Harta Warisan Bikin Didin Lupa Daratan

MENDADAK kaya tanpa proses merintis usaha juga bahaya, bisa-bisa malah besar kepala dan bertindak semaunya. Berharap bisa hidup sejahtera, yang ada malah sengsara. Seperti dialami kisah Didin (56) dan Marni (54), keduanya nama samaran.

Berprofesi sebagai penjual es cendol keliling, Didin mendadak kaya karena warisan orangtua. Sang ayah yang awalnya tinggal jauh di luar daerah, memberikan harta kepada anak lelaki satu-satunya yang sudah lama tidak berjumpa. Bagai mimpi kejatuhan durian montong, Didin mewarisi harta peninggalan ayahnya.

Banyak harta membuat kehidupannya berubah 180 derajat, gerobak es cendol yang selama ini menemani, dibuang bagai barang tak berarti. Ia mengganti dengan mobil dan kendaraan sebagai aksesoris kehidupan. Tak tanggung-tanggung, rumahnya pun dibongkar, diganti dengan bangunan baru yang lebih mewah.

Mengalami kehidupan sebagai orang kaya, tentu membuat Marni dan anaknya bahagia. Hidup serasa lebih mudah, yang tadinya mau makan sulit sampai harus berutang, kini semua tersedia bagai makanan para raja. Utang dilunasi, mereka pun dihargai sebagai orang terpandang.

Sawah, tanah, dan kebun menjadi tabungan yang mungkin tak habis-habis tujuh turunan, membuat Didin hidup sekehendak hatinya. Parahnya, lantaran tak merasakan bagaimana jerih payah mengumpulkan harta begitu banyaknya, ia seenaknya saja membuang-buang uang hanya untuk keperluan yang tak terlalu dibutuhkan. Maksudnya bagaimana, Teh?

“Ya, dia mengajak teman-temannya makan-makan, beli inilah, beli itulah. Uh, pokoknya mah apa yang dia mau, pasti langsung dibeli,” kata Marni kepada Radar Banten.

Seiring berjalannya waktu, ibarat gula dikerubungi semut, semakin banyak orang yang berteman dengan Didin. Setiap hari, ada saja orang bertamu ke rumahnya. Ada yang sekadar silaturahmi, ada juga yang meminjam uang. Hebatnya, Didin bukanlah orang sombong, meski kini ia jadi orang kaya, teman lamanya tetap ia sambut gembira. Subhanallah.

Tapi, ya namanya juga manusia, ada yang baik ada juga yang jahat. Dari banyaknya teman yang datang, ada yang mencoba mengajak Didin masuk ke dalam dunia kelam perselingkuhan. Berawal dengan dikenalkannya seorang wanita, Didin diam-diam menjalin asmara. Tentunya tanpa sepengetahuan sang istri tercinta. Waduh, memang waktu itu Teh Marni enggak curiga?

“Saya sih enggak pernah ikut campur urusan dia, Kang. Siapa-siapa saja temannya yang datang pun saya enggak kenal,” tutur Marni.

Hingga suatu hari, Didin menjadi sering keluyuran, bahkan terkadang sampai tak pulang. Mengaku ada urusan pekerjaan, ia malah main ke rumah selingkuhan. Anehnya, setiap kali ada di rumah, Didin mampu bersikap biasa seolah tak ada yang ditutupinya. Hal itu membuat Marni tak pernah curiga.

Namun apalah daya, namanya juga hidup di salah satu kampung di Cilegon, jika ada desas-desus tak sedap pasti akan mudah menyebar. Kebiasaan Didin yang kerap mengunjungi rumah seorang wanita di kampung sebelah membuat orang-orang menaruh curiga.

Muncullah gosip perselingkuhan Didin hingga akhirnya sampai ke telinga Marni. Parahnya, ketika sang istri menegur atas kebenaran omongan warga, seolah tak merasa berdosa, ia mengakuinya. Terang saja Marni langsung emosi dibuatnya. Keributan terjadi bak perang dunia kedua. Wah-wah, parah juga tuh, Kang Didin.

“Dengan santainya dia ngomong mau menikah lagi, Kang. Mentang-mentang sekarang banyak duit, kelakuannya kayak orang gedean saja. Lupa kalau dulu pernah susah,” tukas Marni emosi.

Parahnya, meski Marni mengamuk dan tak merestui, Didin tetap tak mau membatalkan keinginan menikah lagi. Mempersiapkan segala keperluan dengan dibantu orang-orang suruhan, Didin bersiap menuju pelaminan untuk kedua kalinya. Marni tak berdaya, hanya tangis dan sesal yang ia terima.

Tak disangka, hidup sejahtera nyatanya tak membuat bahagia, yang ada justru sengsara. Didin menikahi wanita muda anak kampung sebelah, membuat luka di hati Marni yang tak rela dimadu. Namun, sang suami tak peduli, seolah ingin membahagiakan sang istri muda, ia membangun rumah yang tak jauh dari rumahnya. Astaga.

“Itu tuh tanah yang dia janjikan bakal jadi milik saya, tapi malah dibikin rumah buat istri mudanya. Duh, Kang, rasanya waktu itu ingin minta cerai,” tukas Marni emosi. Oalah, ini sih namanya pengkhianatan jatah warisan.

Namun sebelum Marni bertindak melawan ketidakadilan yang ia rasakan, tak disangka, sang buah hati yang mulai tumbuh dewasa berontak melakukan aksi yang menegangkan. Entah dihasut oleh siapa, putri kesayangannya mengancam akan bunuh diri kalau Didin tidak menceraikan istri mudanya. Wih, seram amat. Ini serius, Teh?

“Benaran, Kang. Dia bawa-bawa pisau ditempelkan ke tangan, tepat di urat nadi. Wuh, waktu itu sampai ramai orang di depan rumah,” terang Marni.

Malu akan aksi sang buah hati, Didin tak bisa berbuat sesuatu. Daripada kehilangan putri kesayangan dan disalahkan karena perselingkuhan, hari itu juga ia menceraikan istri mudanya. Didin langsung memeluk sang buah hati tercinta sambil melempar pisau di tangannya, ia membawanya pulang dan meminta maaf kepada Marni.

Kejadian itu membuat keluarga murka, bagaimana pun juga, mereka ikut terkena imbasnya. Dianggap telah mencoreng nama baik keluarga, Didin sempat disidang dan dimarahi kakak-kakaknya. Sejak saat itu ia berjanji tidak mengulangi perbuatan perselingkuhan lagi.

Kini, Didin fokus menjalani hidupnya bersama Marni dengan bekerja sebagai penggarap sawah dan kebun yang masih tersisa. Mereka memulai semuanya dari bawah, menjadikan peristiwa kemarin sebagai pelajaran hidup yang tidak akan terjadi lagi. Begitu kata Marni menceritakan ungkapan sang suami.

Syukurlah kalau Kang Didin sudah berubah menjadi lebih baik, semoga langgeng dan selalu sejahtera. Amin. (Daru-Zetizen/RBG)