Hati-hati, di Pelabuhan Merak Beredar Makanan Berbahaya 

0
927 views
Petugas mengecek makanan berpewarna di Pelabuhan Merak.

CILEGON – Sebagai pusat arus mudik, pelabuhan menjadi sorotan. Tak terkecuali urusan makanan. Petgas gabungan terdiri dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, dan PT ASDP Indonesia Ferry melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait makanan di Pelabuhan Merak.

Petugas pada Rabu (21/6) mendatangi beberapa kios pedagang oleh-oleh dan mengambil beberapa sampel dari setiap kios. Sekira 30 sampel jajanan diuji coba. Petugas pun menemukan kerupuk berwarna cokelat yang mengandung boraks dan kerupuk berwarna merah jambu yang mengandung rodhamin B atau pewarna pakaian.

Direktorat Standardisasi Produk Pangan Tetty H Sihombing mengatakan, sidak yang dilakukan untuk mengurangi peredaran pangan yang mengandung pengawet dan membahayakan. “Target kami untuk penjual minimal mereka tahu barang yang mereka jual aman, begitu juga dengan pembeli,” katanya.

Selain itu, kedatangannya di Pelabuhan Merak untuk memastikan keamanan pangan bagi para pemudik yang akan menuju atau pun pulang dari Pelabuhan Bakauheni. “Kami ingin mereka (para pemudik-red) tetap memperhatikan kesehatan dan asupan makanan saat mudik,” katanya saat memantau sejumlah pedagang di Pelabuhan Merak.

Tetty menjelaskan, pedagang yang diketahui menjual makanan mengandung pengawet berbahaya akan dimintai keterangan perihal barang yang dijual. “Kami akan cari tahu apakah dia produksi sendiri atau tidak, nanti mereka juga akan kami berikan pembinaan agar menjual produk yang sudah pasti aman saja,” ungkapnya.

Kata Tety, di seluruh Indonesia pihaknya menyiapkan 34 pos POM untuk melakukan pemeriksaan pada penganan yang beredar saat arus mudik. “Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kesadaran masyarakat terbilang lebih tinggi. Konsumen tidak membeli penganan berbahaya hingga penjual juga tidak memproduksi lagi penganan tersebut,” ungkapnya.

Selain makanan yang mengandung bahan pengawet berbahaya, Tety juga memperhatikan peredaran makanan kemasan yang belum mendapat izin BPOM. Menurutnya, warga harus selektif dalam membeli makanan saat arus mudik dan disarankan untuk melakukan ‘cek klik’.

“Dari segi kemasan tidak boleh bolong, tidak boleh bocor dan kembung, dalam produk dijelaskan dan semuanya bisa dimengerti, ada izin edar BPOM, dan kedaluwarsanya juga,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon dr Arriadna mengatakan, selain izin edar yang dikeluarkan BPOM, Dinkes Cilegon juga mengelurakan izin produksi rumah tangga (PRT) untuk produk buatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Sebelum mengeluarkan PRT biasanya ada pengajuan dahulu, nanti kami lakukan pembinaan terus dan jika sudah lolos baru kami berikan PRT-nya,” ungkapnya.

Arriadna juga mengaku pihaknya terus berupaya memastikan kesehatan para pemudik di Palabuhan Merak melalui koordinasi dengan berbagai tenaga kesehatan. “Kami membuka posko kesehatan untuk para pemudik, jika pemudik merasa sakit atau bermasalah dengan kesehatan bisa diperiksa di situ,” ujarnya. (Alwan/RBG)