, baik yang ada di Cilegon maupun di Serang. “Kalau ada modal, saya juga ingin membeli mesin penggiling plastik sehingga bisa menyerap tenaga kerja,” ungkapnya. (Deni S/Radar Banten)