Hati-hati Peredaran Bumbu Dapur Campur Bahan Kimia Berbahaya!

Net. Bumbu dapur
Net. Bumbu dapur

LAMPUNG – Penemuan peredaran bumbu dapur bercampur bahan kimia di Bandarlampung membuat berbagai kalangan kaget. Banyak masyarakat mengaku tak menyadarinya. Termasuk pula Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

Hal ini diakui Kepala Bidang Sertifikasi dan Pelayanan Informasi Konsumen Hartadi di kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandarlampung. ’’Terakhir kami melakukan melakukan pengawasan pangan pada bahan bumbu dapur seperti merica tahun 2015. Hasilnya didapat dua sampel uji laboratorium.

“Yang pertama memenuhi syarat dan satunya tidak memenuhi syarat mikrobiologi angka kapang khamir yang melebihi ambang batas. Tetapi hal tersebut bukan berupa senyawa roket,” ujarnya, kemarin.

Dia menjelaskan, untuk kandungan senyawa roket pihaknya belum mendapat informasi. Namun yang pasti, adanya informasi terkait Lampung salah satu daerah tempat beredarnya bumbu dapur berbahaya tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel di lapangan.

Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. Dirinya menyarankan masyarakat lebih berhati-hati saat membeli bumbu dapur. Guna memastikan, pembeli dapat melihat ijin edar dari BBPOM yang didalamnya sudah menjamin bahan baku produk, tanggal kedaluarsa hingga kelayakan kemasan produk. Selanjutnya, jika membeli produk yang tidak berlabel sebagai konsumen bisa melihat dari warna, aroma dan rasa.

”Setelah uji laboratorium terkait senyawa roket secepatnya akan diberikan rilis terkait pembedaan secara fisik bagaimana bumbu dapur yang terkena bahan kimia berbahaya atau tidak,” tegasnya.

Pantauan Radar Lampung (Jawa Pos Group), dari dua pasar tradisional di Kota Bandarlampung yakni pasar Smep dan Tamin banyak pedagang yang mengaku belum tahu adanya bumbu dapur yang telah terkontaminasi bahan kimia berbahaya.

”Biasanya kalau bentuknya bagus kayak lada dan ketumbar saya kira ya memang bibitnya bagus, nggak pernah kepikiran kalau dicampur-campur,” ujar Suryani, seorang pedagang pasar Smep. (jpnn/RBOnline)