Harumnya Hio yang Kian Mewangi di Tahun Monyet Api

Imlek
Karyawan Ko Aseng menjemur susunan hio yang telah diwarnai, Kamis (4/2/2016). (Foto: Togar Harahap)

Senin (8/2/2016) nanti, setengah juta warga keturunan Tionghoa di Tangerang Raya merayakan tahun baru Imlek. Ya, ritual tahunan ini tak bisa lepas dari berbagai pernak pernik. Mulai dari lampion, hio, lilin, dan bermacam jenis kuliner. Dalam upacara ataupun ritual keagamaan masyarakat keturunan Tionghoa, lilin dan hio (dupa) termasuk perlengkapan ibadah yang tak bisa dilepaskan.

TOGAR HARAHAP – TELUKNAGA

Goresan huruf Pinyin (aksara China-red) menghiasi gerbang rumah bergaya kolonial itu. Di atapnya, siluet patung tanah liat berbentuk naga meliuk bertengger. Dari jarak 100 meter dari sana, bau harum menyengat hidung. Bau tersebut berasal dari pabrik Hio seluas kira-kira 1000 meter persegi di balik rumah tersebut.

Pabrik yang berada di kawasan Kampung Melayu Barat, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, ini cukup sepi. Suasana hening ini membuat bulu kuduk merinding. Hanya terdengar suara bambu dipotong dan penyemprot warna hio. Di bilik sana, seorang pegawai yang tengah melakukan penyemprotan pewangi kepada hio. Penyemprotan ini termasuk tahap-tahap akhir sebelumnya dikemas.

Pemiliknya bernama Ko Aseng, seorang peranakan China Benteng (Ciben). Siang kemarin, terlihat sekitar 10 pegawai terlihat sibuk mencelupkan hio ke wadah pewarna. Gerak mereka gesit. Bak seorang profesional, mereka memilki perannya masing-masing. Mulai dari percetakan Hio, hingga pengepakan.

Ko Aseng (55) tinggal terpisah dengan pabriknya. Ia hanya datang, mengawasi dan mengontrol pasokan hio. Kepada Radar Banten, dalam sehari pabrik ini mampu memproduksi hio mencapai 20 ribu buah. Layaknya menanam padi, waktu produksi pun bergantung pada cuaca. “Paling lama kira-kira 1 minggu mulai dari cetak hingga benar-benar kering,” katanya.

Proses produksi hio cukup mudah. Bahannya adalah serbuk kayu jati yang dicampur dengan tepung sagu (kanji). Setelah dicampur, bahan lalu diulen, baik dengan cara manual yaitu diinjak-injak ataupun dengan menggunakan mesin agar menghasilkan produk berkualitas yang tak mudah pecah.

Bau uang semakin menyengat. Bayangkan, dalam sehari, omzet pabrik yang masih “Home Industry” ini sekitar Rp14 juta. “Harganya bervariasi. Tapi untuk yang standar kira-kira Rp2 ribu untuk 3 buah,” ujar Aseng.

Dijelaskan dia, hio ini dibuat dari bubuk gergaji dan tepung serta alusan kayu jati yang diaduk-aduk hingga merata. Setelah itu, adonan ditempel ke bambu dan dikeringkan serta disemprot pengharum cendana atau gaharu. ”Sayangnya, gaharu sekarang sulit ditemui,” katanya.

Ia menceritakan bahwa hio dipercaya sebagai media penghubung komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta. Doa semakin didengar bila hio harum baunya. “Hio dipakai agar doa mereka bisa sampai kepada Sang Pencipta, semakin harum semakin sampai,” terang Aseng.

Nama Ko Aseng sebenarnya adalah Ca Yuan. Dengan tangan terampilnya, pabrik ini telah beroperasi selama 10 tahun lebih. Saat merintis, Aseng hanya memproduksi 100 lilin dan 1000 dupa. Namun seiring perkembangannya, kini pesanan mencapai 10 ribu lebih.

Dikatakan dia, permintaan akan hio meningkat setiap tahunnya. Ia pun optimis, order tahun ini juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya karena bagi masyarakat Tionghoa, tahun monyet api dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri. “Kita hanya memproduksi 2 jenis hio yakni hio lingkar yang bentuknya melingkar-lingkar seperti obat nyamuk serta hio belimbing dengan bentuk bergerigi seperti buah belimbing,” ujar pria asal Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Berbicara mengenai usaha yang ditekuninya, Ko Aseng optimistis bisnisnya itu memiliki peluang potensial untuk dikembangkan. “Selama manusia membutuhkan komunikasi dengan Sang Pencipta, alat-alat persembahyangan seperti lilin dan hio akan tetap dibutuhkan sampai kapan pun,” pungkasnya. (*)